Tuesday, 14 April 2015

Good Bye



Good Bye




Title : Good Bye
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Jihyun [OC]
Support Cast : All member BTS and others
Genre : Hurt | Sad | Romance | Tragedy | Angst
Rate : NC+15
Lenght : TwoShot + Epilog
Scriptwritter : Fellicia Kim

***

‘Let he comes, Let he leaves.’

Love mustn’t be a perfect things.

-Good Bye-

***

Author’s POV

“YA!! Kim Jimoo.... kan sudah kubilang! Jangan cuci sepatuku!” gerutu gadis yang bernama Jihyun itu sambil menarik telinga namdongsaeng-nya. “Itu sepatu kain! Dan aku harus memakainya sekarang! Aisshhh!” geramnya.

Sementara adiknya? Ia hanya tertawa jahil sambil meraba telinganya yang sakit.

“Mwo? Kau ketawa!!” tanya Jihyun sembari mencubit pipi adiknya itu.

“Hahaha.... akhirnya nuna sudah sembuh total! Aku rindu makianmu, nuna!” seru anak laki-laki yang bernama Jimoo itu sambil memeluk kaki nuna-nya. Ya, memang sulit diduga, Jihyun menderita penyakit kanker darah beberapa minggu yang lalu. Memang saat itu adalah saat yang menegangkan bagi Jihyun. Namun, karena Tuhan berkehendak lain, Jihyun pun menjadi sembuh setelah menjalani beberapa pengobatan.

“Kim Jihyun! Apa yang kau lakukan pada Jimoo, eoh?” tanya seorang lelaki yang tak lain adalah oppa-nya, Seokjin.

“Oppa! Apa kau tak melihat sepatuku, eoh? Ini semua gara-gara—“

“Hyung! Jihyun nuna menarik telingaku dan mencubit pipiku!” ujar si kecil Jimoo sambil berlari kearah hyung-nya. “Sakit!” ujar Jimoo sambil menggembungkan kedua pipinya dan meraba telinganya yang sakit. Sesekali, ia melirik Jihyun dengan dengan nakal, tanpa terlihat oleh hyung-nya, Seokjin. Merasa geram, Jihyun membulatkan matanya kepada Jimoo.

“Sudahlah.... selalu saja bertengkar!” ujar Seokjin mendamaikan kedua adiknya yang sedang berselisih seraya menahan tawa.

“Tapi, gara-gara dia, aku tak bisa sekolah! Oppa, ini hari pertamaku di SMA!” ujar Jihyun yang masih kesal. Sekali-kali ia menghentakkan kakinya.

“Tapi, gara-gara nuna pipiku merah!” balas Jimoo tak mau kalah sambil mencibir nunanya itu.

“Ahh... kalian ini.... tenanglah! Jihyun, kau bisa memakai sepatumu yang lain, kan?” ujar Seokjin sambil membelai rambut adik perempuan satu-satunya itu.

“Tapi... aku tak mau sepatu putihku kotor!” ujar Jihyun tetap dalam pendiriannya. “Dan di sekolahku hanya memperbolehkan memakai sepatu berwarna hitam.”

“Lalu, apa yang akan kau perbuat? Semua telah terjadi...” ujar Seokjin yang masih memeluk Jimoo.

“Aishhh! Itu karenamu anak kecil!!! Lihatlah nanti! Sepulang sekolah aku tak akan membiarkanmu lepas! INGAT ITU!” ujar Jihyun dengan mukanya yang merah karena menahan amarahnya. Dengan segera ia meninggalkan oppa dan namdongsaeng-nya itu.

Sementara mereka berdua? Hanya tertawa.

 ***

Jihyun’s POV

“Baiklah! Jam pelajaran terakhir untuk kelas seni adalah dance part. Semua siswa jurusan kesenian harus mengetahui teknik dasar dance.” Ujar Han Seonsaeng-nim. Kami sebagai siswa hanya mengangguk paham.

