Sunday, 28 December 2014

I'm Yours - Part 3



Title : 당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee [Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS.

HAPPY READING! ^^

***

So I won’t hesitate
No more, no more
It cannot wait, I’m sure

There’s no need to complicate,
Our time is short
This is our fate, I’m Yours

-Jason Mraz | I’m Yours-

***

[THREE : YOU’RE NOT MINE, BUT I’M YOURS]

Saturday, June 26th 2014

-Soeun’s House-

Seberkas cahaya putih menerawang di celah-celah jendela kamar Soeun. Panasnya sampai ketulang rusuknya. Sungguh panas. Soeun yang merasakan panasnya cahata matahari pagi pun lekas membuka matanya.

Bukan bangun dari tidurnya.

Melainkan membukan matanya.

Melihat tanggal kepergiannya yang kian mendekat, Soeun hanya mendesah malas. Tentu saja. Ada hal yang membuat Soeun tak puas dengan semua ini.

Mendengar semua perkataan Seolhyun di pesta Yoongi waktu itu. Adalah saat yang paling menyakitkan batinnya. Namun... melihat Seolhyun tersenyum licik kepadanya sebelum mendekati Jimin, membuat Soeun bertambah benci dengan mereka berdua.

Tentunya membuat Soeun menjadi canggung dengan Jimin. Setiap Jimin berada di dekatnya, Soeun hanya menjauh. Namun, ketika melihat Seolhyun dan Jimin akrab, Soeun merasa keberatan. Di hatinya, dia tak ingin Jimin bersama yeoja licik itu lagi. Soeun khawatir Jimin dirasuki yeoja itu. Soeun sangat benci itu.

Atau Soeun cemburu?

Soeun membuang pikiran itu. Bangaimana pun nasi telah menjadi bubur. Bagaimana pun nantinya, dia akan pergi meninggalkan semua temannya, dan hidup dengan teman-teman baru di lingkungan yang baru.

Tapi, memikirkan meniggalkan Jimin. Soeun merasa bersalah. Bukan hanya itu, perasaan tak tega pun juga membaur dan mendominasi seluruh benaknya.

Dan mendengar ucapan Seolhyun, memang ada benarnya juga. Jimin telah memiliki Seolhyun. Dan Soeun pun datang. Tapi, niatnya bukan menggoda Jimin.

Kini Soeun bimbang. Dengan perasaannya sendiri.

Apa dia menyukai Jimin?

***

-SAHS-

“Soeun-ah! Awas!” teriak Jinhee dari belakang. Soeun yang awalnya hanya melihat jalan kini melihat kearah depan. Dan.........

‘Brukk!!!’ sekumpulan telur busuk pun melayang kearah Soeun. Soeun kena. Namun tetap sabar menghadapi itu semua dengan matanya yang kian berkaca.

“Hahaha....... Kurasa kau pantas memdapatkan itu, penggoda!” ujar siswi yang berada di sebelah Seolhyun.

“Hei... semua video aktingmu di pesta Yoongi oppa malam itu sudah di publikasikan ke seluruh sekolah. Jadi, kau tidak bisa bohong lagi.” Ujar yang satunya. Air mata Soeun berlimpahan. Kini semua teman di sekolahnya membencinya. Sementara Seolhyun, hanya tersenyum sinis.

“Ya! Kau seharusnya mengaca sekarang! Kau sekarang jelek! Tentu saja karena hatimu itu yang busuk. Menyingkirlah dari Jimin! Kau merusak namanya sebagai idol! Aku rasa semua nilaimu yang selalu menembus juara satu juga bukan karena usahamu sendiri!” ujar yeoja lainnya. Soeun pun melirik geram ke arah Seolhyun.

