Sunday, 28 December 2014

I'm Yours - Epilog




Title : 당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee [Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim


Disclaimer : NO PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS!

HAPPY READING! ^^

***

[Epilog]

“Jungho-sshi! Kemarilah!” seru Soeun kepada Jimin. Jimin pun menuruti keinginan gadis itu. “Bisakah kau memotretku?” ujar Soeun sambil mengambil posisi.

Soeun tidak bisa menamatkan sekolahnya bersama Jimin, karena Soeun tak mampu lagi mengingat pelajaran yang di ajarkan pada tahun ini. Kedua orang tua Soeun memutuskan untuk menyuruh Soeun belajar di rumahnya dan kembali lagi sekolah di tahun berikutnya. Dengan senang hati, setelah tamat dari sekolahnya, Jimin mengajak Soeun untuk berlibur di Pulau Jejudo bersamanya untuk beberapa hari.

Geurae...” ujar Jimin sambil menghidupkan kamera-nya. “Hana, deul, set!”

Click!’

Jimin pun memotret Soeun.

“Bagaimana? Apakah aku terlihat cantik?” tanya Soeun kepada Jimin.

Jimin menatap foto yeoja itu. Jimin tersenyum. Ini adalah pertama kalinya Jimin memotret foto Soeun setelah enam bulan setelah Soeun sadar. Ya, Jimin sangat rindu dengan semua tentang Soeun.

Jimin selalu bersyukur Soeun masih berada di sisinya, masih bersamanya, masih berbicara bersamanya, masih ingin belajar bersamanya, masih ingin menatapnya, dan masih menggenggam tangannya. Jimin akan selalu melindunginya. Jimin rela Soeun menganggapnya sebagai Park Jungho, asalkan Soeun tetap berada di sisinya. Ia rela. Rela.

--Walaupun Soeun menyukai Park Jungho dan tak mengenal dirinya yang asli, Park Jimin.--

Ne, neomu yeopposseo!” jawab Jimin.

Gomawo.” Ujar Soeun sambil merangkul Jimin. Senyum Jimin mengembang. “Gomawoyo, Jungho-sshi!” ujar Soeun lagi. Senyuman Jimin perlahan pudar.

“Baiklah, sekarang sudah gelap, ayo kita makan!” ajak Jimin sambil melepas rangkulan Soeun dan menggenggam tangannya. Soeun mengangguk setuju.

***

Kerlap-kerlip bintang menambah indahnya malam. Soeun menatap bintang-bintang itu di kaca bus yang sedang di naikinya bersama Jimin.

Yeppeuda...” ujar Jimin memuji bintang itu seakan membaca pikiran Soeun.

Ne.” Ujar Seoun membenarkan perkataan Jimin.

“Kau tidak mengantuk?” tanya Jimin kepada Soeun.

“Bagaimana denganmu?” tanya Soeun balik.

“Tidurlah, besok akan ada perjalanan yang panjang. Aku akan menjagamu malam ini.” balas Jimin. Sambil merapatkan mantelnya dalam-dalam.

Ne. Selamat malam!” ujar Soeun. Jimin hanya membalasnya dengan anggukan. Beberapa lama kemudian, Soeun terlelap dalam tidurnya.

***

“Jungho-sshi!” seru Soeun yang setengah tidur. Jimin pun bangun. “Aku ingin meminta satu hal.” Tambahnya. Jimin melihat Soeun dengan heran. Mungkin Soeun hanya mengingau, pikirnya.

“Apa itu?” balas Jimin yang belum sepenuhnya bangun.

“Tetaplah di sisiku. Jangan pergi.” Balas Soeun.

Jimin terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana.

Geurae. Aku akan tetap di sisimu. Nan... dangshiniya....” balas Jimin sambil tersenyum kecil. Soeun pun kembali tidur.

Namun, tidak dengan Jimin.

Ia tidak tidur kembali. Ia masih bangun.

