Title : 난당신이야 (I’m Yours)
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Soeun [OC] | Oh Seolhyun [OC]
Support Cast : All Member BTS | Kwon Hyeri [Soeun’s Friend] | Han Jinhee
[Soeun’s Friend]
Genre : School-life | Romance | Friendship | Sad
Leight : ThreeShot + Epilog
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : NO
PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS.
HAPPY READING! ^^
***
Well up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love-love-love-love
Listen to the music of the moment people, dance and sing
We’re just one big family
And it’s God-forsaken right to be loved-loved-loved-loved
***
[TWO : TO THE LEVENGE]
Tuesday,
June 15th 2014
-Soeun’s Room-
Seberkas cahaya matahari pagi mulai tampak. Sinarnya yang tajam menembus
kamar Soeun. Soeun pun terbangun.
‘Cerah sekali.’ Pikirnya. Membuka jendela kamarnya adalah hal yang pertama
dilakukannya setelah bangun. Kicauan burung berbaur jernihnya pemandangan pagi
hari membuatnya merasa nyaman. Soeun pun melihat jam dindingnya.
Pukul 07.00.
Masih ada satu jam lagi untuk ke sekolah. Soeun dengan santai berjalan ke
kamar mandinya. Hal yang diinginkannya selama dua minggu terakhir ini adalah
menikmati hidupnya. Memakan kimchi dan ramyeon, berbicara dengan bahasa Korea, Menikmati
indahnya Namsan Tower, mendengar celotehan Seokjin jika ia pulang terlambat,
mengamati senyum kedua orang tuanya yang tak pernah pudar, dan bercanda bersama
dengan temannya,—Jinhee, Hyeri, Jungkook, Hoseok, Taehyung, dan
Jimin—membuatnya rindu setengah mati.
Namun apa dayanya?
Hanya dua minggu.
Kurang dari dua minggu.
Itulah waktu yang tersisa untuk menghabiskan masa-masa bahagianya.
Setelah itu, tidak ada kimchi maupun ramyeon yang mengingatkannya dengan
masakan Korea. Tidak ada istilah bahasa Korea di tengah-tengah masyarakat itu.
Tidak ada Namsan Tower yang selalu mengingatkannya dengan pemandangan malam
Korea. Tidak ada celotehan lagi dari Seokjin, oppa kesayangannya. Tidak ada lagi senyum kedua orang tuanya yang selalu menyemangatinya. Dan
yang tak kalah penting, tidak ada lagi istilah bercanda dengan teman-temannya
yang selalu menemaninya dalam lima tahun terakhir ini. Soeun hanya mendesah.
Itu semua demi pendidikan. Hanya itu yang ia butuhkan saat ini.
Soeun yang sempat termenung meraih masa-masanya selama di Korea pun kini
mulai sadar. Sekilas Soeun melihat jam dindingnya lagi.
Pukul 07.10.
Soeun yang tak ingin terlambat sekolah pun bergegas mengambil handuknya dan
mandi. Namun.
“Brukk!!” bunyi benda itu. Ya, sesuatu benda dari kamar Soeun pun jatuh.
Soeun yang berniat untuk segera mandi terpaksa melihat kejadian sebenarnya.
Salah satu dari foto yang di pajangnya jatuh. Foto keluarganya, ada. Foto
Seokjin dan dirinya, ada. Bahkan fotonya sendiri ada. Soeun sempat
memikir-mikir foto itu sebelum melihatnya. Dugaannya pun benar.
Fotonya bersama Hyeri, Jinhee, Hoseok, Taehyung, Jungkook, dan Jimin. Sesaat
Soeun melihat keadaan sekitar.
Tidak gempa.
Lalu apa yang terjadi?
Apakah pertanda buruk?
Soeun segera membuang segala pikiran buruknya itu.
***
“Jinhee-yah! Hyeri-yah!” sapa
Soeun kepada teman-temannya itu. Sementara temannya hanya melihat ke sisi lain.
“Jinhee-yah! Hyeri-yah!” sapa Soeun sekali lagi sembari
menghampiri teman-temannya itu.
“Ah! Soeun-ah!” sapa Jinhee dan
Hyeri kembali.
