Title : 난당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee
[Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : NO
PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS.
HAPPY READING! ^^
***
So I won’t hesitate
No more, no more
It cannot wait, I’m sure
There’s no need to complicate,
Our time is short
This is our fate, I’m Yours
-Jason Mraz | I’m Yours-
***
[THREE : YOU’RE NOT MINE, BUT I’M YOURS]
Saturday,
June 26th 2014
-Soeun’s House-
Seberkas cahaya putih menerawang di celah-celah jendela kamar Soeun.
Panasnya sampai ketulang rusuknya. Sungguh panas. Soeun yang merasakan panasnya
cahata matahari pagi pun lekas membuka matanya.
Bukan bangun dari
tidurnya.
Melainkan membukan
matanya.
Melihat tanggal kepergiannya yang kian mendekat, Soeun hanya mendesah
malas. Tentu saja. Ada hal yang membuat Soeun tak puas dengan semua ini.
Mendengar semua perkataan Seolhyun di pesta Yoongi waktu itu. Adalah saat
yang paling menyakitkan batinnya. Namun... melihat Seolhyun tersenyum licik
kepadanya sebelum mendekati Jimin, membuat Soeun bertambah benci dengan mereka
berdua.
Tentunya membuat Soeun menjadi canggung dengan Jimin. Setiap Jimin berada
di dekatnya, Soeun hanya menjauh. Namun, ketika melihat Seolhyun dan Jimin
akrab, Soeun merasa keberatan. Di hatinya, dia tak ingin Jimin bersama yeoja licik itu lagi. Soeun khawatir
Jimin dirasuki yeoja itu. Soeun
sangat benci itu.
Atau Soeun cemburu?
Soeun membuang pikiran itu. Bangaimana pun nasi telah menjadi bubur.
Bagaimana pun nantinya, dia akan pergi meninggalkan semua temannya, dan hidup
dengan teman-teman baru di lingkungan yang baru.
Tapi, memikirkan meniggalkan Jimin. Soeun merasa bersalah. Bukan hanya itu,
perasaan tak tega pun juga membaur dan mendominasi seluruh benaknya.
Dan mendengar ucapan Seolhyun, memang ada benarnya juga. Jimin telah
memiliki Seolhyun. Dan Soeun pun datang. Tapi, niatnya bukan menggoda Jimin.
Kini Soeun bimbang. Dengan perasaannya sendiri.
Apa dia menyukai Jimin?
***
-SAHS-
“Soeun-ah! Awas!” teriak Jinhee dari belakang. Soeun yang awalnya hanya
melihat jalan kini melihat kearah depan. Dan.........
‘Brukk!!!’ sekumpulan telur busuk pun melayang kearah Soeun. Soeun kena.
Namun tetap sabar menghadapi itu semua dengan matanya yang kian berkaca.
“Hahaha....... Kurasa kau pantas memdapatkan itu, penggoda!” ujar siswi
yang berada di sebelah Seolhyun.
“Hei... semua video aktingmu di pesta Yoongi oppa malam itu sudah di
publikasikan ke seluruh sekolah. Jadi, kau tidak bisa bohong lagi.” Ujar yang
satunya. Air mata Soeun berlimpahan. Kini semua teman di sekolahnya
membencinya. Sementara Seolhyun, hanya tersenyum sinis.
“Ya! Kau seharusnya mengaca sekarang! Kau sekarang jelek! Tentu saja karena
hatimu itu yang busuk. Menyingkirlah dari Jimin! Kau merusak namanya sebagai
idol! Aku rasa semua nilaimu yang selalu menembus juara satu juga bukan karena
usahamu sendiri!” ujar yeoja lainnya.
Soeun pun melirik geram ke arah Seolhyun.
Seolhyun pun dengan amat senang mengeluarkan ponsel dan melemparkannya
kepada Soeun, dan tiba tepat di ujung kaki Soeun. Disana terdapat videonya
ketika Jimin membangunkannya di pesta Yoongi itu. Soeun semakin geram dengan
tingkah laku Seolhyun itu. Tapi, dengan sekuat tenaga, Soeun menahan emosinya.