Seolhyun pun dengan amat senang mengeluarkan ponsel dan melemparkannya kepada Soeun, dan tiba tepat di ujung kaki Soeun. Disana terdapat videonya ketika Jimin membangunkannya di pesta Yoongi itu. Soeun semakin geram dengan tingkah laku Seolhyun itu. Tapi, dengan sekuat tenaga, Soeun menahan emosinya. Tiba-tiba, mobil Jimin pun datang. Seolhyun dan teman-temannya pun terkejut melihat Jimin turun dari mobil itu. Dengan segera Jimin merangkul tubuh yeoja itu dan membawanya ke mobil. Jimin pun membawa Soeun ke tempat yang tenang.

“Tenanglah dulu!” seru Jimin prihatin.

“Wae? Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa selalu aku? Kenapa bukan yeoja-chingumu itu?” tanya Soeun setangah kesal.
                              
“Aku menyukaimu.....” ujar Jimin.

“Kau bohong. Kau selalu menyusahkanku. Mana mungkin kau menyukaiku. Kau yang telah membuat ini semua, PARK JIMIN!” pekik Soeun. Jimin hanya terdiam merasa bersalah. “Gara-gara kau, aku dibenci semua siswi! Gara-gara kau, aku di salahi! Gara-gara kau, aku di maki, PARK JIMIN! APA KAU DENGAR?” teriak Soeun yang hilang sudah kesabarannya. Jimin hanya terdiam. “Mulai sekarang jangan ganggu aku, jangan selamatkan aku, selamatkan saja yeoja-mu itu!” bentak Soeun melunak. Soeun pun pergi.

***

-11 B Class-

“Baiklah semuanya, silakan kerjakan latikan kalian halaman dua puluh....” ujar Heo seonsaeng-nim terputus akibat ketukan pintu kelas. Heo seonsaeng-nim pun membuka pintu itu. Dan....

Soeun datang.

Waeyo? Ada apa denganmu?” tanya Heo seonsaeng-nim kaget melihat rupa Soeun yang sangat kusut. Kata-kata Heo seonsaeng-nim pun membuyarkan aktivitas Jimin. Jimin pun langsung melirik ke teman bicara Heo seonsaeng-nim itu.

Ani. Aku terlambat datang.” Ujar Soeun dengan ekspresi kosong. Soeun pun segara masuk ke kelas. Melihat bangkunya terletak di sebelah Jimin, Soeun datang menghampiri bangku Jinhee dan Hoseok yang berada di belakang.

“Hoseok-sshi,” ujar Soeun tegas kepada Hoseok dengan formal. “Bisakah kau pindah hari ini saja ke bangku ku. Aku tak bernafsu.” Ujar Soeun. Hoseok yang mengerti perasaan temannya itu rela pindah. Heo seonsaeng-nim melirik aneh Soeun. Tidak biasanya Soeun berkata tajam seperti itu. Heo seonsaeng-nim hanya mendesah kecil melihat keadaan Soeun sekarang ini.

***

Perpustakaan. Itulah tempat yang Soeun butuhkan kali ini. Lingkungan tenang dan sepi akan siswa pengunjung. Tanpa harus mendengar ocehan beberapa siswi itu.

Membaca. Itulah tujuannya disini. Membaca selalu menghilangkan semua pikiraanya. Seperti cara menjernihkan pikirannya di lingkungan sekolah. Dan tentu tempat favotit Soeun ini di ketahui oleh teman sekolahnya. Tentunya Jimin juga.

Jimin pun datang mencari Soeun di perpustakaan itu. Jimin mencarinya dengan teliti. Setelah beberapa lama, Jimin pun menemuinya. Soeun duduk bersandar di salah satu rak buku tua sekolahnya. Menopangkan wajahnya dengan tangannya. Itulah yang dilakukannya sekarang. Jimin mendekatinya.

“Soeun-ah!” seru Jimin. Soeun hanya diam. “Soeun-ah! Lihat aku!” Jimin memohon.

“Diamlah!” guman Soeun tenang. Jimin pun menarik kedua tangan Soeun dan memeluknya.

“Mereka tak akan menganggumu lagi. Percayalah!” yakin Jimin.

“Apa yang membuatmu yakin?” tanya Soeun sambil melepas kasar pelukan Jimin itu. “Kau pikir itu mudah? Kau mungkin di hormati. Tapi bagaimana dengan aku? Itu tak mungkin.” Ujar Soeun lepas.

