Title : 난당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee
[Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim
-To Be Continued-
Disclaimer : NO
PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READER.
HAPPY READING! ^^
***
Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I felt right trough the cracks
Now I’m trying to get back
Before the cool done run out
I’ll be giving it my besttest
And nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon it’s agian my turn
To win some or learn some
***
[ONE
: WHAT DOES IT
MEAN?]
Sunday, June
13th 2014
-Back Stage-
Lampu-lampu
panggung kini dimatikan. Sorak-sorai dari semua kalangan pun mulai pudar.
Terpapar sebuah cahaya official
light-stick yang kian padam. Penampilan sudah usai. Semua artis kembali ke back-stage.
Tampaklah beberapa namja yang
tak asing lagi, kian mendekat.
“Soeun-ah, Hyeri-yah, Jinhee-yah!” sapa
Jungkook, salah satu dari namja tadi.
“Ah, Jungkook-ah!” sapa Hyeri
sambil berlari kecil menuju temannya itu. “Jjinja
Daeeebaaakkk!!!” puji Hyeri kepada namja
itu.
“Ah... takku sangka kalian ikut mononton kami.” Ujar Seokjin.
“Ya! Kami ini masih memiliki hati,” gerutu Soeun. “Bagaimana mungkin aku
tak melihat oppa-ku sendiri diatas
panggung!
Aku kan juga ARMY!” tambah Soeun.
Seokjin mulai terkekeh mendengar ucapan yeo-dongsaeng itu.
“Ah!
Jadi kalian hanya ingin melihat Seokjin hyung
saja, eoh?” Tanya Hoseok.
“Aniya. Aku ingin melihat kalian semua.
Sudah kami bilang, kan, kami bukan hanya chingu dan dongsaeng
kalian, tapi juga fans kalian.” Jelas
Jinhee. Soeun dan Hyeri membenarkan.
“Aisshh!
Yeoja-yeoja kecil ini!”
“Ah,,
sudahlah!” seru Seokjin. “Oh, Soeun-ah! Bilang kepada
eomma, malam ini aku menginap ke
rumah temanku, ne?” pinta Seokjin.
“Eoh? Lalu, siapa yang akan mengantarku
pulang?” Tanya Soeun dengan wajah memelas.
“Hmm,
Jimin-ah! Bukannya tadi kau bilang ingin meminjam buku catatan Soeun?
Kau bisa mengantarnya langsung kan?” Mohon
Seokjin kepada Jimin.
“Oh, ne. Aku akan mengantarkannya.” Kata
Jimin.
***
“Gomawo,” ujar Soeun berterima
kasih kepada temannya itu. Soeun pun memberikan beberapa bukunya kepada Jimin.
“Oh, cheonmaneyo.” Balas Jimin
yang sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku akan
mengembalikannya besok,” tambahnya sambil melambaikan tangan yang menggenggam
buku tadi. “Annyeong!” pamitnya.
“Ah! Jimin-ah!” pekik Soeun. Langkah
Jimin pun terhenti. “Bisakah kau mengantarkanku ke sekolah besok? Kau tahu kan,
oppa tidak mungkin mengantarku besok.
Dan aku tak mau mengganggunya.” Tambah Soeun.
“Oh, arasseo.” Paham Jimin sambil
mengacak-acak rambut hitam legam milik Soeun. Jimin memang terbiasa
mengacak-acak rambutnya. “Masuklah!” perintah Jimin. Soeun pun masuk.
***
-Soeun’s House-
“Ah, Soeun-ah! Kau sudah pulang!”
sapa eommanya seraya melirih anaknya
dengan tatapan aneh. “Mana oppa-mu?”
tanya eommanya. “Apa kau pulang
sendiri?” tanyanya lagi.
“Ah, oppa akan menginap di rumah
temannya. Gwaenchana, Jimin yang
mengantarku pulang.” Balas Soeun secepat mungkin. Soeun takut eommanya akan cemas melihat keadaan anak
laki-lakinya yang nakal itu.
“Oh, arasseo.” Paham eommanya. “Badanmu bergetah. Mandilah.
Aku sudah mempersiapkan air panas untukmu.” Jelas eommanya.
“Gomawo, eomma!” ujar Soeun penuh
rasa berterima kasih. Soeun pun masuk ke kamarnya.
“Soeun-ah!” ujar eommanya lagi.
“Eoh? Waeyo?”