Setitik air mata pun jatuh membasahi pipinya. Jimin bahagia. Sudah sangat lama ia menantikan kata yang dapat meyakinkan hatinya. Bahwa Soeun menyukainya. Dan hari ini, doanya terkabul, Soeun menantikannya, Soeun tidak ingin ia pergi, Soeun ingin ia tetap di sisinya, untuk selamanya.

Jimin mengerti kehendak Tuhan yang diberikan kepadanya. Ya, Tuhan mengembalikan Soeun ke sisinya, dalam keadaan lupa ingatan. Jimin tahu, Soeun akan membencinya, jika Soeun tidak lupa ingatan. Soeun tidak ingin bertemu dengannya, jika Soeun tidak lupa ingatan. Soeun tidak akan memaafkan Jimin, jika Soeun tidak lupa ingatan. Namun satu hal yang perlu dipertahankannya, Jimin harus melindungi Soeun.

Harus. Karena Jimin yang telah membuat Soeun terluka.

Karena dengan mendengar nama asli Jungho, Soeun akan sakit.

***

“Kemana kita akan pergi, Jungho-sshi?” tanya Soeun sambil menggenggam erat tangan Jimin.

“Ayo kita makan dulu. Sebentar lagi gelap.” Ujar Jimin seraya menarik bangku di restoran kecil itu, dan menyuruh Soeun duduk.

“Aku heran, kau selalu mengajakku pergi ke tempat yang sepi.” Papar Soeun langsung. “Seperti artis yang takut keramaian saja.” Tambah Soeun.

“Ahh.. itu.... bukan....”

“Sudahlah, aku cuma bercanda.” Ujar Soeun sambil tersenyum simpul. Jimin pun tersenyum kecil.

“Hmm... aku akan ke toilet dulu.” Ujar Jimin sambil beranjak pergi. Soeun menatap namja itu dengan aneh.

Namun, pesan masuk dari ponsel Jimin mengalihkan pandangannya.

Dari Yoongi hyung.

‘Cepatlah kembali. Kita akan ada tour dadakan.’

“Yoongi?” tanya Soeun. Kepalanya kini pusing melihat nama itu. Soeun merasa nama itu sangat familiar. Dengan segera Soeun membuka beberapa kontak di ponsel Jimin.

Seokjin hyung.

Tunggu! Bukankah itu oppanya Soeun?

Soeun menyamakan nomor oppanya dengan nomor Seokjin di ponsel Jimin. Hasilnya, sama, dan tentunya persis.

Kepala Soeun bertambah sakit. Ia sulit bernafas.

Mengapa kedua nama orang itu sepertinya tidak asing lagi di indera pendengarannya. Satu hal yang ia ketahui, Jungho yang dikenalnya memiliki hubungan dengan semua ini.

Tour?” ujar Soeun kembali terusik. “Jungho akan tour? Untuk apa?” tanyanya lagi yang membuat kepalanya semakin sakit. Dengan segera, Soeun membuka google di ponselnya. Ia mengetik sekumpulan nama itu.

‘Jungho, Seokjin, & Yoongi’

Sebuah kalimat pemberitahuan pun keluar.

‘Did you Mean Jungkook, Hoseok, Seokjin, & Yoongi?’

“Jungkook? Hoseok?” tanya Soeun kembali. Kepalanya semakin sakit.

Soeun berusaha mengingat nama itu.

“Jungkook.... Hoseok.... Seokjin... Yoongi... Tae..” ujar Soeun sambil berpikir keras. “Tae... Tae... Taeyung.. Taeyoon... Taehyung?” ujar Soeun lagi. “Namjoon?” ujar Soeun tak menyerah. “Bangtan So—“

“Soeun-ah? Gwaenchana?” tanya Jimin cemas melihat Soeun yang pucat.

“Ahh... ani....” ujar Soeun sambil berusaha untuk berdiri. Jimin membantunya. “Jungho-sshi, bisakah kita pulang saja?” tanya Soeun.

