Sunday, 28 December 2014

I'm Yours - Part 1




Title : 당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee [Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim
-To Be  Continued-

Disclaimer : NO PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READER.

HAPPY READING! ^^

***

Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I felt right trough the cracks
Now I’m trying to get back

Before the cool done run out
I’ll be giving it my besttest
And nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon it’s agian my turn
To win some or learn some

***

[ONE : WHAT DOES IT MEAN?]

Sunday, June 13th 2014

-Back Stage-

Lampu-lampu panggung kini dimatikan. Sorak-sorai dari semua kalangan pun mulai pudar. Terpapar sebuah cahaya official light-stick yang kian padam. Penampilan sudah usai. Semua artis kembali ke back-stage. Tampaklah beberapa namja yang tak asing lagi, kian mendekat.

Soeun-ah, Hyeri-yah, Jinhee-yah!” sapa Jungkook, salah satu dari namja tadi.

“Ah, Jungkook-ah!” sapa Hyeri sambil berlari kecil menuju temannya itu. “Jjinja Daeeebaaakkk!!!” puji Hyeri kepada namja itu.

“Ah... takku sangka kalian ikut mononton kami.” Ujar Seokjin.

“Ya! Kami ini masih memiliki hati,” gerutu Soeun. “Bagaimana mungkin aku tak melihat oppa-ku sendiri diatas panggung! Aku kan juga ARMY!” tambah Soeun. Seokjin mulai terkekeh mendengar ucapan yeo-dongsaeng itu.

“Ah! Jadi kalian hanya ingin melihat Seokjin hyung saja, eoh?” Tanya Hoseok.

Aniya. Aku ingin melihat kalian semua. Sudah kami bilang, kan, kami bukan hanya chingu dan dongsaeng kalian, tapi juga fans kalian.” Jelas Jinhee. Soeun dan Hyeri membenarkan.

“Aisshh! Yeoja-yeoja kecil ini!”

“Ah,, sudahlah!” seru Seokjin. “Oh, Soeun-ah! Bilang kepada eomma, malam ini aku menginap ke rumah temanku, ne?” pinta Seokjin.

Eoh? Lalu, siapa yang akan mengantarku pulang?” Tanya Soeun dengan wajah memelas.

“Hmm, Jimin-ah! Bukannya tadi kau bilang ingin meminjam buku catatan Soeun? Kau bisa mengantarnya langsung kan?Mohon Seokjin kepada Jimin.

“Oh, ne. Aku akan mengantarkannya.” Kata Jimin.

***

Gomawo,” ujar Soeun berterima kasih kepada temannya itu. Soeun pun memberikan beberapa bukunya kepada Jimin.

“Oh, cheonmaneyo.” Balas Jimin yang sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku akan mengembalikannya besok,” tambahnya sambil melambaikan tangan yang menggenggam buku tadi. “Annyeong!” pamitnya.

“Ah! Jimin-ah!” pekik Soeun. Langkah Jimin pun terhenti. “Bisakah kau mengantarkanku ke sekolah besok? Kau tahu kan, oppa tidak mungkin mengantarku besok. Dan aku tak mau mengganggunya.” Tambah Soeun.

“Oh, arasseo.” Paham Jimin sambil mengacak-acak rambut hitam legam milik Soeun. Jimin memang terbiasa mengacak-acak rambutnya. “Masuklah!” perintah Jimin. Soeun pun masuk.

***

-Soeun’s House-

“Ah, Soeun-ah! Kau sudah pulang!” sapa eommanya seraya melirih anaknya dengan tatapan aneh. “Mana oppa-mu?” tanya eommanya. “Apa kau pulang sendiri?” tanyanya lagi.

“Ah, oppa akan menginap di rumah temannya. Gwaenchana, Jimin yang mengantarku pulang.” Balas Soeun secepat mungkin. Soeun takut eommanya akan cemas melihat keadaan anak laki-lakinya yang nakal itu.

“Oh, arasseo.” Paham eommanya. “Badanmu bergetah. Mandilah. Aku sudah mempersiapkan air panas untukmu.” Jelas eommanya.

Gomawo, eomma!” ujar Soeun penuh rasa berterima kasih. Soeun pun masuk ke kamarnya.

“Soeun-ah!” ujar eommanya lagi.

Eoh? Waeyo?”

