Title
: Second Chance – At First
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Lee Hyejung [OC] | Min Hanna [OC]
Genre : School-life | Mystery | Romance (Hmm... I think that’s all...)
Rated : General
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT
READERS.
HAPPY READING!^^
*****
Chapter 2
[Semua akan Dimulai dalam Dua Puluh Empat Jam]
-Flash Back-
“Apa maksudmu?” tanya Hanna.
“Kau telah mati.”
“Mwo?”
“Kau telah mati. Dan kematianmu, tiada satupun yang
mengetahuinya.” Jelasnya.
“Waeyo?”
“Kau harus mencari tahunya sendiri.”
“Lalu, apa tugasku?” tanya Hanna dengan penuh makna.
“Apa kau ingin bertemu dengan eommamu?”
“Tentu saja. Eomma
bahkan belum mengetahui kematianku.” Ujar Hanna dengan raut muka sedih.
“Oleh karena itu, kau boleh bertemu dengan eommamu.” Ujar
sosok misterius itu.
“Jeongmal?”
raut wajah Hanna semakin serius. “Bagaimana caranya?” tanyanya.
“Kau tahu, di dunia, tiada yang tidak bisa. Begitu pula
dengan kehadiranmu sekarang.” Kata sosok itu. “Kau bisa memasuki tubuh
seseorang.” Hanna tertegun.
“Lalu, jika orang itu tak memperbolehkanku?” tanya Hanna.
“Aku mempunyai orang yang pastinya dengan sabar
memperbolehkanmu.”
“Maksudmu, kami berhubungan?” tanya Hanna setengah
memaksa.
“Ani, dia
adalah orang yang berhubungan dengan kematian ayahmu.” Kata sosok itu. Hanna
tampak memikirkan sesuatu.
“Dengan begitu aku harus mengancamnya?” tanya Hanna tak
bosan-bosannya.
“Ani. Tanpa kau
ancam dia pasti akan memperbolehkanmu. Kau harus masuk ke tubuhnya dahulu,
ketika kalian telah kembali, baru jelaskan padanya. Itu adalah cara yang lebih
efektif.” ujarnya.
“Jadi aku harus merasukinya dulu, dan setelah kami
kembali, baru aku menjelaskannya?
“Ne. Aku akan memberimu waktu 24 jam untuk sekali
merasuki tubuhnya.” Pintanya. “Yeoja
itu akan pingsan sewaktu pertama kalinya kamu merasukinya. Kira-kira 2 hari.
Dan ketika yeoja itu nantinya sadar, jiwa kalian akan berganti. Tentunya mulai
saat itu waktumu 24 jam dimulai.” Ujarnya.
“Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa memasuki tubuhnya
untuk kedua kalinya atau seterusnya?”
“Tataplah matanya. Tapi, ingat, sebelum kau merasuki
tubuhnya untuk yang kedua kali, kau harus menjelaskan alasanmu dulu. Karena,
semua orang yang mempercayaimu bahwa kau ada, akan bisa melihatmu.” Jelasnya.
“Jadi, jika aku tidak memberitahunya alasanku,
kemungkinan aku tidak dapat menatap matanya karena ia takut padaku?”
“Keurae. Kau benar.” Jawab sosok itu.
-End of Flashback-
*****
“Oh, Hyejung-ah!”
kata seseorang dari belakang. “Ah,
syukurlah kau baik-baik saja!”
“Oh, ne.” Ujar Hyejung canggung.
“Ah, ayo kita
pergi ke kelas! Aku takut kau akan pingsan lagi jika berdiri lama-lama.” Ujar
sahabatnya sambil meraih tangan Hyejung. Hyejung hanya mengikuti keinginan
temannya. Hyejung dan Jihye pun berjalan kekelasnya. Disepanjang kelas, Hyejung
melihat kerumunan orang yang didalamnya terdapat Jungkook. Saking
bersemangatnya hari ini, Hyejung tersenyum dengan seluruh temannya termasuk Jungkook.
Jungkook pun merasa aneh bercampur rasa bersalah. Jihye yang melihat perlakuan
sahabatnya itu terhadap namja yang sangat dibencinya itu merasa jengkel. Jihye
pun dengan cepat menarik tangan Hyejung ke kelas.
“Ah, Hyejung-ah!
Mwohasseo? Kenapa kau tidak
menamparnya?” tanya Jihye.
“Tampar? Siapa?” tanya Hyejung heran.
“Jungkook!” jawab Jihye spontan.