“Namun, untuk mempererat hubangan kalian dengan senior kalian yang berada di kelas ini, kuharap kalian bisa berinteraksi dengan senior kalian yang akan mengejari kalian dance beberapa hari kedepan.” Ujar Han seonsaeng-nim sambil membuka pintu, dan mendatangkan seorang lelaki.

“Aku akan tinggalkan siswaku bersama kalian.” Ujar Han seongsaem-nim kepada seorang lelaki.

“Baiklah. Perkenalkan, aku Jung Hoseok, senior yang akan mengajarkan kalian dance beberapa hari kedepan.” Ujarnya sambil menebar senyum. “Langsung saja. Aku akan memeragakan gerakannnya.

“Ne.” Ujar semua siswa.

Aku menyerah!

Dance itu tenyata sulit!

Yups! Meskipun Hoseok sunbae memeragakan gerakannya dengan pelan, aku masih belum bisa menirunya dengan benar!

Dengan hati-hati kucoba untuk melakukannya sekali lagi, namun....

Aku jatuh...

‘Arrghhh sakit!’ batinku sambil bangkit dari posisiku yang semula, terjatuh.

“Baiklah. Sampai di sini dulu latihan kita hari ini. Kuharap kalian bisa melakukannya lebih baik di hari berikutnya.” Ujar Hoseok sunbae di depan ruangan sambil menunduk singkat. Tak beberapa lama kemudianpun, ia berlalu pergi.

Seluruh siswa riang, karena jam hari ini sudah habis, tepat pukul 6 sore. Dengan segera, mereka mengambil tas di belakang ruangan, dan berlalu pergi.

Sementara aku?

Aku tak pergi. Aku akan berlatih dance sampai aku bisa!

Perlahan kulakukan gerakan tadi. Memang sangat sulit. Dan akhirnya...

Jatuh.

Kucoba melakukannya sekali lagi.

Tetap jatuh.

Sekali lagi, kuulang gerakan itu. Dan...

Aku jatuh. Tapi, tak mengenai lantai?

Detik kemudian, aku sadar tubuhku sedang di topang oleh seseorang. Dengan segera, aku pun berdiri.

“Ahh... mianhae... aku—“

“Tak apa.” Ujarnya lembut, memotong ucapanku. “Apa kau siswa baru di sini?” tanyanya kepadaku. Aku mengangguk. “Oh.. pantas....”

“Kenapa?”

“Ahh... bukan...” ujarnya mengelak. “Bukankah ini sudah waktunya pulang? Kenapa kau tak pulang?” tanyanya sekali lagi.

“Aku hanya ingin berlatih saja.”

“Baiklah... kalau begitu. Apa kau kesulitan?” tanyanya tak henti.

“Sebenarnya ia. Sunbae itu terlalu cepat—“

“Baiklah aku akan mengajarimu.” Potongnya.

DEG!

***

Jimin’s POV

Okay, kali ini aku tak terima!

Bagaimana bisa aku terima, eomma selalu menjodohkanku dengan gadis sok cantik yang bernama Sekyung itu. Aku muak dengan permainan mereka berdua. Hei! Bukankah lelaki itu yang berhak memilih? Tapi, mengapa sekarang lelaki yang dipilih?

Arrggghhh!

Eomma ingin sekali aku bertunangan dengannya. Lalu menikah. Berbulan madu di Paris. Lalu kami memiliki anak lucu yang bernama Minkyung.

Dan bahkan sekarang aku masih kelas 3 SMA.

Dan ingat! Gara-gara membicarakan perjodohan konyol bersama gadis konyol itu aku terpaksa bolos hari ini!

Ouucchh! Membayangkan bertunangan saja membuatku menelan ludah, apalagi harus tinggal satu atap bahkan satu ranjang kelak! Ditambah lagi memiliki anak dengannya!

Tidak... tidak mungkin! Aku tak akan tunangan ataupun menikah dengannya!

Dengan wajah muak melihat Sekyung yang masih menetap di apartemenku, aku pun pergi. Satu-satunya tempat yang membuatku nyaman adalah sekolah. Karena, sekolah adalah rumah keduaku, terkhususnya practice room, yaitu ruangan yang membuatku bebas mencurahkan semua perasaanku dalam dance.

