Title : Hanya Sebuah Imaji
Main Cast : Park Minji | Park Jimin
Genre : Mystery | Daily-life
Rate : General
Leight : One Shot
Scriptwritter : Fellicia Kim
Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT
READERS.
HAPPY READING!^^
***
Minji, gadis itu kini mematung
duduk di meja kerjanya. Semua raut menyatakan bahwa keadaannya kali ini sangat
sulit. Matanya hanya menatap kosong langit-langit ruangannya. Entah makhluk apa
yang merasukinya, gadis penyiar radio yang selalu ceria ini terlihat lelah
dengan semua permainan duniawi ini.
Jimin
masalah utamanya. Anak kecil itu selalu menghampirinya, selalu menggang-gunya, namun
seketika hilang begitu saja bagai lenyap dilahap angin. Baginya Jimin bukan-lah
siapa-siapa. Tapi, melihat sikap yang tak pernah segan untuk mencurahkan semua
keluh-kesahnya, membuat anak laki-laki yang bernama Jimin itu tidak asing lagi
di kedua telinganya. Tapi, mengapa perasaan itu muncul? Mengapa perasaan yang
tak tahu asalnya itu muncul? Mengapa perasaan terhadap anak asing yang sama
sekali tidak memiliki hubungan dengannya itu muncul? Lagi-lagi, semua pertanyaan
konyol itu melintas di pikirannya.
“Ada
yang aneh!” desisnya sambil bercermin di hadapan kaca. Minji menatap pantulan
matanya dengan lekat. Ya, jika dipikir kembali, Jimin memang mirip dengan
Minji. Bisa dikatakan Jimin adalah Minji dalam rupa laki-laki, atau Minji
adalah Jimin dalam rupa perempuan. Namun, ini semua tak mungkin. Minji adalah anak
tunggal, dia tak mungkin punya saudara, terutama adik. Dengan keberanian yang
kuat, Minji pun memutuskan suatu hal. Minji akan menghampiri Jimin.
***
“Kak Minji!” seru seseorang dari belakang.
Minji pun melirik kearah sumbernya su-ara tersebut. Tampaklah sosok Jimin
seraya berlari dengan luka prihatin di wajahnya. Minji terperangah, sosok
laki-laki pun datang tepat di belakang Jimin dengan kayu di tangannya.
‘Bruukk!’
Kayu
itu melayang di pundak Jimin. Jimin terduduk. Tak perduli rasa sakit di
pundaknya, Jimin pasrah.
Semua
terjadi begitu saja. Jimin, anak yang selalu muncul di kehidupan Minji pun kini
jatuh terkapar di tanah. Darahnya mengalir deras. Minji tak kuasa menahan air
matanya.
Sesaat,
Minji melihat sekelilingnya. Kejadian yang sama dan tempat yang sama, per-sis.
Tak ada yang berubah. Sebuah ilustrasi pun terungkap.
Minji
melihat dirinya sewaktu kecil dipukul oleh ayahnya di tempat yang sama dimana
Jimin dipukul. Ia tahu bahwa ayahnya berada di bawah pengaruh alkohol, namun kematian
ibunya karena disiksa oleh ayahnya adalah alasan mengapa Minji begitu membenci
ayahnya.
Kepala
Minji sakit seketika. Himpunan kejadian yang tak ingin diingatnya kini hadir
kembali. Tanpa ia minta sekalipun. Minji pun tak sadarkan diri.
***
Lembaran-lebaran
koran beterbangan. Ada yang saling menghantam, dan beberapa yang terbang menyendiri,
semua berhamburan. Seperti halnya Minji, bertindak santai, namun dalam hatinya
sangat cemas akibat hilangnya Jimin semenjak insiden yang diderita Jimin saat itu.
Lagi-lagi perasaan khawatir Minji terhadap sosok Jimin muncul lagi. Minji pun
pergi ke kantor polisi untuk melihat kejadian sebenarnya.
***
Sebuah
kamera keamanan yang berada di dekat daerah tempat tinggal Jimin pun diputar.
Minji memerhatikannya dengan seksama. Semua kejadian telah dilihatnya.
Minji
melihat dirinya di sana. Namun, terdapat suatu yang mengganjal. Sekitar lima
menit, Minji mencari Jimin di layar tersebut. Namun, nihil. Begitu pula dengan
laki-laki yang memukul pundak Jimin, tak ada. Beberapa waktu kemudian, terlihat
di layar, Minji pingsan.
Minji
tercenggang atas semua yang dilihatnya. Dia memiliki keyakinan yang pasti akan
kehadiran Jimin waktu itu. Namun, lain halnya dengan rekaman yang baru saja di
lihat-nya, Jimin tak ada.
Minji
melihat dirinya menangis, persis seperti yang dilakukannya sewaktu itu. Minji
terdiam tak percaya.
“Apakah
Anda yakin bahwa Anda melihat anak kecil yang bernama Jimin itu?” tanya seorang
polisi yang berdiri di sampingnya. Polisi itu mengernyitkan dahinya karena
heran dengan perkaataan Minji. Wajar, semua perihal yang dikatakan Minji tak
benar adanya, dan tidak dapat di buktikan dengan nyata.
‘Tentu....
tak ada keraguan!” sambarnya. “Atau kalian yang mengubah kejadian sebenarnya
agar orang-orang mengira bahwa aku gila?” bentak Minji dengan nada bergetar.
Polisi itu menatap Minji aneh. Minji berdecak kesal. Minji mengerti bahwa ini
semua adalah nyata. Bukan rekayasa. Look
at this, Minji! It’s real fact!
Minji
menenangkan dirinya. Mencoba merangkai kembali semua yang dicurahkan Jimin
kepadanya. Hasilnya, semua hal yang diceritakan Jimin, juga pernah dialaminya,
persis.
Namun,
dimana Jimin? Dimana sosok misterius yang selalu hadir dalam kehidupan Minji?
Dimana anak laki-laki yang selalu mencurahkan keluh-kesahnya pada Minji? Dimana
laki-laki yang selalu meminta bantuan kepada Minji? Minji tak tahu. Tapi, Minji
sadar satu hal, bahwa Jimin adalah gambaran dirinya sewaktu kecil yang hanya
bisa dilihat oleh sosok Minji, bukan orang lain. Dugaan kali ini benar-benar
tepat, Jimin hanyalah imaji. Yeah,
hanya sebuah imaji.
-Hanya
Sebuah Imaji-
A/N : Weheheh... readers.. jangan salah paham. Ini FF absurd plus gak jelas banget yang pernah ane buat. Kkkk..
Satu lagi, bukannya plagiat... tapi ni FF terinspirasi dari K-Drama It's Okay That's Love yang pemerannya Jo In Sung itu lohh.... *iklan*
Yaudah Trimss...

No comments:
Post a Comment