“Maksudmu Jeon... Jungkook?” tanya Hyejung lagi dengan
nada terkejut.
“Ia,”
“Kenapa aku harus menamparnya?” tanya Hyejung dengan nada
heran.
“Apakah kau benar Hyejung?” tanya Jihye dengan nada
serius. Hyejung mulai cemas. “Oh, Hyejung, Jungkook yang telah membuatmu
pingsan. Apakah kau lupa ingatan?”
“Ah, tidak. Aku baru ingat.” Jawab Hyejung. Tiba-tiba
Mira seonsaeng-nim pun datang. Semua siswa dan siswi duduk di tempat duduknya
masing-masing.
“Baiklah semuanya, langsung saja, kita akan lanjutkan
pelajaran berikutnya.” Kata Mira Seonsaeng-nim
memulai pelajaran. Mira seonsaeong-nim
pun menjelaskan pelajaran dengan tenang. Hyejung pun mengangguk mengerti apa
yang diajarkan. Dari sudut kelas, Jungkook memperhatikan tingkah Hyejung,
sangat berbeda dengan biasanya. Biasanya ia selalu tidur jika guru menerangkan,
namun kini fokus terhadap pelajaran. Mengingat kasus tadi pagi, ketika Hyejung
tersenyum kepadanya.
“Jeon Jungkook-sshi!”
tegur Mira seonsaeng-nim kepada Jungkook.
“Tolong kerjakan soal ini!” Jungkook pun munuju ke depan dan mengerjakan
soalnya. Hyejung yang duduk di depan tertegun mendengar itu. Hyejung juga
tampak merangkai sesuatu hal dipikirannya.
‘Tampaknya ini akan menjadi berat.’ Batin Hyejung.
“Sudah kuduga kau tidak bisa menjawab soal ini! Tolonglah
pikirkan pelajaranmu! Jangan hanya mementingkan karirmu sebagai idol yang baru naik
daun!” tegur Mira seonsaeong-nim. “Ada yang bisa mengerjakannya dengan benar?”
tanya Mira seonsaeng-nim kepada muridnya.
Hyejung pun mengajukan tangannya ke atas. Hanya Hyejung. Bukan
hanya itu, semua murid juga tertegun melihat Hyejung ingin mengerjakan soal
yang diberikan, terlebih Jihye dan Jungkook. “Ah, baiklah kalau itu maumu, Lee Hyejung-sshi.
Kerjakanlah!” perintah Mira seonsaeng-nim
kepada Hyejung dengan raut tak yakin. Hyejung pun mengerjakan soal itu di papan
tulis dengan cepat dan tepat. Mira seonsaeng-nim
pun tertegun dibuatnya, kemudian mulai memuji Hyejung.
“Lihatlah teman kalian yang satu ini! sudah berubah
banyak semenjak kembali dari rumah sakit. Perkembangannya sangat pesat. Kau
harus meniru itu, Jungkook! Jika kau tetap santai, peringkat kelasmu akan digantikan
oleh Hyejung. Apa rahasiamu, Hyejung-sshi?” tanya Mira Seongsaeng-nim
“Ah, tidak ada. Aku hanya memanfaatkan waktuku belajar
beberapa hari di rumah sakit.”
“Wah! Kau sudah berubah!” pujinya lagi. Tiba-tiba bel pun
berbunyi. Mira Seonsaeng-nim pun pamit keluar kelas. Semua murid membawa tasnya
dan keluar dari kelas. Hyejung bingung.
“Apakah sekarang waktunya pulang? Dan bukankah ini terlalu
awal untuk pulang?” tanya Hyejung pada Jihye yang berada di sampingnya dengan
siap.
“Ah, aku lupa memberitahumu. Hari ini guru rapat, jadi
kita pulang cepat. Tenang saja, sepertinya ahjusshi yang mengantarmu sudah
tahu.” Ujar Jihye.
“Oh, arasseo,”
paham Hyejung dengan memasukkan bukunya ke dalam tas. Perlahan Hyejung pun
melihat orlojinya. Pukul 10.30. ”Ah, iya, jam berapa aku sadar di
rumah sakit waktu itu?”
“Sekitar jam 11.00. Apakah ada masalah?”
“Oh, ani. Aku hanya berpikir berapa lama aku berbaring di
rumah sakit sehingga aku susah berjalan. Oh, ya aku lupa! Aku harus memeriksa
keadaanku ke dokter sekarang. Aku pergi dulu. Annyeong!” pamit Hyejung dengan canggung. Jihye juga merasakan
kecanggungan itu hari ini. Ia merasa Hyejung agak berbeda dari biasanya.