“Kamu.... appa-mu menyuruhmu melanjutkan sekolahmu di California.” Lanjut eommanya. “Maafkan aku dan appamu.” Tambah eommanya cepat.

Eoh? Arasseo.” Ujar Soeun sedikit terkejut. “Nan gwaenchana. Aku tahu kalian akan memberikan yang terbaik untukku.”

“Aisshh... Aku akan sangat merindukanmu. Aku tak ingin kau pergi.” Sesal eommanya.

“Tenanglah. Dua minggu lagi. Masih banyak waktu.” Ujar Soeun disertakan senyum tipisnya. “Aku juga akan sangat merindukanmu, eomma.”

“Ahhh... aku tak mengira ini akan terjadi pada anak perempuanku satu-satunya. Tidurlah.” Perintah eommanya. Soeun pun masuk kekamarnya.

“California? Dua minggu lagi? Aku tak menduga ini.” ujar Soeun kepada dirinya sendiri. Perlahan, senyumnya yang mengembang tadi pudar. Ia tak tahu apa yang membuatnya sedih. Bebas dari orang tua, dan menjalani hidupnya sendiri, tanpa diawasi lagi.

Bukankah itu yang ia inginkan?

Atau ada hal lain yang masih terkubur dalam di hatinya?

Soeun gusar. Sepertinya itu cara terbaik untuknya. Melepas kebimbangannya, Soeun membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia yakin, dengan tidur, masalah sebelumnya akan terasa lebih ringan. Tapi, apakah akan bereaksi sama dengan masalah baru ini?

***

Monday, June 14th 2014

In the morning......

Eomma! Jimin datang! Aku pergi dulu, ne?” pamit Soeun sembari menyalami tangan eommanya.

Eoh? Ne. Hati-hati, ne?” pesan eommanya.

Geurae. Annyeong!” pamit Soeun sembari melambaikan tangannya ke eommanya. Jimin pun menyalakankan mesin mobilnya. Sesaat kemudian, Soeun dan Jimin pun pergi.

“Ahh.. aku lupa membawa catatanmu....” ujar Jimin yang masih fokus ke jalanan.

Gwaenchana. Minggu ini kita tak akan belajar Matematika. Heo seonsaengnim sakit.” Ujar Soeun dengan santai.

“Oh, baiklah, aku akan mengantarnya nanti malam ke rumahmu.” Tutur Jimin lembut. “Kau bilang Heo seonsaengnim sakit. Dia sakit apa?” tanya Jimin penasaran.

“Entahlah. Sulit menerima informasi tentangnya. Kelihatannya sedikit parah.” Jelas Soeun.

“Oh,, arasseo.” Paham Jimin. “Oh ya, aku lupa memberi tahu kepadamu. Yoongi hyung akan mengadakan pesta di rumahnya minggu ini. Dan kau, Hyeri, dan Jinhee diundang.” Ujar Jimin memberi tahu.

Jeongmalyo? Dalam rangka apa?” tanya Soeun.

“Aku tak tahu juga. Dia bahkan mengundang semua temannya.” Jelas Jimin.

“Sepertinya asyik? Kau bisa mengantarkanku, kan? Kalian tahu, aku belum pernah mengunjungi rumahnya itu.” Mohon Soeun memelas.

Geurae. Aku akan menjemputmu jam delapan malam.”

Gomawo. Maaf aku selalu merepotkanmu.” Sesal Soeun.

Ani, kau tak pernah merepotkanku.” Bantah Jimin dengan lembut. Soeun dan Jimin pun tiba di sekolah. Sesaat Jimin dan Soeun melihat keramaian di salah satu sudut sekolahnya itu. Di sudut lainnya Soeun melihat teman-temannya. Soeun pun turun dari mobil itu dan menghapiri mereka. Sementara Jimin, memarkir mobilnya.

“Soeun-ah!” pekik Jinhee menyapa temannya itu. Soeun pun berlari kecil ke arah teman-temannya itu. Sementara temannya yang lain—Jungkook, Taehyung, Hyeri, dan Hoseok—hanya tersenyum riang melihat keakraban diantara mereka.

Annyeong!” Soeun membalas sapaan itu.

“Aku akan sungguh merindukan kamu jika kamu pergi.” Ujar Jinhee memulai.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Soeun penasaran.