“Baiklah, ayo pulang.”

***

“Jungho-sshi, gomawoyo. Untuk  mengajakku ke sini.” Tutur Soeun sambil mempererat mantelnya. Jimin tersenyum kecil.

“Baiklah. Aku akan mencari bus di sekitar sini dulu. Tunggu di sini, ne?” ujar Jimin sambil mengacak rambut Soeun, dan berlalu pergi.

Soeun terdiam. Ia merasa familiar dengan kontak fisik yang Jimin lakukan padanya beberapa detik yang lalu. Dengan keras, Soeun kembali mengingat kejadian-kejadian yang pernah dialaminya.

“Ah! Jimin-ah!” pekik Soeun. Langkah Jimin pun terhenti. “Bisakah kau mengantarkanku ke sekolah besok? Kau tahu kan, oppa tidak mungkin mengantarku besok. Dan aku tak mau mengganggunya.” Tambah Soeun.

“Oh, arasseo.” Paham Jimin sambil mengacak-acak rambut hitam legam milik Soeun. Jimin memang terbiasa mengacak-acak rambutnya. “Masuklah!” perintah Jimin. Soeun pun masuk.

Air mata Soeun mengalir deras di pipinya. Kakinya melemas, ia tak mampu berdiri lagi. Seluruh tubuhnya letih, melihat kenyataan yang ada. Soeun baru mengerti.

“Jimin! Park Jimin!” pekik Soeun hingga membuat Jimin berbalik.

Ne—“ potong Jimin sambil menampaki Soeun yang menangis beberapa meter di belakangnya.

“Jimin-ah!” ujar Soeun masih dalam isakan. Jimin baru mengerti. Gadis itu sudah pulih.Ya, gadis itu menyebut namanya. Kali ini Park Jimin, bukan Park Jungho.

“Soeun-ah! Neo... neo..” Mata Jimin memerah. Ia tak menyangka semua hal ini akan terjadi kepadanya. Jimin berlari mendekati Soeun, dan merangkul gadis itu sekuat tenaganya, begitu pula dengan Soeun. “Kau telah kembali.”

***

After 9 Months....
Night at 09.00
-Namsan Tower-

“Jimin-ah!” seru gadis yang bernama Soeun itu sambil melambaikan tangannya pada Jimin. Jimin pun mendekatinya.

“Soeun-ah!” balas Jimin.

“Bagaimana tour dua-bulanmu?” tanya Soeun sambil melumat americano yang masih tersisa dibibirnya.

“Sangat baik!” ujar Jimin bersemangat. “Tenang saja. Tahun depan akan kuberikan tiket konser kami untukmu.”

“Kenapa harus tahun depan?” tatap Soeun jengkel.

“Hei... kau masih SMA, dan sebentar lagi akan ada ujian. Dan ingat, sekarang aku ini sunbae-mu.... Jadi kau harus bersikap sopan!” ujar Jimin bangga.

“Aisshh.... kalau begitu aku akan minta langsung dengan Seokjin oppa. Dan, kau tahu kan, dari dulu aku memiliki otak encer. Untuk ujian, semuanya sudah kupersiapkan matang-matang.” Balas Soeun bertambah jengkel.

“Oh.... ya sudah... minta saja kepada oppa-mu. Aku akan memberikan tiketku kepada Seolhyun.” Ujar Jimin lantang.

“Mwo? Seolhyun... Oh Seolhyun?” tanya Soeun tak rela. Jimin mengangguknya mantap. “Waeyo? Kenapa harus dia?” tanya Soeun lagi.

“Karena kau tak mau.” Balas Jimin singkat.

Ya! Apa kau mencoba untuk selingkuh, eoh?” tanya Soeun lagi. “Ya! Kau harus berikan tiket itu padaku!” bentak Soeun kepada Jimin.

“Waeyo?” tanya Jimin setengah bercanda.

“Karena aku yeoja-chingumu.” Balas Soeun pelan.

