Title : 난당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee
[Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : NO
PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS!
HAPPY READING! ^^
***
[Epilog]
“Jungho-sshi! Kemarilah!” seru
Soeun kepada Jimin. Jimin pun menuruti keinginan gadis itu. “Bisakah kau
memotretku?” ujar Soeun sambil mengambil posisi.
Soeun tidak bisa menamatkan sekolahnya bersama Jimin, karena Soeun tak
mampu lagi mengingat pelajaran yang di ajarkan pada tahun ini. Kedua orang tua
Soeun memutuskan untuk menyuruh Soeun belajar di rumahnya dan kembali lagi
sekolah di tahun berikutnya. Dengan senang hati, setelah tamat dari sekolahnya,
Jimin mengajak Soeun untuk berlibur di Pulau Jejudo bersamanya untuk beberapa
hari.
“Geurae...” ujar Jimin sambil
menghidupkan kamera-nya. “Hana, deul, set!”
‘Click!’
Jimin pun memotret Soeun.
“Bagaimana? Apakah aku terlihat cantik?” tanya Soeun kepada Jimin.
Jimin menatap foto yeoja itu.
Jimin tersenyum. Ini adalah pertama kalinya Jimin memotret foto Soeun setelah
enam bulan setelah Soeun sadar. Ya, Jimin sangat rindu dengan semua tentang
Soeun.
Jimin selalu bersyukur Soeun masih berada di sisinya, masih bersamanya,
masih berbicara bersamanya, masih ingin belajar bersamanya, masih ingin
menatapnya, dan masih menggenggam tangannya. Jimin akan selalu melindunginya.
Jimin rela Soeun menganggapnya sebagai Park Jungho, asalkan Soeun tetap berada
di sisinya. Ia rela. Rela.
--Walaupun Soeun menyukai Park
Jungho dan tak mengenal dirinya yang asli, Park Jimin.--
“Ne, neomu yeopposseo!” jawab Jimin.
“Gomawo.” Ujar Soeun sambil merangkul
Jimin. Senyum Jimin mengembang. “Gomawoyo,
Jungho-sshi!” ujar Soeun lagi.
Senyuman Jimin perlahan pudar.
“Baiklah, sekarang sudah gelap, ayo kita makan!” ajak Jimin sambil melepas
rangkulan Soeun dan menggenggam tangannya. Soeun mengangguk setuju.
***
Kerlap-kerlip bintang menambah indahnya malam. Soeun menatap
bintang-bintang itu di kaca bus yang sedang di naikinya bersama Jimin.
“Yeppeuda...” ujar Jimin memuji
bintang itu seakan membaca pikiran Soeun.
“Ne.” Ujar Seoun membenarkan
perkataan Jimin.
“Kau tidak mengantuk?” tanya Jimin kepada Soeun.
“Bagaimana denganmu?” tanya Soeun balik.
“Tidurlah, besok akan ada perjalanan yang panjang. Aku akan menjagamu malam
ini.” balas Jimin. Sambil merapatkan mantelnya dalam-dalam.
“Ne. Selamat malam!” ujar Soeun.
Jimin hanya membalasnya dengan anggukan. Beberapa lama kemudian, Soeun terlelap
dalam tidurnya.
***
“Jungho-sshi!” seru Soeun yang setengah tidur. Jimin pun bangun. “Aku ingin
meminta satu hal.” Tambahnya. Jimin melihat Soeun dengan heran. Mungkin Soeun
hanya mengingau, pikirnya.
“Apa itu?” balas Jimin yang belum sepenuhnya bangun.
“Tetaplah di sisiku. Jangan pergi.” Balas Soeun.
Jimin terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana.
“Geurae. Aku akan tetap di
sisimu. Nan... dangshiniya....” balas
Jimin sambil tersenyum kecil. Soeun pun kembali tidur.
Namun, tidak dengan Jimin.
Ia tidak tidur kembali. Ia masih bangun.