“Kamu.... appa-mu menyuruhmu
melanjutkan sekolahmu di California.”
Lanjut eommanya. “Maafkan aku dan appamu.” Tambah eommanya cepat.
“Eoh? Arasseo.” Ujar Soeun sedikit terkejut. “Nan gwaenchana. Aku tahu kalian akan memberikan yang terbaik
untukku.”
“Aisshh... Aku akan sangat merindukanmu. Aku tak ingin kau pergi.” Sesal eommanya.
“Tenanglah. Dua minggu lagi. Masih banyak waktu.” Ujar Soeun disertakan
senyum tipisnya. “Aku juga akan sangat merindukanmu, eomma.”
“Ahhh... aku tak mengira ini akan terjadi pada anak perempuanku
satu-satunya. Tidurlah.” Perintah eommanya.
Soeun pun masuk kekamarnya.
“California? Dua minggu lagi? Aku tak menduga ini.” ujar Soeun kepada
dirinya sendiri. Perlahan, senyumnya yang mengembang tadi pudar. Ia tak tahu
apa yang membuatnya sedih. Bebas dari orang tua, dan menjalani hidupnya sendiri,
tanpa diawasi lagi.
Bukankah itu yang ia inginkan?
Atau ada hal lain yang masih terkubur dalam di hatinya?
Soeun gusar. Sepertinya itu cara terbaik untuknya. Melepas kebimbangannya, Soeun
membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia yakin, dengan tidur, masalah sebelumnya
akan terasa lebih ringan. Tapi, apakah akan bereaksi sama dengan masalah baru
ini?
***
Monday, June
14th 2014
In the morning......
“Eomma! Jimin datang! Aku pergi
dulu, ne?” pamit Soeun sembari
menyalami tangan eommanya.
“Eoh? Ne. Hati-hati, ne?” pesan
eommanya.
“Geurae. Annyeong!” pamit Soeun
sembari melambaikan tangannya ke eommanya. Jimin pun menyalakankan mesin mobilnya.
Sesaat kemudian, Soeun dan Jimin pun pergi.
“Ahh.. aku lupa membawa catatanmu....” ujar Jimin yang masih fokus ke
jalanan.
“Gwaenchana. Minggu ini kita tak
akan belajar Matematika. Heo seonsaengnim
sakit.” Ujar Soeun dengan santai.
“Oh, baiklah, aku akan mengantarnya nanti malam ke rumahmu.” Tutur Jimin
lembut. “Kau bilang Heo seonsaengnim
sakit. Dia sakit apa?” tanya Jimin penasaran.
“Entahlah. Sulit menerima informasi tentangnya. Kelihatannya sedikit
parah.” Jelas Soeun.
“Oh,, arasseo.” Paham Jimin. “Oh
ya, aku lupa memberi tahu kepadamu. Yoongi hyung
akan mengadakan pesta di rumahnya minggu ini. Dan kau, Hyeri, dan Jinhee
diundang.” Ujar Jimin memberi tahu.
“Jeongmalyo? Dalam rangka apa?”
tanya Soeun.
“Aku tak tahu juga. Dia bahkan mengundang semua temannya.” Jelas Jimin.
“Sepertinya asyik? Kau bisa mengantarkanku, kan? Kalian tahu, aku belum
pernah mengunjungi rumahnya itu.” Mohon Soeun memelas.
“Geurae. Aku akan menjemputmu jam
delapan malam.”
“Gomawo. Maaf aku selalu merepotkanmu.”
Sesal Soeun.
“Ani, kau tak pernah merepotkanku.”
Bantah Jimin dengan lembut. Soeun dan Jimin pun tiba di sekolah. Sesaat Jimin
dan Soeun melihat keramaian di salah satu sudut sekolahnya itu. Di sudut
lainnya Soeun melihat teman-temannya. Soeun pun turun dari mobil itu dan
menghapiri mereka. Sementara Jimin, memarkir mobilnya.
“Soeun-ah!” pekik Jinhee menyapa
temannya itu. Soeun pun berlari kecil ke arah teman-temannya itu. Sementara
temannya yang lain—Jungkook, Taehyung, Hyeri, dan Hoseok—hanya tersenyum riang
melihat keakraban diantara mereka.
“Annyeong!” Soeun membalas sapaan
itu.
“Aku akan sungguh merindukan kamu jika kamu pergi.” Ujar Jinhee memulai.
“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Soeun penasaran.