“Bukan itu maksudku,” Jimin berujar.

“Sudahlah! Aku tak peduli lagi. Aku juga akan pergi...” jelas Soeun.

“Aku mencitaimu..... Sungguh...... Aku dan Seolhyun hanya berpu....” tanya Jimin. Dan...

‘Plakkk!’

Tangan Soeun pun melayang keras ke pipi namja itu...

“Ternyata yang lain benar.... Kau orang yang tidak benar......” ujar Soeun sambil beranjak pergi.

***

‘Teng... Tengg.... Tengggg.....’

Bel pulang berbunyi.

Semua siswa dan siswi telah pulang. Kecuali Hyeri, Jinhee, Taehyung, Jungkook, Hoseok, dan tentu saja Soeun.

“Kurasa, teman-teman yang lain sangat membenciku.” Ujar Soeun sambil tertawa sedih. “Ucapkan salamku pada mereka.” Tambah Soeun. Soeun pun menatap seisi kelasnya. Menatap sedih. “Waktu cepat berlalu. Hingga tibalah hari ini. Kuharap kalian akan lebih baik tanpa aku...” sesal Soeun.

“Jangan seperti itu! Kami akan kehilanganmu.” Ujar Jungkook tulus.

“Baiklah, aku tak berharap banyak.....” tambah Soeun. “Sampaikan maafku pada Jimin dan Seolhyun. Barangkali mereka akan senang. Aku tak sabar menanti senyum bahagianya mendengar kepergianku.” Tambah Soeun.

***

Sunday, June 27th 2014

-Jimin’s house-

“Arrgghh!!! Apa yang telah ku perbuat!” ujar Jimin panik sambil bangkit dari tidurnya. Jimin pun meraih ponselnya yang kunjung tak mendapatkan jawaban dari Soeun. Sesekali ia menghempaskan ponselnya. Tak berguna....

Jimin yang merasa khawatir pun akhirnya memutuskan pergi kerumah Soeun.

-Soeun’s house

“Soeun-ah!” Pekik Jimin dari luar. Tidak ada jawaban. “Soeun-ah!” Pekik Jimin kembali. Hasilnya pun sama. “Kim Soeun!” pekiknya untuk yang ketiga kali, namun Soeun tak kunjung menjawab. Jimin pun melihat keadaan rumah Soeun di celah-celah pagar besinya. Sepi. Bahkan mungkin tak ada orang. Jimin pun menyerah.

“Apa yang kau lakukan sekarang, eoh?” tanya Jimin sambil mendesah kecil. “Kau pergi kemana?” tanya Jimin. Tiba-tiba kata-kata yang di lontarkan Jimin pun mengingatkannya akan sesuatu yang pernah di ucapkan Soeun....

‘Tampaknya kalian bertujuh sekarang cukup sibuk. Bahkan oppa-ku sendiri jarang memerhatikanku. Padahal dua minggu lagi.......’

‘Sudahlah! Aku tak peduli lagi. Aku juga akan pergi...’

Dua kalimat yang dilontarkan Soeun waktu itu. Membuat Jimin terdiam.

“Padahal dua minggu lagi? Aku juga akan pergi?” tanya Jimin pada dirinya sendiri. Jimin pun mengingat hal yang diucapkan Soeun itu. Seakan-akan mulai mengerti keadaan ini, Jimin pun menelepon Jinhee untuk meminta penjelasan

Yeoboseyo?” ujar Jinhee ketika mengangkat ponselnya.

“Dimana dia sekarang? Dimana... Soeun?” tanya Jimin langsung kepada intinya.

“Soeun?” tanya Jinhee meminta penjelasan. Jinhee pun melihat jam dinding kamarnya. Pukul 09.10. “Mungkin sedang di dalam perjalanan.” Jelas Jinhee.

“Dalam perjalanan? Ke-kemana?” tanya Jimin mulai panik.

