Sunday, 28 December 2014

Second Chance - Chapter 2




Title : Second Chance – At First
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Lee Hyejung [OC] | Min Hanna [OC]
Genre : School-life | Mystery | Romance (Hmm... I think that’s all...)
Rated : General
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT READERS.

HAPPY READING!^^


*****

Chapter 2
[Semua akan Dimulai dalam Dua Puluh Empat Jam]

-Flash Back-

“Apa maksudmu?” tanya Hanna.

“Kau telah mati.”

“Mwo?”

“Kau telah mati. Dan kematianmu, tiada satupun yang mengetahuinya.” Jelasnya.

“Waeyo?”

“Kau harus mencari tahunya sendiri.”

“Lalu, apa tugasku?” tanya Hanna dengan penuh makna.

“Apa kau ingin bertemu dengan eommamu?”

“Tentu saja. Eomma bahkan belum mengetahui kematianku.” Ujar Hanna dengan raut muka sedih.

“Oleh karena itu, kau boleh bertemu dengan eommamu.” Ujar sosok misterius itu.

Jeongmal?” raut wajah Hanna semakin serius. “Bagaimana caranya?” tanyanya.

“Kau tahu, di dunia, tiada yang tidak bisa. Begitu pula dengan kehadiranmu sekarang.” Kata sosok itu. “Kau bisa memasuki tubuh seseorang.” Hanna tertegun.

“Lalu, jika orang itu tak memperbolehkanku?” tanya Hanna.

“Aku mempunyai orang yang pastinya dengan sabar memperbolehkanmu.”

“Maksudmu, kami berhubungan?” tanya Hanna setengah memaksa.

Ani, dia adalah orang yang berhubungan dengan kematian ayahmu.” Kata sosok itu. Hanna tampak memikirkan sesuatu.

“Dengan begitu aku harus mengancamnya?” tanya Hanna tak bosan-bosannya.

Ani. Tanpa kau ancam dia pasti akan memperbolehkanmu. Kau harus masuk ke tubuhnya dahulu, ketika kalian telah kembali, baru jelaskan padanya. Itu adalah cara yang lebih efektif.” ujarnya.

“Jadi aku harus merasukinya dulu, dan setelah kami kembali, baru aku menjelaskannya?

“Ne. Aku akan memberimu waktu 24 jam untuk sekali merasuki tubuhnya.” Pintanya. “Yeoja itu akan pingsan sewaktu pertama kalinya kamu merasukinya. Kira-kira 2 hari. Dan ketika yeoja itu nantinya sadar, jiwa kalian akan berganti. Tentunya mulai saat itu waktumu 24 jam dimulai.” Ujarnya.

“Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa memasuki tubuhnya untuk kedua kalinya atau seterusnya?”

“Tataplah matanya. Tapi, ingat, sebelum kau merasuki tubuhnya untuk yang kedua kali, kau harus menjelaskan alasanmu dulu. Karena, semua orang yang mempercayaimu bahwa kau ada, akan bisa melihatmu.” Jelasnya.

“Jadi, jika aku tidak memberitahunya alasanku, kemungkinan aku tidak dapat menatap matanya karena ia takut padaku?”

“Keurae. Kau benar.” Jawab sosok itu.

-End of Flashback-

*****

“Oh, Hyejung-ah!” kata seseorang dari belakang. “Ah, syukurlah kau baik-baik saja!”

“Oh, ne.” Ujar Hyejung canggung.

Ah, ayo kita pergi ke kelas! Aku takut kau akan pingsan lagi jika berdiri lama-lama.” Ujar sahabatnya sambil meraih tangan Hyejung. Hyejung hanya mengikuti keinginan temannya. Hyejung dan Jihye pun berjalan kekelasnya. Disepanjang kelas, Hyejung melihat kerumunan orang yang didalamnya terdapat Jungkook. Saking bersemangatnya hari ini, Hyejung tersenyum dengan seluruh temannya termasuk Jungkook. Jungkook pun merasa aneh bercampur rasa bersalah. Jihye yang melihat perlakuan sahabatnya itu terhadap namja yang sangat dibencinya itu merasa jengkel. Jihye pun dengan cepat menarik tangan Hyejung ke kelas.

“Ah, Hyejung-ah! Mwohasseo? Kenapa kau tidak menamparnya?” tanya Jihye.

“Tampar? Siapa?” tanya Hyejung heran.