“Mwo? Siapa yang akan pergi? Apa
kamu akan pergi, Soeun?” tanya Hyeri dengan nada prihatin. Jinhee hanya memberi
syarat agar Hyeri mendengarkan penjelasaanya.
“Eomma Soeun bercerita kepada eommaku bahwa ayahnya Soeun menyuruh
Soeun pergi ke California untuk melanjutkan sekolahnya.” Jelas Jinhee.
“Jjinjayo?” tanya Hoseok. Soeun
menggangguk pelan seakan memerimanya dengan ikhlas. Semua temannya itu prihatin
dengan kondisi Soeun sekarang. Jimin pun datang.
“Jimin-ah!”
Sapa Taehyung.
“Ne. Ada apa
disana?” tanya Jimin seraya menunjuk ke arah keramaian tadi.
“Eoh?? Namja-namja bodoh itu?” tanya Hyeri.
Soeun dan Jimin tak mengerti.
“Mereka? Pikirannya hanya yeoja.”
Tambah Hyeri. Jimin dan Soeun tidak mengerti apa yang temannnya katakan kali
ini.
“Oh Seolhyun, siswi itu....” balas Jinhee malas.
“Waeyo? Kenapa dia?” tanya Taehyung
yang masih tak mengerti. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Aisshh.... Kau ini! Dia Seolhyun yang culun itu! Sekarang lihatlah! Dia
sudah berubah!” geram Jungkook dengan nada meninggi.
“Oh Seolhyun dari kelas 11 F?” tanya Soeun meminta penjelasan.
“Tentu.” Ujar Hoseok singkat.
Teng... Teng.... Teng.....
“Aisshh! Kenapa bel hari ini cepat?” tanya Tehyung jengkel.
“Kajja! Ayo ke kelas!” ajak Jungkook
kepada teman-teman itu. Jungkook, Taehyung dan Hyeri pergi kekelas mereka,
kelas 11 A. Sedangkan Jinhee, Hoseok, dan Soeun pergi ke kelas yang lain, kelas
11 B.
Jimin?
Dia hanya berdiri mematung. Menatap aneh namja-namja yang tergila-gila dengan seorang yeoja itu.
Oh Seolhyun.
Jimin tak mengetahui secara dalam alasannya berdiri mematung disana.
Melihat sebukit namja-namja itu.
Pikiraanya kosong. Bebarapa saat kemudian, Jimin pun kembali ke kelasnya, kelas
11 B. Pelajaran pun dimulai.
***
-After School-
“Park Jimin!” seru suara yang tak jelas dari belakang. Sesaat Jimin
terdiam. Jimin yang berpikir itu hanya ilusi-nya saja pun kembali melakukan aktivitasnya,
membereskan buku di atas mejanya.
Jimin pun melihat kebelakang. Jimin pun mendapati seorang yeoja berlari dengan air mata yang kian
mengalir di pipinya. Oh Seolhyun. Jarak Seolhyun dan Jimin pun semakin dekat.
Tiba-tiba....
‘Buggg!!!!’
Jimin terdiam. Tak ada yang dapat dikatakannya.
Seolhyun memeluknya.
“Wae-waeyo?” tanya Jimin pada yeoja itu. Seolhyun kini memeluk tubuh namja itu dengan kuat. Jimin merasa
gelisah dengan keadaan ini.
“Itu! Lihatlah! Laki-laki itu dia mengejarku tadi!” pekik Seolhyun sembari
menunjuk ke salah satu lorong sekolah. Jimin pun menatapi namja itu
lekat-lekat.
Bukankah dia.......
“Penjaga sekolah? Diakan penjaga sekolah!” heran Jimin.
“Jjinja?” Seolhyun berhenti memeluk Jimin. Seolhyun pun mengusap air
matanya dengan cepat. Kemudian melihat namja itu sekali lagi. “Ah, gomawo! Kalau tidak ada kau, aku tidak
mungkin tahu dia penjaga sekolah. Aku keliru.” Sesal Seolhyun dengan wajah memelasnya.
“Ah, cheonma!” ujar Jimin
singkat.
“Oh, perkenalkan aku Oh Seolhyun, siswi dari kelas 12 F.”
“Oh, ne,” ujar Jimin singkat.
“Ah, Jimin. Maukah kau menemaniku ke taman? Setiap aku menangis aku selalu
pergi ke taman. Aku rasa itu tempat yang membuat suasana hatiku nyaman.” Tawar
Seolhyun. Jimin pun menerima tawaran itu.