“Harus imut!” kali ini Jimin yang membentaknya.

“Jimin oppa, berikan aku tiketnya, ne?” ujar Soeun lembut sambil mengedipkan kedua matanya. Jimin pun memeluk lembut tubuh gadis itu.

“Dengan senang hati.” Sambut Jimin.

“Hmm... Oh ya, bagaimana kabar Seolhyun?” tanya Soeun dadakan.

“Ya, baik. Kudengar dia sudah memiliki kekasih. Kalau tidak salah.” Ujar Jimin asalan. “Aku dan Seolhyun hanya berpura-pura pacaran, untuk mengerjaimu. Jadi, jangan khawatir.” Tambah Jimin.

“Tapi, ia selalu kasar kepadaku.” Ujar Soeun.

“Dia memang pernah menganggap hubungan kami serius. Tapi, aku selalu menekankan bahwa itu salah besar. Aku hanya menyuruhnya akting sebagai pacarku. Karena dulu aku pernah membantunya. Tak lebih.” Balas Jimin.

“Oh... arasseo.”

“Hmm..” Jimin berdeham keras. “Apa kau cemburu?” tanya jimin.

A-a-aniya... mana mungkin.” Bantah Soeun.

“Setidaknya aku harus berterima kasih kepada semua temanku yang membantuku untuk mengerjaimu.” Ujar Jimin panjang lebar.

“Maksudmu?”

“Jungkook, Taehyung, Hoseok, Hyeri, dan Jinhee. Mereka yang telah membuat rencanaku menjadi berhasil.” Ujar Jimin santai.

“Aiishhh! Jinjja? Jadi, mereka semua mengetahui itu semua. Dan artinya.... aku sendiri yang tidak tahu?” ujar Soeun tak percaya. “Ya! Jimin-ah! Kenapa kau begitu tega, eoh? Jadi selama ini aku menjadi anak bodoh diantara kalian?” kata Soeun mulai geram. Dengan sigap Jimin lari keliling menara itu. Soeun berusaha mengejarnya.

Dan tentunya, Soeun jatuh. Soeun mengaduh kesakitan. Jimin mendekatinya dengan khawatir.

“Soeun-ah? Jaljinaes— Arrgghhh!!“

“Hahaha... kini kau masuk dalam jebakanku, Park Jimin! Hahaha!” Potong Seolhyun seraya menyubit kedua pipi Jimin. Namun, tak sampai satu menit...

Chu~~

Jimin mengecup bibir gadis itu. Wajah Soeun memerah. Ia menatap kosong lelaki yang baru saja mengecup bibirnya itu.

Dan...

Yeahh....

Jimin tahu, sebesar apa pertandingan yang gelar oleh seorang Soeun, ia mampu mengalahkannya. Jimin mampu membuat wajah Soeun memerah karena malu. Jimin mampu membuat Soeun menjadi canggung terhadapnya. Jimin mampu membuat Soeun selalu jatuh di pelukannya. Karena sampai detik ini juga, Jimin tetap menjadi pemenangnya.

Jimin tahu, semua akan berakhir dengan kemenangan yang terus diraihnya dalam mengambil hati seorang Soeun. Dan untuk selamanya, Soeun tak akan mampu mengalahkan pesona Jimin, Park Jimin.

Itu semua karena Jimin milik Soeun. Jimin dapat menakhlukan Soeun karena Jimin milik Soeun. Ya, karena Jimin milik Soeun seorang diri.

-I’m Yours-

A/N : Wehehehee.... akhirnya bisa juga nyelesain ni FF. Minta kritik n saran yang membangun juseyo.... Jujur ni sebenarnya FF kedua yang nae siap bikin. Jadi mohon bimbingannya, karena semua manusia takkan luput dari kesalahan.... Oh ya, mohon maaf bila ada typo bertebaran, n FF absurb yang kagak pernah jelas ini....

Trims from Author...^^

No comments:

Post a Comment