Tiba-tiba, mobil Jimin pun datang. Seolhyun dan teman-temannya pun terkejut
melihat Jimin turun dari mobil itu. Dengan segera Jimin merangkul tubuh yeoja itu dan membawanya ke mobil. Jimin
pun membawa Soeun ke tempat yang tenang.
“Tenanglah dulu!” seru Jimin prihatin.
“Wae? Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa selalu aku? Kenapa bukan yeoja-chingumu itu?” tanya Soeun
setangah kesal.
“Aku menyukaimu.....” ujar Jimin.
“Kau bohong. Kau selalu menyusahkanku. Mana mungkin kau menyukaiku. Kau
yang telah membuat ini semua, PARK JIMIN!” pekik Soeun. Jimin hanya terdiam
merasa bersalah. “Gara-gara kau, aku dibenci semua siswi! Gara-gara kau, aku di
salahi! Gara-gara kau, aku di maki, PARK JIMIN! APA KAU DENGAR?” teriak Soeun
yang hilang sudah kesabarannya. Jimin hanya terdiam. “Mulai sekarang jangan
ganggu aku, jangan selamatkan aku, selamatkan saja yeoja-mu itu!” bentak Soeun melunak. Soeun pun pergi.
***
-11 B Class-
“Baiklah semuanya, silakan kerjakan latikan kalian halaman dua puluh....”
ujar Heo seonsaeng-nim terputus akibat ketukan pintu kelas. Heo seonsaeng-nim
pun membuka pintu itu. Dan....
Soeun datang.
“Waeyo? Ada apa denganmu?” tanya
Heo seonsaeng-nim kaget melihat rupa Soeun yang sangat kusut. Kata-kata Heo
seonsaeng-nim pun membuyarkan aktivitas Jimin. Jimin pun langsung melirik ke
teman bicara Heo seonsaeng-nim itu.
“Ani. Aku terlambat datang.” Ujar
Soeun dengan ekspresi kosong. Soeun pun segara masuk ke kelas. Melihat
bangkunya terletak di sebelah Jimin, Soeun datang menghampiri bangku Jinhee dan
Hoseok yang berada di belakang.
“Hoseok-sshi,” ujar Soeun tegas
kepada Hoseok dengan formal. “Bisakah kau pindah hari ini saja ke bangku ku.
Aku tak bernafsu.” Ujar Soeun. Hoseok yang mengerti perasaan temannya itu rela
pindah. Heo seonsaeng-nim melirik aneh Soeun. Tidak biasanya Soeun berkata
tajam seperti itu. Heo seonsaeng-nim hanya mendesah kecil melihat keadaan Soeun
sekarang ini.
***
Perpustakaan. Itulah tempat yang Soeun butuhkan kali ini. Lingkungan tenang
dan sepi akan siswa pengunjung. Tanpa harus mendengar ocehan beberapa siswi
itu.
Membaca. Itulah tujuannya disini. Membaca selalu menghilangkan semua
pikiraanya. Seperti cara menjernihkan pikirannya di lingkungan sekolah. Dan
tentu tempat favotit Soeun ini di ketahui oleh teman sekolahnya. Tentunya Jimin
juga.
Jimin pun datang mencari Soeun di perpustakaan itu. Jimin mencarinya dengan
teliti. Setelah beberapa lama, Jimin pun menemuinya. Soeun duduk bersandar di
salah satu rak buku tua sekolahnya. Menopangkan wajahnya dengan tangannya.
Itulah yang dilakukannya sekarang. Jimin mendekatinya.
“Soeun-ah!” seru Jimin. Soeun
hanya diam. “Soeun-ah! Lihat aku!”
Jimin memohon.
“Diamlah!” guman Soeun tenang. Jimin pun menarik kedua tangan Soeun dan
memeluknya.
“Mereka tak akan menganggumu lagi. Percayalah!” yakin Jimin.
“Apa yang membuatmu yakin?” tanya Soeun sambil melepas kasar pelukan Jimin
itu. “Kau pikir itu mudah? Kau mungkin di hormati. Tapi bagaimana dengan aku?
Itu tak mungkin.” Ujar Soeun lepas.