Mwo? Siapa yang akan pergi? Apa kamu akan pergi, Soeun?” tanya Hyeri dengan nada prihatin. Jinhee hanya memberi syarat agar Hyeri mendengarkan penjelasaanya.

Eomma Soeun bercerita kepada eommaku bahwa ayahnya Soeun menyuruh Soeun pergi ke California untuk melanjutkan sekolahnya.” Jelas Jinhee.

Jjinjayo?” tanya Hoseok. Soeun menggangguk pelan seakan memerimanya dengan ikhlas. Semua temannya itu prihatin dengan kondisi Soeun sekarang. Jimin pun datang.

“Jimin-ah!” Sapa Taehyung.

Ne. Ada apa disana?” tanya Jimin seraya menunjuk ke arah keramaian tadi.

Eoh?? Namja-namja bodoh itu?” tanya Hyeri. Soeun dan Jimin tak mengerti.

“Mereka? Pikirannya hanya yeoja.” Tambah Hyeri. Jimin dan Soeun tidak mengerti apa yang temannnya katakan kali ini.

“Oh Seolhyun, siswi itu....” balas Jinhee malas.

Waeyo? Kenapa dia?” tanya Taehyung yang masih tak mengerti. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aisshh.... Kau ini! Dia Seolhyun yang culun itu! Sekarang lihatlah! Dia sudah berubah!” geram Jungkook dengan nada meninggi.

“Oh Seolhyun dari kelas 11 F?” tanya Soeun meminta penjelasan.

“Tentu.” Ujar Hoseok singkat.

Teng... Teng.... Teng.....

“Aisshh! Kenapa bel hari ini cepat?” tanya Tehyung jengkel.

Kajja! Ayo ke kelas!” ajak Jungkook kepada teman-teman itu. Jungkook, Taehyung dan Hyeri pergi kekelas mereka, kelas 11 A. Sedangkan Jinhee, Hoseok, dan Soeun pergi ke kelas yang lain, kelas 11 B.

Jimin?

Dia hanya berdiri mematung. Menatap aneh namja-namja yang tergila-gila dengan seorang yeoja itu.

Oh Seolhyun.

Jimin tak mengetahui secara dalam alasannya berdiri mematung disana. Melihat sebukit namja-namja itu. Pikiraanya kosong. Bebarapa saat kemudian, Jimin pun kembali ke kelasnya, kelas 11 B. Pelajaran pun dimulai.

***

-After School-

“Park Jimin!” seru suara yang tak jelas dari belakang. Sesaat Jimin terdiam. Jimin yang berpikir itu hanya ilusi-nya saja pun kembali melakukan aktivitasnya, membereskan buku di atas mejanya.

Jimin pun melihat kebelakang. Jimin pun mendapati seorang yeoja berlari dengan air mata yang kian mengalir di pipinya. Oh Seolhyun. Jarak Seolhyun dan Jimin pun semakin dekat. Tiba-tiba....

‘Buggg!!!!’

Jimin terdiam. Tak ada yang dapat dikatakannya.

Seolhyun memeluknya.

Wae-waeyo?” tanya Jimin pada yeoja itu. Seolhyun kini memeluk tubuh namja itu dengan kuat. Jimin merasa gelisah dengan keadaan ini.

“Itu! Lihatlah! Laki-laki itu dia mengejarku tadi!” pekik Seolhyun sembari menunjuk ke salah satu lorong sekolah. Jimin pun menatapi namja itu lekat-lekat.

Bukankah dia.......

“Penjaga sekolah? Diakan penjaga sekolah!” heran Jimin.

“Jjinja?” Seolhyun berhenti memeluk Jimin. Seolhyun pun mengusap air matanya dengan cepat. Kemudian melihat namja itu sekali lagi. “Ah, gomawo! Kalau tidak ada kau, aku tidak mungkin tahu dia penjaga sekolah. Aku keliru.” Sesal Seolhyun dengan wajah memelasnya.

“Ah, cheonma!” ujar Jimin singkat.

“Oh, perkenalkan aku Oh Seolhyun, siswi dari kelas 12 F.”

“Oh, ne,” ujar Jimin singkat.

“Ah, Jimin. Maukah kau menemaniku ke taman? Setiap aku menangis aku selalu pergi ke taman. Aku rasa itu tempat yang membuat suasana hatiku nyaman.” Tawar Seolhyun. Jimin pun menerima tawaran itu.