“Waeyo? Apa yang terjadi?” tanya Soeun
sambil menunjuk keramaian itu. Hyeri, Jinhee, dan Soeun daling menatap satu
sama lain. Seperti mengerti pikiran satu sama lain, mereka pun menghampiri
keramaian itu. Soeun, Hyeri, dan Jinhee terkejut.
“Ji-Jimin?” ujar Jinhee memastikan muka namja yang merupakan temannya itu
lekat-lekat. “A-apa yang dia lakukan disitu?” tanyanya. Jinhee pun melihat yeoja yang berada di dekat Jimin.
“Oh Seolhyun?” tanya Hyeri. Hyeri dan Soeun kaget.
Jimin setengah berdiri tepat di depan yeoja itu. Park Jimin. Park Jimin
Bangtan Sonyeondan. Teman dari Jinhee, Hyeri, dan Soeun. Setengah berdiri di tengah-tengah
halaman sekolah sampai seluruh siswa dan siswi Seoul Art high School melihatnya.
Jimin telah menyatakan perasaannya pada yeoja
itu. Mengungkapkan seluruh perasaannya. Jimin menyukainya. Yeoja itu. Seolhyun. Oh Seolhyun.
Jadi? Tadi malam?
Jinhee dan Hyeri langsung menarik tangan Soeun. Membawa yeoja itu ke tempat
yang lebih tenang. Sambil berpikir apa yang ada di otak namja bodoh itu.
Dan ternyata temannya yang lain benar. Jimin memang tak seperti yang mereka
pikirkan. Jimin sudah berubah. Jimin memang berubah.
***
After School
-Caffe`-
“Arghh! Aku tak mengerti apa yang
dipirkan namja itu!” ujar Jinhee
geram sambil menghentakkan meja di hadapannya dangan kuku jarinya.
“Waeyo? Diakan juga namja. Wajar
saja,” ujar Soeun membela. Jinhee dan Hyeri menatap temannya kebingungan.
“Soeun? Kau.....” ujar Hyeri terputus melihat namja-namja itu yang datang
mendekat kearahnya.
“Annyeong!” ujar Taehyung, Hoseok
dan Jungkook serempak. Jinhee, Hyeri dan Soeun hanya terdiam. “Mwoya? Kenapa kalian terdiam?” tanya
Hoseok.
“Temanmu itu......” ujar Hyeri.
“Ah.... Itu bukan masalah besar. Apalagi Jimin pertama kali merasakan itu.
Kurasa tak kan berdurasi lama.” Ujar Taehyung tenang.
“Tapi dia tidak memberitahu kami sedikit pun,” serang Hyeri. Tiba-tiba,
Jimin pun datang.
“Oh? Kenapa kalian tidak memberi tahu aku jika kalian disini. Jinhee dan Hyeri
hanya terdiam. Melihat malas.
“Oh, aniya. Kami bukan
bermaksud....”
“Kami hanya ingin memberimu kesempatan bersama dengan pacar barumu itu.
Barang kali kami menganggumu. Kami tidak ingin menghalangi jalan seseorang. Kau
tahu itu?” ujar Jinhee setengah meledak. Jinhee langsung membawa kedua temannya
pergi. “Kami pergi dulu.” Tambahnya sambil pergi. Jimin, Taehyung, Jungkook,
dan Hoseok hanya membatu mendengar ucapan yeoja itu. Jimin pun mengambil alih
kursi Hyeri tadi.
“Apakah yang terjadi? Mereka marah? Apa aku salah?” tanya Jimin.
“Seharusnya kau katakan dulu kepada mereka. Lihatlah! Akan sulit
membujuknya kembali.” Ujar Hoseok memberi peringatan. Jungkook dan Taehyung
mengangguk membenarkan.
***
Night -
09.00 p.m.
“Jinhee-yah! Hyeri-yah!” ujar Jimin sambil mengetuk pintu apartement
Jinhee. Tentu saja Jimin mengetahui malam ini Hyeri mengadakan night party di apartement sahabatnya
itu. Ketukan Jimin pun semakin keras.
“Mwoya?” tanya Jinhee sembari
membuka pintu apartementnya secara tiba-tiba. Jimin sedikit terkejut. “Kau
tahu, aku adalah orang yang susah memaafkan orang lain.” Ujar Jinhee ketus.
“Pergilah!” ujar Jinhee setengah mengusir sahabatnya itu.