Setitik air mata pun jatuh membasahi pipinya. Jimin bahagia. Sudah sangat
lama ia menantikan kata yang dapat meyakinkan hatinya. Bahwa Soeun menyukainya.
Dan hari ini, doanya terkabul, Soeun menantikannya, Soeun tidak ingin ia pergi,
Soeun ingin ia tetap di sisinya, untuk selamanya.
Jimin mengerti kehendak Tuhan yang diberikan kepadanya. Ya, Tuhan
mengembalikan Soeun ke sisinya, dalam keadaan lupa ingatan. Jimin tahu, Soeun
akan membencinya, jika Soeun tidak lupa ingatan. Soeun tidak ingin bertemu
dengannya, jika Soeun tidak lupa ingatan. Soeun tidak akan memaafkan Jimin,
jika Soeun tidak lupa ingatan. Namun satu hal yang perlu dipertahankannya,
Jimin harus melindungi Soeun.
Harus. Karena Jimin yang telah membuat Soeun terluka.
Karena dengan mendengar nama asli Jungho, Soeun akan sakit.
***
“Kemana kita akan pergi, Jungho-sshi?” tanya Soeun sambil menggenggam erat
tangan Jimin.
“Ayo kita makan dulu. Sebentar lagi gelap.” Ujar Jimin seraya menarik
bangku di restoran kecil itu, dan menyuruh Soeun duduk.
“Aku heran, kau selalu mengajakku pergi ke tempat yang sepi.” Papar Soeun
langsung. “Seperti artis yang takut keramaian saja.” Tambah Soeun.
“Ahh.. itu.... bukan....”
“Sudahlah, aku cuma bercanda.” Ujar Soeun sambil tersenyum simpul. Jimin
pun tersenyum kecil.
“Hmm... aku akan ke toilet dulu.” Ujar Jimin sambil beranjak pergi. Soeun
menatap namja itu dengan aneh.
Namun, pesan masuk dari ponsel Jimin mengalihkan pandangannya.
Dari Yoongi hyung.
‘Cepatlah kembali. Kita akan ada tour
dadakan.’
“Yoongi?” tanya Soeun. Kepalanya kini pusing melihat nama itu. Soeun merasa
nama itu sangat familiar. Dengan segera Soeun membuka beberapa kontak di ponsel
Jimin.
Seokjin hyung.
Tunggu! Bukankah itu oppanya
Soeun?
Soeun menyamakan nomor oppanya
dengan nomor Seokjin di ponsel Jimin. Hasilnya, sama, dan tentunya persis.
Kepala Soeun bertambah sakit. Ia sulit bernafas.
Mengapa kedua nama orang itu sepertinya tidak asing lagi di indera
pendengarannya. Satu hal yang ia ketahui, Jungho yang dikenalnya memiliki
hubungan dengan semua ini.
“Tour?” ujar Soeun kembali
terusik. “Jungho akan tour? Untuk apa?” tanyanya lagi yang membuat kepalanya
semakin sakit. Dengan segera, Soeun membuka google
di ponselnya. Ia mengetik sekumpulan nama itu.
‘Jungho, Seokjin, & Yoongi’
Sebuah kalimat pemberitahuan pun keluar.
‘Did you Mean Jungkook, Hoseok, Seokjin,
& Yoongi?’
“Jungkook? Hoseok?” tanya Soeun kembali. Kepalanya semakin sakit.
Soeun berusaha mengingat nama itu.
“Jungkook.... Hoseok.... Seokjin... Yoongi... Tae..” ujar Soeun sambil
berpikir keras. “Tae... Tae... Taeyung.. Taeyoon... Taehyung?” ujar Soeun lagi.
“Namjoon?” ujar Soeun tak menyerah. “Bangtan So—“
“Soeun-ah? Gwaenchana?” tanya Jimin cemas melihat Soeun yang pucat.
“Ahh... ani....” ujar Soeun sambil
berusaha untuk berdiri. Jimin membantunya. “Jungho-sshi, bisakah kita pulang
saja?” tanya Soeun.