“Bukan itu maksudku,” Jimin berujar.
“Sudahlah! Aku tak peduli lagi. Aku juga akan pergi...” jelas Soeun.
“Aku mencitaimu..... Sungguh...... Aku dan Seolhyun hanya berpu....” tanya
Jimin. Dan...
‘Plakkk!’
Tangan Soeun pun melayang keras ke pipi namja
itu...
“Ternyata yang lain benar.... Kau orang yang tidak benar......” ujar Soeun
sambil beranjak pergi.
***
‘Teng... Tengg.... Tengggg.....’
Bel pulang berbunyi.
Semua siswa dan siswi telah pulang. Kecuali Hyeri, Jinhee, Taehyung,
Jungkook, Hoseok, dan tentu saja Soeun.
“Kurasa, teman-teman yang lain sangat membenciku.” Ujar Soeun sambil
tertawa sedih. “Ucapkan salamku pada mereka.” Tambah Soeun. Soeun pun menatap
seisi kelasnya. Menatap sedih. “Waktu cepat berlalu. Hingga tibalah hari ini.
Kuharap kalian akan lebih baik tanpa aku...” sesal Soeun.
“Jangan seperti itu! Kami akan kehilanganmu.” Ujar Jungkook tulus.
“Baiklah, aku tak berharap banyak.....” tambah Soeun. “Sampaikan maafku
pada Jimin dan Seolhyun. Barangkali mereka akan senang. Aku tak sabar menanti senyum
bahagianya mendengar kepergianku.” Tambah Soeun.
***
Sunday, June
27th 2014
-Jimin’s house-
“Arrgghh!!! Apa yang telah ku perbuat!” ujar Jimin panik
sambil bangkit dari tidurnya. Jimin pun meraih ponselnya yang kunjung tak
mendapatkan jawaban dari Soeun. Sesekali ia menghempaskan ponselnya. Tak
berguna....
Jimin yang merasa khawatir pun akhirnya memutuskan pergi
kerumah Soeun.
-Soeun’s house
“Soeun-ah!” Pekik Jimin dari luar. Tidak ada jawaban.
“Soeun-ah!” Pekik Jimin kembali. Hasilnya pun sama. “Kim Soeun!” pekiknya untuk
yang ketiga kali, namun Soeun tak kunjung menjawab. Jimin pun melihat keadaan
rumah Soeun di celah-celah pagar besinya. Sepi. Bahkan mungkin tak ada orang.
Jimin pun menyerah.
“Apa yang kau lakukan sekarang, eoh?” tanya Jimin sambil
mendesah kecil. “Kau pergi kemana?” tanya Jimin. Tiba-tiba kata-kata yang di
lontarkan Jimin pun mengingatkannya akan sesuatu yang pernah di ucapkan Soeun....
‘Tampaknya kalian bertujuh sekarang cukup sibuk. Bahkan
oppa-ku sendiri jarang memerhatikanku. Padahal dua minggu lagi.......’
‘Sudahlah! Aku tak peduli lagi. Aku juga akan pergi...’
Dua kalimat yang dilontarkan Soeun waktu itu. Membuat Jimin
terdiam.
“Padahal dua minggu lagi? Aku juga akan pergi?” tanya
Jimin pada dirinya sendiri. Jimin pun mengingat hal yang diucapkan Soeun itu.
Seakan-akan mulai mengerti keadaan ini, Jimin pun menelepon Jinhee untuk
meminta penjelasan
“Yeoboseyo?”
ujar Jinhee ketika mengangkat ponselnya.
“Dimana dia sekarang? Dimana... Soeun?” tanya Jimin
langsung kepada intinya.
“Soeun?” tanya Jinhee meminta penjelasan. Jinhee pun
melihat jam dinding kamarnya. Pukul 09.10. “Mungkin sedang di dalam
perjalanan.” Jelas Jinhee.
“Dalam perjalanan? Ke-kemana?” tanya Jimin mulai panik.
“Kau tak tahu?” tanya Jinhee tak yakin. Jimin tidak
menjawab. “Soeun akan pergi ke luar negri. Appa-nya menyuruhnya sekolah di
California....” jelas Jinhee.