“Mianhaeyo,” ujar Jimin menyesal.
“Lalu. Dengan mendengarkan permohonan maaf mu itu, kau yakin kami akan
memaafkanmu?” tanya Hyeri sedikit melunak. “Kau tak mementingkan perasaan
sahabatmu. Egois.” Tambahnya. Jimin mulai meruntuki kesalahannya.
“Nan jeongmal mianhaeyo.” Ujar
Jimin kembali.
***
Wednesday,
June 16th 2014
-SASH-
“Jimin-ah!” seru Hyeri menyapa
temannya itu.
“Hyeri-yah! Jinhee-yah! Soeun-ah!” sapa Jimin kembali.
“Bagaimana hubunganmu? Apakah berjalan lancar?” tanya Jinhee.
“Tentu. Kami mengabiskan waktu kemarin. Walaupun hanya sedikit. Tapi,
sungguh menyenangkan!” ujar Jimin bersemangat.
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Soeun sambil tersenyum.
“Tapi, bukankah akan ada skandal baru?” tanya Hyeri.
“Skandal tentu. Tapi, apakah aku harus selalu memendamkan perasaanku yang
sebenarnya pada seorang yeoja?” tanya
Jimin bersunggu-sungguh. Jinhee, Soeun, dan Hyeri hanya mengangguk mengerti.
Tiba-tiba datanglah seorang yeoja yang menyebut nama Jimin.
“Jimin-ah!” seru Seolhyun. Jimin
pun menghampirinya.
“Aku pergi dulu, annyeong!”
serunya sambil berlari menjauhi teman-temannya itu.
“Ah, Jimin kini benar-benar memiliki dunianya,” ujar Jinhee. Hyeri
membenarkan.
“Hmm... bukankah kalian berdua kemarin marah dengan Jimin?” tanya Soeun
serius.
“Ya. Tapi, Jimin kemarin datang ke apartement Jinhee, tentunya saat kami
mengadakan night party. Dan dia
meminta maaf. Kurasa alasannya kali ini memang tepat.” Ujar Hyeri meyakinkan.
“Hei... bukankah Jimin juga sahabat kita? Tak ada alasan kita untuk
menghalangi jejak yang sudah di bangunnya. Kita harus medukungnya. Apapun
kenyataannya. Dan.. kita hanya sahabatnya dan sebatas ARMY. Tak lebih.” Ujar
Jinhee memperjelas. Soeun tampaknya mengangguk paham.
Atau Soeun merasa kecewa?
“Oh ya... sudah kuduga! Night party
kemarin sangat bagus. Tentunya akan sangat bagus jika kau hadir.” Ujar Hyeri
mengalihkan pembicaraan.
“Ya, kau tahukan eomma-ku sakit.
Semenjak mendengar keputusan appa untuk menyekolahkanku ke California.” Ujar
Soeun setengah tertawa. “Aku tak membayangkan hal lain yang terjadi padanya
jika aku nanti sudah pergi.” Tambah Soeun. “Aku akan sangat merindukannya.”
“Kami juga akan sangat merindukanmu.” Tambah Jinhee.
“Sudahlah jangan ingat hal bodoh itu lagi. Kita masih punya banyak waktu.
Kita juga akan mengadakan pesta bersama.” Ujar Hyeri. Kedua temannya tampak
mengangkat kedua alis mereka meminta penjelasan. “Pesta Yoongi oppa.”
***
Saturday
night, June 19th 2014
-Yoongi’s Party-
Pukul sembilan malam. Lampu-lampu beragam warna kini dinyalakan. Meriahnya
pesta sudah tiba di puncak. Sekumpulan gelas di ketengahkan membentuk satu
persatuan. Dan....
One Shot......
Itulah yang mereka lakukan.
“Chingu-yah!” sapa salah seorang
yeoja dari sudut lain sembari melambai-lambaikan beberapa jari lentiknya yang
indah. Jimin dan Seolhyun datang.
“Oh! Seolhyun-ah!” balas Taehyung
ringan.
“Ah! Ne!” sapa Jimin ke
teman-temannya itu mengalihkan pembicaraan dari Seolhyun.
“Hei! Aku kira kau tidak datang. Kemana saja?” tanya Yoongi.