“Baiklah, ayo pulang.”
***
“Jungho-sshi, gomawoyo. Untuk mengajakku ke sini.” Tutur Soeun sambil
mempererat mantelnya. Jimin tersenyum kecil.
“Baiklah. Aku akan mencari bus di sekitar sini dulu. Tunggu di sini, ne?” ujar Jimin sambil mengacak rambut
Soeun, dan berlalu pergi.
Soeun terdiam. Ia merasa familiar dengan kontak fisik yang Jimin lakukan
padanya beberapa detik yang lalu. Dengan keras, Soeun kembali mengingat
kejadian-kejadian yang pernah dialaminya.
“Ah! Jimin-ah!” pekik Soeun. Langkah Jimin pun terhenti. “Bisakah kau
mengantarkanku ke sekolah besok? Kau tahu kan, oppa tidak mungkin mengantarku
besok. Dan aku tak mau mengganggunya.” Tambah Soeun.
“Oh, arasseo.” Paham Jimin sambil mengacak-acak rambut hitam legam milik
Soeun. Jimin memang terbiasa mengacak-acak rambutnya. “Masuklah!” perintah
Jimin. Soeun pun masuk.
Air mata Soeun mengalir deras di pipinya. Kakinya melemas, ia tak mampu
berdiri lagi. Seluruh tubuhnya letih, melihat kenyataan yang ada. Soeun baru
mengerti.
“Jimin! Park Jimin!” pekik Soeun hingga membuat Jimin berbalik.
“Ne—“ potong Jimin sambil
menampaki Soeun yang menangis beberapa meter di belakangnya.
“Jimin-ah!” ujar Soeun masih
dalam isakan. Jimin baru mengerti. Gadis itu sudah pulih.Ya, gadis itu menyebut
namanya. Kali ini Park Jimin, bukan Park Jungho.
“Soeun-ah! Neo... neo..” Mata Jimin memerah. Ia tak menyangka semua hal ini
akan terjadi kepadanya. Jimin berlari mendekati Soeun, dan merangkul gadis itu
sekuat tenaganya, begitu pula dengan Soeun. “Kau telah kembali.”
***
After 9 Months....
Night at 09.00
-Namsan Tower-
“Jimin-ah!” seru gadis yang
bernama Soeun itu sambil melambaikan tangannya pada Jimin. Jimin pun
mendekatinya.
“Soeun-ah!” balas Jimin.
“Bagaimana tour dua-bulanmu?”
tanya Soeun sambil melumat americano
yang masih tersisa dibibirnya.
“Sangat baik!” ujar Jimin bersemangat. “Tenang saja. Tahun depan akan
kuberikan tiket konser kami untukmu.”
“Kenapa harus tahun depan?” tatap Soeun jengkel.
“Hei... kau masih SMA, dan sebentar lagi akan ada ujian. Dan ingat,
sekarang aku ini sunbae-mu.... Jadi
kau harus bersikap sopan!” ujar Jimin bangga.
“Aisshh.... kalau begitu aku akan minta langsung dengan Seokjin oppa. Dan,
kau tahu kan, dari dulu aku memiliki otak encer. Untuk ujian, semuanya sudah
kupersiapkan matang-matang.” Balas Soeun bertambah jengkel.
“Oh.... ya sudah... minta saja kepada oppa-mu.
Aku akan memberikan tiketku kepada Seolhyun.” Ujar Jimin lantang.
“Mwo? Seolhyun... Oh Seolhyun?” tanya Soeun tak rela. Jimin mengangguknya
mantap. “Waeyo? Kenapa harus dia?” tanya Soeun lagi.
“Karena kau tak mau.” Balas Jimin singkat.
“Ya! Apa kau mencoba untuk
selingkuh, eoh?” tanya Soeun lagi.
“Ya! Kau harus berikan tiket itu padaku!” bentak Soeun kepada Jimin.
“Waeyo?” tanya Jimin setengah bercanda.
“Karena aku yeoja-chingumu.”
Balas Soeun pelan.