“Kau tak tahu?” tanya Jinhee tak yakin. Jimin tidak menjawab. “Soeun akan pergi ke luar negri. Appa-nya menyuruhnya sekolah di California....” jelas Jinhee.

“Mwo? California?” tanya Jimin meminta penjelasan.

“Ne,” balas Jinhee. “Dan mungkin masih di perjalanan. Cepatlah temui dia sebelum terlambat.” Balas Jinhee. Jimin membatu.

Soeun? California? Untuk sekolah?

Tangannya bergetar hebat. Mata Jimin memerah. Ia tak rela semua akan terjadi dan berakhir sedih. Semua harus sempurna. Sempurna.

Dengan lekas, Jimin menaiki mobilnya. Airmatanya kini menyeruak tajam. Ia bodoh. Ia sudah melepas kepergian Soeun dengan banyak air mata. Sangat bodoh.

Hujan. Hari ini hujan. Perasaan Jimin semakin buruk dibuatnya. Pikirannya kosong. Tak menentu. Tujuannya hanyalah satu, Soeun tidak boleh pergi.

***

Soeun berjalan lemas. Tujuannya tidak menentu. Sekolah ke California bukanlah tujuannya. Ia benci ketika ayahnya memutuskan masalah masa depannya dengan sendiri. Ayahnya terlalu egois.

Kali ini kakinya sakit, dia sudah berjalan lima belas menit. Dan hanya mengelilingi kota Soeul.

Hujan turun. Pikiraannya benar-benar kosong. Tujuannya tak menentu, apakah harus lari dari keputasan ayahnya, atau mengikuti keputusan ayahnya untuk bersekolah ke California. Soeun belum memutuskan.

Soeun menyeberang. Tak sadar, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Memang, tak ada mobil lain di sana selain mobil itu. Bisa di bilang sepi. Langkah Soeun terhenti. Soeun menatap pemilik mobil itu.

Jimin. Park Jimin.

Soeun tak bereaksi sama sekali. Ia sudah tak bernafsu marah-marah.

“Kenapa kau tak memberi tahuku?” tanya Jimin sambil menampaki matanya yang merah. Soeun yang hanya diam pun pergi. Namun, dengan sigap, Jimin menghalanginya.

Jimin melepaskan blazernya, dan memberikannya kepada Soeun. Wajah Soeun memerah.

“Jadi, kau akan menyimpan ini semua selamanya?” tanya Jimin.

“Apa pedulimu, Jimin-sshi?” tanya Soeun balik. “Urusi saja urusan yeoja-mu. Tak usah urusi urusanku. Menyingkirlah!” bantah Soeun tajam. Namun, Jimin tak mengindahkan perintah itu.

“Tapi, kau adalah yeojaku... Aku menyukaimu.” balas Jimin lembut.

“Bagaimana jika aku tak menyukaimu?” tanya Soeun.

“Kau menyukaiku.” Balas Jimin.

“Dan Seolhyun? Apa yang akan kau lakukan kepadanya? Sudahlah tinggalkan aku.”

“Tidak. Aku tak menyukai Seolhyun. Hanya kamu. Aku hanya menyukaimu. Bukankah aku sudah bilang?” tanya Jimin balik. Jimin menggenggan tangan Soeun. Soeun mendecak kesal.

“Dasar bohong! Aku tak menyukaimu! Dan aku tahu, kau bilang menyukaiku hanya untuk menya—“ Jimin mengecup lembut bibir Soeun.

“Jadi kau masih tidak percaya?” ujar Jimin sambil meraih tengkuk Soeun agar jatuh dalam rangkulannya. Soeun menangis. Ia tak tahu mengapa semua hal buruk terjadi kepadanya. Ia begitu benci dengan takdir yang di terimanya kali ini.

Soeun melepaskan rangkulannya dari Jimin. Dengan keras ia memukul kedua bahu bidang Jimin beruntun. Jimin membiarkannya. “Mengapa kau sangat jahat, Jimin-ah? Mengapa kau mempersulitku?” ujar Soeun asalan. Jimin hanya mendengarkannya. Ia merasa bersalah kepada wanita yang dicintainya ini.