‘Mungkin karena ia baru keluar dari rumah sakit.’ Pikirnya
tanpa merasa curiga dengan sahabatnya sedikitpun.
*****
“Ah, Hyejung-ah!
Jaljinaesseo?” ujar eomma Hyejung.
“Ne, eomma.”
Ujar Hyejung.
“Kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku akan membangunkanmu
untuk makan siang nanti.” Pinta eommanya.
“Ne, arasseo, eomma!”
Hyejung pun menuju kekamarnya yang berada di lantai dua. Setiba di kamarnya, Hyejung
meletakkan tas dan mengganti bajunya. Setelah itu, Hyejung duduk di ranjangnya.
Hyejung terlihat cemas. Hyejung pun melihat jam dinding kamarnya. Pukul 10.59.
‘Tinggal satu menit lagi. Aku harus tenang dahulu.’ Pikir
Hyejung. Jantungnya kian melemah. 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, dan
akhirnya jam menunjukkan pukul 11.00.........
Sesaat, tubuh Hyejung mulai melemah. Hyejung pun menarik
nafasnya dalam-dalam. Memang ini baru pertama kalinya. Tapi, dia harus terbiasa
karena bagaimana pun Hyejung akan terus melakukan hal ini sampai waktu pun
benar-benar tiba menjemputnya. Hyejung pun tidak sadarkan diri.
*****
Rangkaian tiupan angin kencang kian menderu ditelinga Hyejung.
Seakan sangat peka pendengarannya, Hyejung pun terbangun. ‘Aisshh, bagaimana
bisa aku pingsan?’ tanya Hyejung pada dirinya sembari kembali bangkit dari
ranjangnya. Hyejung pun melihat jam dinding kamarnya. Pukul 11.05. ‘Bukannya harusnya aku berada di sekolah?’ batinnya.
Hyejung pun mengingat kejadian-kejadian
sebelumnya—sewaktu ia berada di toilet yeoja bersama Jihye. Hyejung menggenggam
kuat tangan Jihye dan tangan satunya lagi meremas dadanya yang kian sesak.
Sungguh berat untuk menarik nafasnya. Hyejung pun kembali menguras otaknya demi
mengingat kejadian berikutnya. Tapi, percuma. Tak ada yang dihasilkan.
‘Apakah itu hanya mimpi?’ tanya Hyejung kembali. Hyejung
yang merasa lelah dengan semua teka-teki ini pun akhirnya menyerah dan
memutuskan untuk menanyakan kepada ibunya. Kaki Hyejung pun melangkah ke balkon
kamarnya. Dilihatnya wanita paruh baya yang melahirkannya itu asyik dengan
tanaman Sansivieria-nya. ‘Syukurlah eomma masih dirumah.’ Batinnya lagi. Hyejung
pun memantapkan langkahnya menuju pintu kamarnya. Sesaat kemudian, ponsel milik
Hyejung pun berbunyi. Hyejung pun mengambilnya. Pesan suara dari Jihye. Hyejung
pun membukanya.
“Hyejung-yah! Bagaimana keadaanmu? Apa yang dikatakan
dokter? Kau tahu, eommaku sangat
cemas dengan keadaanmu. Jika kau telah mendengar pesan ini, telfon aku langsung, ne?” isi pesan itu. Hyejung yang awalnya
bersemangat, kini rapuh mendengar bahwa orangtua Jihye mengkhawatirkannya.
Sejujurnya, Hyejung benci di kasihani orang lain, termasuk ibunya sendiri.
Tapi, mengingat perkataan Jihye tadi—‘apa yang dikatakan dokter?’, membuatnya
semakin penasaran tentang teka-teki ini. Dengan penuh tanda tanya dipikirannya,
Hyejung segera membuka pintu. Tapi, langkahnya diberhentikan oleh cengkraman
tangan yang kuat seakan menginginkan Hyejung untuk membatalkan niatnya menemui
eommanya. Dengan, sekuat tenaga, Hyejung menariknya kembali. Tapi, sia-sia. Hyejung
pun melihat kearah belakang, dimana tangannya. Sosok yeoja berbaju putih pun
tampak. Hyejung ketakutan.
“N-neon, nugu?” tanyanya gemetar.
-To Be Continued-

No comments:
Post a Comment