***
-Soeun’s House-
“Soeun-ah!” pekik seseorang dari
luar memanggil Soeun. Soeun pun membuka pintu. Kim Soeun!” pekiknya sekali lagi
sembari mengetuk pintu rumah Soeun. Soeun yang mendengar pekikan itu lekas
menuju pintu dan membukanya.
“Park Jimin?” ujar Soeun penuh tanda tanya. “Mwohaesseo?” tanya Soeun sekali lagi. “Omo! Lihatlah tubuhmu. Basah kuyup!” seru Soeun kaget. Sesekali Soeun
menatap hujan yang mulai deras.
“Apa kau lupa? Aku berjanji malam ini akan mengembalikan bukumu.” Ujar
Jimin sambil tersenyum. Soeun merasa bersalah.
“Aishh! Jeongmal Mianhaeyo! Aku
lupa.” Sesal Soeun. Tiba-tiba eomma Soeun
pun datang.
“Omo omo! Kenapa kau basah
seperti ini Jimin? Kajja! Masuklah
dulu. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu.” Ujar eommanya beranjak cepat.
“Oh, ne,” ujar Jimin. Jimin pun
masuk.
“Igeo, ganti bajulah dulu di
kamar Seokjin. Kau tahukan kamarnya. Akan ku siapkan makanan untukmu.” Tutur eomma Soeun. Jimin pun mengganti
pakaiannya di kamar Seokjin.
***
-Dining Room-
“Jimin-ah makanlah dulu! Aku
telah menyiapkan makanan untukmu. Duduklah dulu.” Ajak eomma Soeun.
“Ne, arasseo.” Paham Jimin. Jimin
pun melirik ke bangku sebelahnya yang kosong dengan tatapan aneh.
“Ah, appa pergi ke California
untuk beberapa saat.” Ujar Soeun seolah-olah mengetahui apa yang ada di pikiran
temannya itu. “Seokjin oppa pergi ke
rumah temannya.” Tambah Soeun. Jimin pun mengagguk paham. Beberapa waktu
kemudian mereka pun siap makan. Jimin pun menghampiri Soeun di balkon kamarnya.
“Soeun-ah! Igeo!” ujar Jimin sembari menyerahkan buku Soeun yang di pinjamnya
kemarin. “Gomawo.” Ujar Jimin
berterima kasih.
“Cheonma.” Balas Soeun.
“Tampaknya kalian bertujuh sekarang cukup sibuk. Bahkan oppa-ku sendiri jarang memerhatikanku. Padahal dua minggu
lagi.......” ujar Soeun terputus.
“Ani, kami tidak sibuk.” Bantah
Jimin cepat. “Hmm, dua minggu lagi kau kemana?” tanya Jimin penasaran dengan
ucapan Soeun tadi.
“Ah, aniya.” Bantah Soeun.
“Soeun-ah!” Jimin memulai. Soeun
pun menatap Jimin. “Aku menyukai seorang yeoja
akhir-akhir ini. Menurutmu bagaimana cara aku mengungkapkannya?” tanya Jimin
pada intinya. Soeun sedikit terkejut dengan perkataan temannya itu.
“Eoh? Menurutku kau harus
memberinya kejutan dahulu.” Ujar Soeun yang kembali menatap langit malam.
“Memberi kejutan?” tanyan Jimin yang masih keheranan
“Ne. Berikan dia kejutan terindah
dalan hidupnya. Buat dia menangis terharu. Aku rasa itu cukup. Itu trik yang
mudah.” Balas Soeun yang tetap memainkan dunianya sendiri.
“Begitukah?” tanya Jimin yang masih kurang yakin. Soeun pun mengangguk
mantap. Jimin pun menjadi yakin. “Gomawo.
Kalau begitu aku pulang dulu, ne?”
pamit Jimin. Jimin pun melangkah keluar balkon itu.
“Jimin-ah!” seru Soeun memanggil
nama Jimin. Jimin pun melengah.
“Eoh?” ujar Jimin singkat meminta
penjelasan.
“Siapa yeoja itu?” tanya Soeun
tanpa ragu-ragu. Jimin sedikit kaget mendengar pertanyaan temannya itu.
“Kau akan tahu suatu saat nanti.” Balas Jimin. Soeun pun mengangguk paham.
-To Be Continued-

No comments:
Post a Comment