Hujan semakin lebat. Soeun yang letih pun kini terduduk. Ia ingin semuanya pikirannya pergi. Semua kenangannya pergi. Semua ocehan teman-temannya pergi. Semua yang mempersulit keadaanya pergi. Jimin pergi.

Kepalanya kini terasa berat. Bagai tak mampu menerima memori hidupnya lagi. Soeun pun tak sadarkan diri.

***

-Hospital-

Seberkas cahaya masuk melalui celah-celah kecil jendela kamar itu. Seakan-akan meminta seorang untuk membuka jendela itu, dan membuarkan sinarnya yang tajam menjerumus masuk menerangi kamarnya itu. Namun, sayang sampai saat ini gadis yang diminta belum sadarkan diri setelah tiga bulan koma.

Jimin hanya menatap sedih gadis yang dicintainya itu terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit. Hatinya sakit melihat gadis itu sakit. Sangat bersalah. Jimin pun pergi.

“Uhh....” desah seseorang di kamar itu, tak lain gadis yang belum sadar selama tiga bulan itu. Kedua orang tuanya melirik ke arah sumber suara yang sangat dirindukannya. “Naneun eodiyo?” tanya gadis itu sambil beranjak dari posisi tidurnya.

“Soeun-ah!” seru kedua orang tuanya kepada gadis yang bernama Soeun itu. “Gwaenchanayo? Aiisshh....” tanya eommanya dengan pipi basah karena air mata. Soeun mengangguk kecil.

“Soeun-ah! Mianhaeyo.... aku terlalu memaksakanmu pergi ke California.” Ujar Appanya sambil merangkul tubuh Soeun dengan bersungguh-sungguh. Soeun tersenyum hambar.

“Soeun-ah!” seru seorang namja yang berdiri di ambang pintu kamar rumah-sakit itu. Soeun beserta kedua orang tuanya melirik ke arah sumber suara itu. Jimin. Kedua orang tua Soeun pun memutuskan untuk keluar.

Jimin merangkul tubuh gadis itu sekuat tenaganya. Soeun hanya diam, tak bereaksi sedikitpun. Jimin melepas rangkulannya. “Gwaenchana?” tanya Jimin dengan manampaki matanya yang merah.

Soeun hanya diam. Ia tak berkutik sama sekali. Mereka bertatapan. Sesekali, Jimin menyelipkan rambut gadis itu ke telinganya.

Neon... nuguseyo?” tanya Soeun yang membuat Jimin membatu. Jimin melirik mata Soeun dalam-dalam.

“Jangan bercanda! Kau mengenalku.” Tutur Jimin sedikit cemas. Soeun menatap heran karena tak paham.

Jinjjayo?” tanya Soeun heran. Soeun memejamkan matanya berusaha mengingat nam-ja yang berada di depannya saat ini. Namun, nihil, Soeun tak mengingatnya. “Maaf, aku tidak mengingat siapa kamu.” Tambah Soeun. Soeun menatap Jimin yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Baiklah, sepertinya kau tak ingin menjawabnya.” Ujar Soeun sedih. “Tapi, bagaimana jika aku memanggilmu Jungho... Kang Jungho? Atau Park Jungho? Atau Kim—“

“Baiklah, terserah apa maumu.” Potong Jimin sambil menarik nafasnya dalam-dalam seraya menahan tangis sesalnya. Jimin tersenyum kecil.

“Geurae, Park Jungho-sshi.” Ujar Soeun dengan mengembangkan senyumnya untuk pertama kali setelah tiga bulam.

***

Amnesia anterograde, adalah penyakit yang dialami Soeun. Soeun yang merasa terbebani dengan hidupnya pun berusaha menghilangkan semua kenangan dalam hidupnya.

--------

A/N :  Amnesia anterograde adalah keadaan dimana seseorang lupa dengan kejadian-      kejadian baru, namun kejadian lama masih dapat diingatnya. Hal ini biasanya disebabkan karena stres berlebihan.

No comments:

Post a Comment