Sunday, 28 December 2014

Hanya Sebuah Imaji





Title : Hanya Sebuah Imaji
Main Cast : Park Minji | Park Jimin
Genre : Mystery | Daily-life
Rate : General
Leight : One Shot
Scriptwritter : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT READERS.

HAPPY READING!^^

***

Minji, gadis itu kini mematung duduk di meja kerjanya. Semua raut menyatakan bahwa keadaannya kali ini sangat sulit. Matanya hanya menatap kosong langit-langit ruangannya. Entah makhluk apa yang merasukinya, gadis penyiar radio yang selalu ceria ini terlihat lelah dengan semua permainan duniawi ini.

Jimin masalah utamanya. Anak kecil itu selalu menghampirinya, selalu menggang-gunya, namun seketika hilang begitu saja bagai lenyap dilahap angin. Baginya Jimin bukan-lah siapa-siapa. Tapi, melihat sikap yang tak pernah segan untuk mencurahkan semua keluh-kesahnya, membuat anak laki-laki yang bernama Jimin itu tidak asing lagi di kedua telinganya. Tapi, mengapa perasaan itu muncul? Mengapa perasaan yang tak tahu asalnya itu muncul? Mengapa perasaan terhadap anak asing yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya itu muncul? Lagi-lagi, semua pertanyaan konyol itu melintas di pikirannya.

“Ada yang aneh!” desisnya sambil bercermin di hadapan kaca. Minji menatap pantulan matanya dengan lekat. Ya, jika dipikir kembali, Jimin memang mirip dengan Minji. Bisa dikatakan Jimin adalah Minji dalam rupa laki-laki, atau Minji adalah Jimin dalam rupa perempuan. Namun, ini semua tak mungkin. Minji adalah anak tunggal, dia tak mungkin punya saudara, terutama adik. Dengan keberanian yang kuat, Minji pun memutuskan suatu hal. Minji akan menghampiri Jimin.

***

 “Kak Minji!” seru seseorang dari belakang. Minji pun melirik kearah sumbernya su-ara tersebut. Tampaklah sosok Jimin seraya berlari dengan luka prihatin di wajahnya. Minji terperangah, sosok laki-laki pun datang tepat di belakang Jimin dengan kayu di tangannya.

‘Bruukk!’

Kayu itu melayang di pundak Jimin. Jimin terduduk. Tak perduli rasa sakit di pundaknya, Jimin pasrah.

Semua terjadi begitu saja. Jimin, anak yang selalu muncul di kehidupan Minji pun kini jatuh terkapar di tanah. Darahnya mengalir deras. Minji tak kuasa menahan air matanya.

Sesaat, Minji melihat sekelilingnya. Kejadian yang sama dan tempat yang sama, per-sis. Tak ada yang berubah. Sebuah ilustrasi pun terungkap.

Minji melihat dirinya sewaktu kecil dipukul oleh ayahnya di tempat yang sama dimana Jimin dipukul. Ia tahu bahwa ayahnya berada di bawah pengaruh alkohol, namun kematian ibunya karena disiksa oleh ayahnya adalah alasan mengapa Minji begitu membenci ayahnya.

Kepala Minji sakit seketika. Himpunan kejadian yang tak ingin diingatnya kini hadir kembali. Tanpa ia minta sekalipun. Minji pun tak sadarkan diri.

***

Lembaran-lebaran koran beterbangan. Ada yang saling menghantam, dan beberapa yang terbang menyendiri, semua berhamburan. Seperti halnya Minji, bertindak santai, namun dalam hatinya sangat cemas akibat hilangnya Jimin semenjak insiden yang diderita Jimin saat itu. Lagi-lagi perasaan khawatir Minji terhadap sosok Jimin muncul lagi. Minji pun pergi ke kantor polisi untuk melihat kejadian sebenarnya.

***
Sebuah kamera keamanan yang berada di dekat daerah tempat tinggal Jimin pun diputar. Minji memerhatikannya dengan seksama. Semua kejadian telah dilihatnya.

Minji melihat dirinya di sana. Namun, terdapat suatu yang mengganjal. Sekitar lima menit, Minji mencari Jimin di layar tersebut. Namun, nihil. Begitu pula dengan laki-laki yang memukul pundak Jimin, tak ada. Beberapa waktu kemudian, terlihat di layar, Minji pingsan.

Minji tercenggang atas semua yang dilihatnya. Dia memiliki keyakinan yang pasti akan kehadiran Jimin waktu itu. Namun, lain halnya dengan rekaman yang baru saja di lihat-nya, Jimin tak ada.

Minji melihat dirinya menangis, persis seperti yang dilakukannya sewaktu itu. Minji terdiam tak percaya.

“Apakah Anda yakin bahwa Anda melihat anak kecil yang bernama Jimin itu?” tanya seorang polisi yang berdiri di sampingnya. Polisi itu mengernyitkan dahinya karena heran dengan perkaataan Minji. Wajar, semua perihal yang dikatakan Minji tak benar adanya, dan tidak dapat di buktikan dengan nyata.

‘Tentu.... tak ada keraguan!” sambarnya. “Atau kalian yang mengubah kejadian sebenarnya agar orang-orang mengira bahwa aku gila?” bentak Minji dengan nada bergetar. Polisi itu menatap Minji aneh. Minji berdecak kesal. Minji mengerti bahwa ini semua adalah nyata. Bukan rekayasa. Look at this, Minji! It’s real fact!

Minji menenangkan dirinya. Mencoba merangkai kembali semua yang dicurahkan Jimin kepadanya. Hasilnya, semua hal yang diceritakan Jimin, juga pernah dialaminya, persis.

Namun, dimana Jimin? Dimana sosok misterius yang selalu hadir dalam kehidupan Minji? Dimana anak laki-laki yang selalu mencurahkan keluh-kesahnya pada Minji? Dimana laki-laki yang selalu meminta bantuan kepada Minji? Minji tak tahu. Tapi, Minji sadar satu hal, bahwa Jimin adalah gambaran dirinya sewaktu kecil yang hanya bisa dilihat oleh sosok Minji, bukan orang lain. Dugaan kali ini benar-benar tepat, Jimin hanyalah imaji. Yeah, hanya sebuah imaji.

-Hanya Sebuah Imaji-

A/N : Weheheh... readers.. jangan salah paham. Ini FF absurd plus gak jelas banget yang pernah ane buat. Kkkk..
Satu lagi, bukannya plagiat... tapi ni FF terinspirasi dari K-Drama It's Okay That's Love yang pemerannya Jo In Sung itu lohh.... *iklan*

Yaudah Trimss...

No comments:

Post a Comment