“Jungkook!” jawab Jihye spontan.

“Maksudmu Jeon... Jungkook?” tanya Hyejung lagi dengan nada terkejut.

“Ia,”

“Kenapa aku harus menamparnya?” tanya Hyejung dengan nada heran.

“Apakah kau benar Hyejung?” tanya Jihye dengan nada serius. Hyejung mulai cemas. “Oh, Hyejung, Jungkook yang telah membuatmu pingsan. Apakah kau lupa ingatan?”

“Ah, tidak. Aku baru ingat.” Jawab Hyejung. Tiba-tiba Mira seonsaeng-nim pun datang. Semua siswa dan siswi duduk di tempat duduknya masing-masing.

“Baiklah semuanya, langsung saja, kita akan lanjutkan pelajaran berikutnya.” Kata Mira Seonsaeng-nim memulai pelajaran. Mira seonsaeong-nim pun menjelaskan pelajaran dengan tenang. Hyejung pun mengangguk mengerti apa yang diajarkan. Dari sudut kelas, Jungkook memperhatikan tingkah Hyejung, sangat berbeda dengan biasanya. Biasanya ia selalu tidur jika guru menerangkan, namun kini fokus terhadap pelajaran. Mengingat kasus tadi pagi, ketika Hyejung tersenyum kepadanya.

“Jeon Jungkook-sshi!” tegur Mira seonsaeng-nim kepada Jungkook. “Tolong kerjakan soal ini!” Jungkook pun munuju ke depan dan mengerjakan soalnya. Hyejung yang duduk di depan tertegun mendengar itu. Hyejung juga tampak merangkai sesuatu hal dipikirannya.

‘Tampaknya ini akan menjadi berat.’ Batin Hyejung.

“Sudah kuduga kau tidak bisa menjawab soal ini! Tolonglah pikirkan pelajaranmu! Jangan hanya mementingkan karirmu sebagai idol yang baru naik daun!” tegur Mira seonsaeong-nim. “Ada yang bisa mengerjakannya dengan benar?” tanya Mira seonsaeng-nim kepada muridnya.

Hyejung pun mengajukan tangannya ke atas. Hanya Hyejung. Bukan hanya itu, semua murid juga tertegun melihat Hyejung ingin mengerjakan soal yang diberikan, terlebih Jihye dan Jungkook. “Ah, baiklah kalau itu maumu, Lee Hyejung-sshi. Kerjakanlah!” perintah Mira seonsaeng-nim kepada Hyejung dengan raut tak yakin. Hyejung pun mengerjakan soal itu di papan tulis dengan cepat dan tepat. Mira seonsaeng-nim pun tertegun dibuatnya, kemudian mulai memuji Hyejung.

“Lihatlah teman kalian yang satu ini! sudah berubah banyak semenjak kembali dari rumah sakit. Perkembangannya sangat pesat. Kau harus meniru itu, Jungkook! Jika kau tetap santai, peringkat kelasmu akan digantikan oleh Hyejung. Apa rahasiamu, Hyejung-sshi?” tanya Mira Seongsaeng-nim

“Ah, tidak ada. Aku hanya memanfaatkan waktuku belajar beberapa hari di rumah sakit.”

“Wah! Kau sudah berubah!” pujinya lagi. Tiba-tiba bel pun berbunyi. Mira Seonsaeng-nim pun pamit keluar kelas. Semua murid membawa tasnya dan keluar dari kelas. Hyejung bingung.

“Apakah sekarang waktunya pulang? Dan bukankah ini terlalu awal untuk pulang?” tanya Hyejung pada Jihye yang berada di sampingnya dengan siap.

“Ah, aku lupa memberitahumu. Hari ini guru rapat, jadi kita pulang cepat. Tenang saja, sepertinya ahjusshi yang mengantarmu sudah tahu.” Ujar Jihye.

“Oh, arasseo,” paham Hyejung dengan memasukkan bukunya ke dalam tas. Perlahan Hyejung pun melihat orlojinya. Pukul 10.30. ”Ah, iya, jam berapa aku sadar di rumah sakit waktu itu?”

“Sekitar jam 11.00. Apakah ada masalah?”