“Mwo? California?”
tanya Jimin meminta penjelasan.
“Ne,” balas Jinhee. “Dan mungkin masih di perjalanan.
Cepatlah temui dia sebelum terlambat.” Balas Jinhee. Jimin membatu.
Soeun? California?
Untuk sekolah?
Tangannya bergetar hebat. Mata Jimin memerah. Ia tak rela
semua akan terjadi dan berakhir sedih. Semua harus sempurna. Sempurna.
Dengan lekas, Jimin menaiki mobilnya. Airmatanya kini
menyeruak tajam. Ia bodoh. Ia sudah melepas kepergian Soeun dengan banyak air
mata. Sangat bodoh.
Hujan. Hari ini hujan. Perasaan Jimin semakin buruk
dibuatnya. Pikirannya kosong. Tak menentu. Tujuannya hanyalah satu, Soeun tidak
boleh pergi.
***
Soeun berjalan lemas. Tujuannya tidak menentu. Sekolah ke
California bukanlah tujuannya. Ia benci ketika ayahnya memutuskan masalah masa
depannya dengan sendiri. Ayahnya terlalu egois.
Kali ini kakinya sakit, dia sudah berjalan lima belas
menit. Dan hanya mengelilingi kota Soeul.
Hujan turun. Pikiraannya benar-benar kosong. Tujuannya
tak menentu, apakah harus lari dari keputasan ayahnya, atau mengikuti keputusan
ayahnya untuk bersekolah ke California. Soeun belum memutuskan.
Soeun menyeberang. Tak sadar, sebuah mobil berhenti tepat
di hadapannya. Memang, tak ada mobil lain di sana selain mobil itu. Bisa di
bilang sepi. Langkah Soeun terhenti. Soeun menatap pemilik mobil itu.
Jimin. Park Jimin.
Soeun tak bereaksi sama sekali. Ia sudah tak bernafsu
marah-marah.
“Kenapa kau tak memberi tahuku?” tanya Jimin sambil
menampaki matanya yang merah. Soeun yang hanya diam pun pergi. Namun, dengan
sigap, Jimin menghalanginya.
Jimin melepaskan blazernya,
dan memberikannya kepada Soeun. Wajah Soeun memerah.
“Jadi, kau akan menyimpan ini semua selamanya?” tanya
Jimin.
“Apa pedulimu, Jimin-sshi?”
tanya Soeun balik. “Urusi saja urusan yeoja-mu.
Tak usah urusi urusanku. Menyingkirlah!” bantah Soeun tajam. Namun, Jimin tak
mengindahkan perintah itu.
“Tapi, kau adalah yeojaku...
Aku menyukaimu.” balas Jimin lembut.
“Bagaimana jika aku tak menyukaimu?” tanya Soeun.
“Kau menyukaiku.” Balas Jimin.
“Dan Seolhyun? Apa yang akan kau lakukan kepadanya? Sudahlah
tinggalkan aku.”
“Tidak. Aku tak menyukai Seolhyun. Hanya kamu. Aku hanya
menyukaimu. Bukankah aku sudah bilang?” tanya Jimin balik. Jimin menggenggan
tangan Soeun. Soeun mendecak kesal.
“Dasar bohong! Aku tak menyukaimu! Dan aku tahu, kau
bilang menyukaiku hanya untuk menya—“ Jimin mengecup lembut bibir Soeun.
“Jadi kau masih tidak percaya?” ujar Jimin sambil meraih
tengkuk Soeun agar jatuh dalam rangkulannya. Soeun menangis. Ia tak tahu
mengapa semua hal buruk terjadi kepadanya. Ia begitu benci dengan takdir yang
di terimanya kali ini.
Soeun melepaskan rangkulannya dari Jimin. Dengan keras ia
memukul kedua bahu bidang Jimin beruntun. Jimin membiarkannya. “Mengapa kau
sangat jahat, Jimin-ah? Mengapa kau mempersulitku?” ujar Soeun asalan. Jimin hanya
mendengarkannya. Ia merasa bersalah kepada wanita yang dicintainya ini.