***

-Soeun’s House-

“Soeun-ah!” pekik seseorang dari luar memanggil Soeun. Soeun pun membuka pintu. Kim Soeun!” pekiknya sekali lagi sembari mengetuk pintu rumah Soeun. Soeun yang mendengar pekikan itu lekas menuju pintu dan membukanya.

“Park Jimin?” ujar Soeun penuh tanda tanya. “Mwohaesseo?” tanya Soeun sekali lagi. “Omo! Lihatlah tubuhmu. Basah kuyup!” seru Soeun kaget. Sesekali Soeun menatap hujan yang mulai deras.

“Apa kau lupa? Aku berjanji malam ini akan mengembalikan bukumu.” Ujar Jimin sambil tersenyum. Soeun merasa bersalah.

“Aishh! Jeongmal Mianhaeyo! Aku lupa.” Sesal Soeun. Tiba-tiba eomma Soeun pun datang.

Omo omo! Kenapa kau basah seperti ini Jimin? Kajja! Masuklah dulu. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu.” Ujar eommanya beranjak cepat.

“Oh, ne,” ujar Jimin. Jimin pun masuk.

Igeo, ganti bajulah dulu di kamar Seokjin. Kau tahukan kamarnya. Akan ku siapkan makanan untukmu.” Tutur eomma Soeun. Jimin pun mengganti pakaiannya di kamar Seokjin.

***

-Dining Room-

“Jimin-ah makanlah dulu! Aku telah menyiapkan makanan untukmu. Duduklah dulu.” Ajak eomma Soeun.

“Ne, arasseo.” Paham Jimin. Jimin pun melirik ke bangku sebelahnya yang kosong dengan tatapan aneh.

“Ah, appa pergi ke California untuk beberapa saat.” Ujar Soeun seolah-olah mengetahui apa yang ada di pikiran temannya itu. “Seokjin oppa pergi ke rumah temannya.” Tambah Soeun. Jimin pun mengagguk paham. Beberapa waktu kemudian mereka pun siap makan. Jimin pun menghampiri Soeun di balkon kamarnya.

“Soeun-ah! Igeo!” ujar Jimin sembari menyerahkan buku Soeun yang di pinjamnya kemarin. “Gomawo.” Ujar Jimin berterima kasih.

Cheonma.” Balas Soeun. “Tampaknya kalian bertujuh sekarang cukup sibuk. Bahkan oppa-ku sendiri jarang memerhatikanku. Padahal dua minggu lagi.......” ujar Soeun terputus.

Ani, kami tidak sibuk.” Bantah Jimin cepat. “Hmm, dua minggu lagi kau kemana?” tanya Jimin penasaran dengan ucapan Soeun tadi.

“Ah, aniya.” Bantah Soeun.

“Soeun-ah!” Jimin memulai. Soeun pun menatap Jimin. “Aku menyukai seorang yeoja akhir-akhir ini. Menurutmu bagaimana cara aku mengungkapkannya?” tanya Jimin pada intinya. Soeun sedikit terkejut dengan perkataan temannya itu.

Eoh? Menurutku kau harus memberinya kejutan dahulu.” Ujar Soeun yang kembali menatap langit malam.

“Memberi kejutan?” tanyan Jimin yang masih keheranan

Ne. Berikan dia kejutan terindah dalan hidupnya. Buat dia menangis terharu. Aku rasa itu cukup. Itu trik yang mudah.” Balas Soeun yang tetap memainkan dunianya sendiri.

“Begitukah?” tanya Jimin yang masih kurang yakin. Soeun pun mengangguk mantap. Jimin pun menjadi yakin. “Gomawo. Kalau begitu aku pulang dulu, ne?” pamit Jimin. Jimin pun melangkah keluar balkon itu.

“Jimin-ah!” seru Soeun memanggil nama Jimin. Jimin pun melengah.

Eoh?” ujar Jimin singkat meminta penjelasan.

“Siapa yeoja itu?” tanya Soeun tanpa ragu-ragu. Jimin sedikit kaget mendengar pertanyaan temannya itu.

“Kau akan tahu suatu saat nanti.” Balas Jimin. Soeun pun mengangguk paham.

-To Be Continued-

No comments:

Post a Comment