“Oh, ani. Aku hanya berpikir berapa lama aku berbaring di rumah sakit sehingga aku susah berjalan. Oh, ya aku lupa! Aku harus memeriksa keadaanku ke dokter sekarang. Aku pergi dulu. Annyeong!” pamit Hyejung dengan canggung. Jihye juga merasakan kecanggungan itu hari ini. Ia merasa Hyejung agak berbeda dari biasanya.

‘Mungkin karena ia baru keluar dari rumah sakit.’ Pikirnya tanpa merasa curiga dengan sahabatnya sedikitpun.

*****

“Ah, Hyejung-ah! Jaljinaesseo?” ujar eomma Hyejung.

Ne, eomma.” Ujar Hyejung.

“Kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku akan membangunkanmu untuk makan siang nanti.” Pinta eommanya.

Ne, arasseo, eomma!” Hyejung pun menuju kekamarnya yang berada di lantai dua. Setiba di kamarnya, Hyejung meletakkan tas dan mengganti bajunya. Setelah itu, Hyejung duduk di ranjangnya. Hyejung terlihat cemas. Hyejung pun melihat jam dinding kamarnya. Pukul 10.59.

‘Tinggal satu menit lagi. Aku harus tenang dahulu.’ Pikir Hyejung. Jantungnya kian melemah. 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, dan akhirnya jam menunjukkan pukul 11.00.........

Sesaat, tubuh Hyejung mulai melemah. Hyejung pun menarik nafasnya dalam-dalam. Memang ini baru pertama kalinya. Tapi, dia harus terbiasa karena bagaimana pun Hyejung akan terus melakukan hal ini sampai waktu pun benar-benar tiba menjemputnya. Hyejung pun tidak sadarkan diri.

*****

Rangkaian tiupan angin kencang kian menderu ditelinga Hyejung. Seakan sangat peka pendengarannya, Hyejung pun terbangun. ‘Aisshh, bagaimana bisa aku pingsan?’ tanya Hyejung pada dirinya sembari kembali bangkit dari ranjangnya. Hyejung pun melihat jam dinding kamarnya. Pukul 11.05. ‘Bukannya harusnya aku berada di sekolah?’ batinnya.

Hyejung pun mengingat kejadian-kejadian sebelumnya—sewaktu ia berada di toilet yeoja bersama Jihye. Hyejung menggenggam kuat tangan Jihye dan tangan satunya lagi meremas dadanya yang kian sesak. Sungguh berat untuk menarik nafasnya. Hyejung pun kembali menguras otaknya demi mengingat kejadian berikutnya. Tapi, percuma. Tak ada yang dihasilkan.

‘Apakah itu hanya mimpi?’ tanya Hyejung kembali. Hyejung yang merasa lelah dengan semua teka-teki ini pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menanyakan kepada ibunya. Kaki Hyejung pun melangkah ke balkon kamarnya. Dilihatnya wanita paruh baya yang melahirkannya itu asyik dengan tanaman Sansivieria-nya. ‘Syukurlah eomma masih dirumah.’ Batinnya lagi. Hyejung pun memantapkan langkahnya menuju pintu kamarnya. Sesaat kemudian, ponsel milik Hyejung pun berbunyi. Hyejung pun mengambilnya. Pesan suara dari Jihye. Hyejung pun membukanya.

“Hyejung-yah! Bagaimana keadaanmu? Apa yang dikatakan dokter? Kau tahu, eommaku sangat cemas dengan keadaanmu. Jika kau telah mendengar pesan ini, telfon aku langsung, ne?” isi pesan itu. Hyejung yang awalnya bersemangat, kini rapuh mendengar bahwa orangtua Jihye mengkhawatirkannya. Sejujurnya, Hyejung benci di kasihani orang lain, termasuk ibunya sendiri. Tapi, mengingat perkataan Jihye tadi—‘apa yang dikatakan dokter?’, membuatnya semakin penasaran tentang teka-teki ini. Dengan penuh tanda tanya dipikirannya, Hyejung segera membuka pintu. Tapi, langkahnya diberhentikan oleh cengkraman tangan yang kuat seakan menginginkan Hyejung untuk membatalkan niatnya menemui eommanya. Dengan, sekuat tenaga, Hyejung menariknya kembali. Tapi, sia-sia. Hyejung pun melihat kearah belakang, dimana tangannya. Sosok yeoja berbaju putih pun tampak. Hyejung ketakutan.

“N-neon, nugu?” tanyanya gemetar.

-To Be Continued-


No comments:

Post a Comment