Hujan semakin lebat. Soeun yang letih pun kini terduduk.
Ia ingin semuanya pikirannya pergi. Semua kenangannya pergi. Semua ocehan
teman-temannya pergi. Semua yang mempersulit keadaanya pergi. Jimin pergi.
Kepalanya kini terasa berat. Bagai tak mampu menerima
memori hidupnya lagi. Soeun pun tak sadarkan diri.
***
-Hospital-
Seberkas cahaya masuk melalui
celah-celah kecil jendela kamar itu. Seakan-akan meminta seorang untuk membuka
jendela itu, dan membuarkan sinarnya yang tajam menjerumus masuk menerangi
kamarnya itu. Namun, sayang sampai saat ini gadis yang diminta belum sadarkan
diri setelah tiga bulan koma.
Jimin hanya menatap sedih gadis
yang dicintainya itu terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit. Hatinya sakit
melihat gadis itu sakit. Sangat bersalah. Jimin pun pergi.
“Uhh....” desah seseorang di
kamar itu, tak lain gadis yang belum sadar selama tiga bulan itu. Kedua orang
tuanya melirik ke arah sumber suara yang sangat dirindukannya. “Naneun eodiyo?” tanya gadis itu sambil
beranjak dari posisi tidurnya.
“Soeun-ah!” seru kedua orang tuanya kepada gadis yang bernama Soeun itu. “Gwaenchanayo? Aiisshh....” tanya
eommanya dengan pipi basah karena air mata. Soeun mengangguk kecil.
“Soeun-ah! Mianhaeyo.... aku
terlalu memaksakanmu pergi ke California.”
Ujar Appanya sambil merangkul tubuh Soeun dengan bersungguh-sungguh. Soeun
tersenyum hambar.
“Soeun-ah!” seru seorang namja yang berdiri di ambang pintu kamar
rumah-sakit itu. Soeun beserta kedua orang tuanya melirik ke arah sumber suara
itu. Jimin. Kedua orang tua Soeun pun memutuskan untuk keluar.
Jimin merangkul tubuh gadis itu
sekuat tenaganya. Soeun hanya diam, tak bereaksi sedikitpun. Jimin melepas
rangkulannya. “Gwaenchana?” tanya
Jimin dengan manampaki matanya yang merah.
Soeun hanya diam. Ia tak
berkutik sama sekali. Mereka bertatapan. Sesekali, Jimin menyelipkan rambut
gadis itu ke telinganya.
“Neon... nuguseyo?” tanya Soeun yang membuat Jimin membatu. Jimin melirik
mata Soeun dalam-dalam.
“Jangan bercanda! Kau
mengenalku.” Tutur Jimin sedikit cemas. Soeun menatap heran karena tak paham.
“Jinjjayo?” tanya Soeun heran. Soeun memejamkan matanya berusaha
mengingat nam-ja yang berada di depannya saat ini. Namun, nihil, Soeun tak
mengingatnya. “Maaf, aku tidak mengingat siapa kamu.” Tambah Soeun. Soeun
menatap Jimin yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Baiklah, sepertinya kau
tak ingin menjawabnya.” Ujar Soeun sedih. “Tapi, bagaimana jika aku memanggilmu
Jungho... Kang Jungho? Atau Park Jungho? Atau Kim—“
“Baiklah, terserah apa maumu.”
Potong Jimin sambil menarik nafasnya dalam-dalam seraya menahan tangis
sesalnya. Jimin tersenyum kecil.
“Geurae, Park Jungho-sshi.” Ujar Soeun dengan mengembangkan
senyumnya untuk pertama kali setelah tiga bulam.
***
Amnesia anterograde, adalah
penyakit yang dialami Soeun. Soeun yang merasa terbebani dengan hidupnya pun
berusaha menghilangkan semua kenangan dalam hidupnya.
--------
A/N : Amnesia anterograde adalah keadaan
dimana seseorang lupa dengan kejadian-
kejadian baru, namun kejadian lama masih dapat diingatnya. Hal ini
biasanya disebabkan karena stres berlebihan.

No comments:
Post a Comment