Aku pun berjalan menelusuri lorong sekolah. Beberapa langkah lagi, aku sampai di practice room.

Namun, kulihat bayangan gadis di kaca ruangan itu. Ya, gadis.

Sedang apa dia di sini?

Sejenak kuperhatikan gerakannya. Ia terjatuh. Dasar payah.

Namun, tanpa kuduga ia bangkit lagi. Dan seperti tadi, terjatuh kembali. Aku semakin penasaran dengan gadis itu.

Dengan sedikit menunduk, ia bangkit lagi. Lalu memulai gerakannya kembali. Sesuai yang kuduga, ia terjatuh lagi. Namun, dengan sigap ku topang tubuhnya dengan kedua tenganku.

“Ahh... mianhae... aku—“

“Tak apa.” Ujarku lembut, memotong ucapannya. “Apa kau siswa baru di sini?” Ia mengangguk. “Oh.. pantas....”

“Kenapa?”

“Ahh... bukan...” ujarku mengelak. Memang, suasana saat ini sangat canggung. “Bukankah ini sudah waktunya pulang? Kenapa kau tak pulang?” tanyaku sekali lagi.

“Aku hanya ingin berlatih saja.”

“Baiklah... kalau begitu. Apa kau kesulitan?” tanyaku tak henti.

“Sebenarnya ia. Sunbae itu terlalu cepat menje—“

“Baiklah aku akan mengajarimu.” Potongku. Sambil menarik tangannya dan mengajarinya secara perlahan. Ya, setidaknya aku membantunya karena kulihat potensinya yang sungguh besar, beda dengan yang lain.

‘BUG!’ gadis itu terjatuh lagi.

Lulirik kedua kaki gadis itu yang membiru. Dengan segera, kugendong gadis itu, bermaksud membawanya ke UKS. Tapi....

DEG!

Jantungku berdegup kencang. Gadis itu menatapku was-was.

Ya, aku tahu ada yang salah. Aku sedang memegang kaki gadis itu. Aku sadar ia hanya menggunakan celana pendek, kira-kira satu jengkal di atas lutut. Aku menelan ludah.

Dengan mencoba tenang, kuletakkan gadis itu di sudut ruangan.

“Ahh... mianhae.... aku sudah lancang...” ujarku merasa bersalah. “Tunggulah di sini aku akan mengambilkanmu es.” Tambahku dan berlari menuju UKS.

Tak sampai lima menit, aku kembali. Kulihat gadis itu yang masih diam di posisinya. Untunglah dia tak kemana-mana!

“Biarku kompres.” Ujarku sambil meraih sapu tangan di saku dan mengambil beberapa es.

DEG!

Sekali lagi, jantungku berdetak keras. Alasannya, aku sedang mengobati lututnya. Dengan segera kukompres lututnya kembali sampai gadis itu mengangguk tanda sudah baikan.

“Terima kasih.” Ujarnya kepadaku.

“Sama-sama.” Ujarku sambil duduk di sebelahnya.

Lima menit hening.

“Oh ya, bukankah kau baru pulang sekolah? Kenapa memakai sepatu putih?” ujarku memulai percakapan seakrab mungkin.

“Ah... itu.... tadi pagi adikku yang memcuci sepatuku... dan sepatu itu basah.” Ujarnya.

Dua menit hening.

“Ah iya..... kita belum berkenalan. Namaku Park Jimin.” Ujarku sambil memberikan tanganku padanya.

“Hmm.. namaku Kim Jihyun. Bisa di panggil Jihyun. Hmm... soal tadi, mengapa kau tahu aku anak baru?”

“Hmm? Mudah saja. Aku baru melihat wajahmu. Dan... kulihat dance-mu sedikit buruk.” Ujarku yang mempu membuat wajah gadis itu memerah.

“Jeongmal?”