“Harus imut!” kali ini Jimin yang membentaknya.
“Jimin oppa, berikan aku
tiketnya, ne?” ujar Soeun lembut
sambil mengedipkan kedua matanya. Jimin pun memeluk lembut tubuh gadis itu.
“Dengan senang hati.” Sambut Jimin.
“Hmm... Oh ya, bagaimana kabar Seolhyun?” tanya Soeun dadakan.
“Ya, baik. Kudengar dia sudah memiliki kekasih. Kalau tidak salah.” Ujar
Jimin asalan. “Aku dan Seolhyun hanya berpura-pura pacaran, untuk mengerjaimu.
Jadi, jangan khawatir.” Tambah Jimin.
“Tapi, ia selalu kasar kepadaku.” Ujar Soeun.
“Dia memang pernah menganggap hubungan kami serius. Tapi, aku selalu menekankan
bahwa itu salah besar. Aku hanya menyuruhnya akting sebagai pacarku. Karena
dulu aku pernah membantunya. Tak lebih.” Balas Jimin.
“Oh... arasseo.”
“Hmm..” Jimin berdeham keras. “Apa kau cemburu?” tanya jimin.
“A-a-aniya... mana mungkin.” Bantah
Soeun.
“Setidaknya aku harus berterima kasih kepada semua temanku yang membantuku
untuk mengerjaimu.” Ujar Jimin panjang lebar.
“Maksudmu?”
“Jungkook, Taehyung, Hoseok, Hyeri, dan Jinhee. Mereka yang telah membuat
rencanaku menjadi berhasil.” Ujar Jimin santai.
“Aiishhh! Jinjja? Jadi, mereka
semua mengetahui itu semua. Dan artinya.... aku sendiri yang tidak tahu?” ujar
Soeun tak percaya. “Ya! Jimin-ah! Kenapa kau begitu tega, eoh? Jadi selama ini aku menjadi anak bodoh diantara kalian?” kata
Soeun mulai geram. Dengan sigap Jimin lari keliling menara itu. Soeun berusaha
mengejarnya.
Dan tentunya, Soeun jatuh. Soeun mengaduh kesakitan. Jimin mendekatinya
dengan khawatir.
“Soeun-ah? Jaljinaes— Arrgghhh!!“
“Hahaha... kini kau masuk dalam jebakanku, Park Jimin! Hahaha!” Potong
Seolhyun seraya menyubit kedua pipi Jimin. Namun, tak sampai satu menit...
Chu~~
Jimin mengecup bibir gadis itu. Wajah Soeun memerah. Ia menatap kosong
lelaki yang baru saja mengecup bibirnya itu.
Dan...
Yeahh....
Jimin tahu, sebesar apa pertandingan yang gelar oleh seorang Soeun, ia
mampu mengalahkannya. Jimin mampu membuat wajah Soeun memerah karena malu.
Jimin mampu membuat Soeun menjadi canggung terhadapnya. Jimin mampu membuat
Soeun selalu jatuh di pelukannya. Karena sampai detik ini juga, Jimin tetap
menjadi pemenangnya.
Jimin tahu, semua akan berakhir dengan kemenangan yang terus diraihnya
dalam mengambil hati seorang Soeun. Dan untuk selamanya, Soeun tak akan mampu
mengalahkan pesona Jimin, Park Jimin.
Itu semua karena Jimin milik Soeun. Jimin dapat menakhlukan Soeun karena
Jimin milik Soeun. Ya, karena Jimin milik Soeun seorang diri.
-I’m Yours-
A/N : Wehehehee.... akhirnya bisa juga nyelesain ni FF. Minta kritik n
saran yang membangun juseyo.... Jujur ni sebenarnya FF kedua yang nae siap
bikin. Jadi mohon bimbingannya, karena semua manusia takkan luput dari
kesalahan.... Oh ya, mohon maaf bila ada typo bertebaran, n FF absurb yang
kagak pernah jelas ini....
Trims from Author...^^

No comments:
Post a Comment