“Tapi, sekarang lebih baik.” Ujarku sambil tersenyum. Kulihat ada kelegaan di wajahnya.

“Tunggu dulu! Apa kau kelas 3 SMA sekarang?” ujarnya tak percaya.

“Tentu saja. Bagaimana mungkin anak kelas 1 atau 2 SMA bisa dance seperti tadi.” Ujarku menghapus kecanggungan.

“Jadi...” gadis yang bernama Jihyun itu berdiri, sedikit membungkuk. “Nan jeongmal mianhae, sunbae-nim... aku telah lancang memanggilmu.”

“Hahaha... tenanglah saja. Tak usah berlebihan... Dan saat seperti ini kau tak perlu memanggilku sunbae-nim.... panggil saja aku Jimin oppa!”

DEG!

Bagaimana aku bisa berkata seperti itu?

Kurasakan wajahku memerah ketika menyuruhnya memanggilku ‘oppa’.

“Hmm... duduklah disini kembali.” Ujarku menyuruhnya duduk kembali.

“Baiklah, Jimin oppa.” Ujarnya sedikit ragu-ragu.

“Bagaimana hari pertama sekolah di sini apakah menyenangkan?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.

“Menyenangkan. Sangat menyenangkan.” Ujarnya.

“Benarkah? Bagaimana dengan gurunya?”

“Menurutku dia baik... tapi—“

“Suka tidur dalam kelas?” tebakku.

“Ne....” ujarnya tersenyum riang.

“Guru di sini memang aneh-aneh. Apalagi jika kau bertemu dengan Miss Seo, guru Bahasa Inggris.”

“Benar! Tadi aku belajar dengannya. Aku selalu memperhatikannya, dia selalu berkaca bahkan ketika menerangkan pelajaran!” ujarnya kembali bersemangat. “Begitu pula dengan Jung Seonsamng-nim.” Tambahnya.

“Aku tahu. Dia sedikit menyeramkan, kan?” ujarku, yang diikuti oleh anggukan Jihyun.

Tak tahan, kami pun mengeluarkan tawa kami sekeras-kerasnya. Jihyun, dia anak yang manis, penceria, meskipun mungkin sedikit kaku.

Apa yang aku suka darinya?

Banyak! Cara dia tersenyum, tertawa, merasa malu, dan lainnya. Bahkan rasanya saat ini kami sudah akrab. Mudah saja, kami memiliki banyak hal yang sama. Terutama cara berpikirnya. Terus terang, aku tak menyukai gadis yang terlalu baik, maupun terlalu agresif.

Dalam diam, kutatap matanya dalam. Meskipun saat ini ia masih berbicara, aku tak memedulikannya. Beberapa kali kuberikan senyuman kecil untuk membalas perkatannya. Meskipun ia tak menyadari bahwa aku tak mendengarkannya lagi sejak beberapa menit lalu.

“Jimin oppa.... aku tak menyangka kau seramah ini denganku. Bahkan, kita baru pertama kali bertemu, kan?” ujarnya sambil menatap ujung kakinya.

“Hhmmm? Ne, kau benar.” Ujarku singkat. Dengan perhalan kudekati mukaku ke mukanya mungkin hanya berkisar antara 10 cm. Dengan santai, Jihyun menatapku sambil tersenyum.

5 menit hening.

Canggung? Ya, sangat!

“Jihyun-ah...”

“Ne?”

“Aku rasa aku mulai menyukaimu.”

“Hm? Oppa, jangan bercanda. Kita kan baru—“

Chuu~~

Dengan cepat pun aku mengecup kedua bibirnya. Ya, hanya sekedar membuktikan aku serius.

“Apa kau masih belum percaya?” tanyaku menatap wajahnya yang bersemu merah.

“Kau.... kau mencuri.....”

“First kiss-mu?” tanyaku yang dibalas dengan anggukannya. Lalu, apa salahnya, aku menyukainya. Dan bukankah first kiss itu hal yang biasa? Atau dia malu?

“Aku.... pu-pulang dulu, Jimin oppa....” balasnya masih menunduk malu dan segera pergi ke arah pintu. Namun, dengan sigap kutarik tangannya.

“Mengapa seperti itu? Kau malu?” Tanyaku berusaha untuk serius.

DEG!

Detak jantungku kembali kencang. Namun, tak masalah.

“Ani.... bukan begitu...” ujarnya singkat, namun tak berani menatap mataku. Dengan cepat kudekatkan kembali wajahnya.

“Jinjja? Kau yakin kau baik-baik saja?” tanyaku lagi sambil terus mendekatkan wajahku ke arahnya.

“Ne...” Jihyun memundurkan wajahnya.

Ayolah. Aku tak bermaksud menyiuminya lagi. Mengapa ia harus mundur? Apa lagi-lagi karena malu? Aku tersenyum puas.

“Kalau begitu kau harus menjadi pacarku.” Ujarku yang membuatnya membulatkan matanya.

Ya, aku tak tahu apa yang telah aku lakukan. Bagaimana bisa aku mencium seorang gadis. Dan sekarang aku menyuruhnya untuk menjadi pacarku. Ya, meskipun awalnya hanya setengah bercanda. Namun, kuakui kini aku menyukai gadis itu.

Aku menyukainya senyumnya. Aku menyukai tawanya. Aku menyukai saat mukanya berwarna merah. Aku menyukai caranya berbicara. Aku menyukai caranya menatapku. Dan hal lainnya.

Dan itu hanya dalam satu hari.....

“Mwo? Sunbae?”

***

Jihyun’s POV

Three Years Later...

Winter wonderland, sepasang kata itu selalu mengelabui benakku sewaktu melihat salju. Ya, hari ini salju pertama datang. Sungguh damai dan tenang. Itulah kesan pertama saat aku melihat salju.

Hari kian dingin. Kulumat americano yang tersisa di bibirku, takkan kubiarkan americano itu membeku di tiup angin musim dingin. Seraya melangkahkan kakiku menuju butiran es yang sudah menggunung, kumasukkan kedua tanganku kedalam mantel buluku. Namun, detik berikutnya, kurasakan tangan seseorang menggapai mataku, dan menutupnya.

“Guess who!” tanya seseorang itu. Aku tersenyum.

“A man....” balasku.

“Aisshhh... Jinjja! Maksudku, siapa lelaki itu...” gerutu lelaki itu.

“Park Jimin...” balasku lagi. Lelaki yang bernama Jimin itu membuka mataku, dan membalikkan badanku ke arahnya.

“Hei... sudah kubilang berkali-kali! Pakai oppa! Bukan hanya Jimin saja!” kesalnya sambil mencubit lembut kedua pipiku. Aku hanya tertawa.

“Okay... Jimin oppa. Apa kau puas?” tanyaku sambil melepas cubitan nakalnya. Dengan tersenyum, ia merangkulku.

“Sangat puas.... Maaf telah membuatmu menunggu lama. Yoo seonsaeng-nim menyuruhku untuk membuat skripsi dengan tema yang lain.” Ujarnya kesal sambil meraih tengkukku untuk memperdalam pelukan. “Aku janji kencan kita kali ini akan menyenangkan.”

Kencan?

Ya, sulit dipastikan bahwa sejak tiga tahun lalu, bertepatan saat kami masih SMA, kami memulai hubungan khusus. Hubungan ini berlanjut sampai sekarang, kuliah. Walaupun berbeda kampus, kupastikan kami saling menjaga dan mempercayai satu sama lain.

“Ani... pendidikan memang harus diutamakan terlebih dahulu. Bukannya beberapa bulan lagi kau akan lulus?” sanggahku membangkitkan semangatnya, sambil melepaskan pelukan kami.

“Baiklah! Ayo kita mulai kencan hari ini....” ajaknya sambil memegang erat tanganku. Aku hanya mengangguk setuju.

Kami memulai pertualangan kami dengan mencicipi makanan yang berada di pinggiran jalan. Ya, meskipun Jimin selalu bersikeras untuk mengajakku makan di restoran, aku selalu menolaknya. Menurutku, makanan yang berada di pingiran jalan lebih nikmat dari pada makan ke restoran.

Kami mulai penjelajahan kuliner kami dengan mencicipi teokbokki. Lalu, kami pun mencicipi beberapa bibimbap di sebuah truk makanan. Masih tak puas, kami menuju sebuah restoran kecil berdinding bambu untuk memakan jjampong. Ya, bukan hanya makan saja. Kami juga bercerita tentang hari-hari menyenangkan kami di kampus masing-masing.

Hari pun semakin malam. Jimin mengajakku melihat pemandangan Sungai Han.

Indah. Sangat indah.

“Sudah lama tidak ke sini.” Ujarku pelan, namun masih bisa di dengar Jimin.

“Hhmm? Berarti aku memilih tempat yang sangat pas.” Ujar Jimin sambil tersenyum simpul. Aku menatapnya heran.

“Tempat yang sangat pas? Untuk apa?” tanyaku. Beberapa saat kemudian, Jimin mengeluarkan sesuatu dari mantel salju hitam-nya. Sebuah kalung berliontin M pun tampak.

“Untukmu. Ambillah. Sialnya tak ada liontin berhuruf J. Jadi itu yang aku pilih.” Ujarnya sambil menyuruhku mengambil kalung itu.

“M?”

“Ia, Minhyun.”

“Minhyun? Siapa dia?”

“Jimin dan Jihyun, Minhyun. Anak kita nantinya.” Ujar Jimin sambil mempererat pelukan kami.

DEG!

Ada apa dengan Jimin?

“Yang benar saja!” ujarku sambil terus memandang kalung itu.

“Tentu saja benar. Aku yakin itu akan terjadi kelak....” ujar Jimin sambil melepas pelukan kami. Ia membalikkan tubuhku agar menatapnya.

DEG!

Bukan. Ini bukan detakan jantung yang kurasakan seperti dulu. Ada yang aneh.

Mengapa aku tak yakin dengan perkataan Jimin tadi? Bahkan rasanya....

Sakit.

Seperti kata-kata terakhir Jimin.

Seperti Jimin akan meninggalkanku.

“Jihyun-ah? Kau baik-baik saja?” tanya Jimin membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk pelan. “Baiklah, mungkin ini terlalu larut untuk mahasiswa baru sepertimu. Ayo kita pulang!” ujar Jimin sambil meraih tanganku agar kami berjalan bersama.

Pukul 10.00.

Jalanan kini mulai sepi. Beberapa kedai masih terbuka, sementara sebagian besarnya sudah mulai tertutup. Langit pun semakin gelap.

Rumahku tak beberapa jauh lagi. Hanya perlu beberapa belokan untuk sampai. Sementara Jimin terus menemaniku berjalan.

Sesaat kemudian, ketika hampir tiba di rumah, kudengar deringan ponsel dari mantel Jimin. Jimin pun mengambilnya. Ada panggilan.

“Ne? Eomma?” ujar Jimin dengan panik. “Baiklah aku akan ke sana sekarang juga.” Balas Jimin sambil menutup pembicaraannya setengah panik.

“Waeyo? Ada apa dengan eommamu?” tanyaku kepada Jimin.

“Dia sakit. Penyakit jantungnya kambuh.” Ujar Jimin pasrah. “Jihyun-ah! Maaf aku tak bisa mengantarmu sampai rumahmu.” Ujarnya menyesal.

“Nan gwaenchana. Pergilah. Eomma-mu pasti akan membutuhkanmu.” Ujarku tanpa rasa penyesalan. Aku cukup bahagia jika Jimin bahagia.

“Gomawoyo.... Aku pergi dulu! Jaga dirimu baik-baik, eoh?” balasnya sambil membelai lembut rambutku.

“Ne.” Ujarku. Jimin pun berlalu pergi.

Kuharap tak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku hanya bisa berharap.

- TBC -

No comments:

Post a Comment