“Ya, aku kira Jungkook akan pergi bersamaku, tapi dia sudah pergi duluan.
Tadi pagi dia janji.” Tanya Jimin seraya melirik kesal kearah Jungkook.
Jungkook hanya tertawa nakal.
“Mianhae. Aku tadi ingin pergi
bersamamu. Tapi, Soeun tidak tahu rumah Yoongi hyung. Jadi, tadi aku mengantarnya.” Jelas Jungkook.
“Ah! Aku lupa mengantarnya. Aku telah berjanji mengantarnya. Dimana dia
sekarang?” ujar Jimin penuh rasa bersalah.
“Dia tertidur lelap di sofa itu,” ujar Seokjin sambil menunjuk salah suatu
sofa di ruang tengah.
“Oh? Jeongmalyo?” tanya Jimin.
“Baiklah aku akan kesana sebentar.” Pamit Jimin. Jimin pun menghampiri Soeun yang
tertidur lelap di sofa itu. Melihatnya sungguh tak berdaya, Jimin merasa
prihatin. Merasa bersalah. Semua perasaan yang buruk kini bercanpur di
batinnya. Jimin pun medekatkan wajahnya kepada wajah yeoja itu. Menatap
lekat-lekat yeoja itu. Membiarkan helaian rambutnya membuas di sekitar
wajahnya. Alunan bulu matanya sangat sempurna. Paras wajahnya takkan pernah
terganti. Cantik. Sangat cantik. Kata itulah yang dapat mengambarkan wajahnya.
Namun, terdapat sepasang mata melihat mereka.
Soeun pun terbangun.
“Mwo?” tanya Soeun yang kaget
melihat wajah Jimin yang hanya beberapa senti di hadapannya. Jimin pun juga
terkejut.
“Oh.. a-aku hanya melihatmu disini. Ja-jangan berpikiran yang lain.” Bantah
Jimin sedikit canggung. “Maafkan aku, aku lupa. Tadi, aku harus mengantar....”
ucap Jimin terputus.
“Seolhyun. Oh Seolhyun. Kau mengantarnyakan?” tanya Soeun tajam. “Aku sudah
menebaknya dari awal. Aku sudah memaafkan mu.” Tambah Soeun sedikit kecewa.
“Gomawo.” Ujar Jimin singkat.
“Kau sudah minum berapa botol?” tanya Jimin sambil menutup hidungnya menghindari bau alkohol yang melekat di mulut
Soeun.
“Jeongmal?” tanya Soeun kaget.
“Apakah separah itu? Ah, Hyeri dan Jinhee benar-benar keterlaluan!” tambahnya.
“Jimin-ah! bisakah kau kesini sebentar?”
mohon Seolhyun yang kian mendekat memutuskan percakapan Jimin dan Soeun. Jimin
pun menghampirinya.
***
“Bagaimana apakah kau sudah lega?” tanya Hyeri sedikit terkekeh.
“Aisshh! Kalian ini bagaimana bisa kalian meninggalkanku?” tanya Soeun sedikit
kesal.
“Tampaknya kau sedang tidak enak badan. Jadi, kukira kau lebih baik tidur
dahulu.” Tambah Seokjin.
“Kalian ini!” kesal Soeun. Namun rasa mual yang kambuh itu pun muncul lagi.
Membuat Soeun berlari menuju toilet. Hyeri dan Jinhee yang kawatir pun
mengikuti temannya dari belakang.
***
-Restroom-
“Ah! Kenapa ini bisa terjadi? Sudah berapa botol aku minum?” tanya Soeun
sambil melihat pantulan dirinya di kaca. Tiba-tiba seorang yeoja pun datang, dia Seolhyun.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Seolhyun tiba-tiba. Soeun kaget.
“Tidak terlalu baik.” Balas Soeun singkat dengan senyum tipisnya. Seolhyun
yang tadinya menatap kaca beralih menatap Soeun dengan senyum sinisnya.
“Oh ya.. seharusnya aku tahu bagaimana keadaanmu. Tentu seorang penggoda
takkan bernasib baik, bukan?” tanya Seolhyun tajam. Soeun pun menatapnya. Mata
mereka pun bertemu.
“Maksudmu?” tanya Soeun bergidik serius.
“Sudahlah... jangan berpura-pura tak mengerti.....” sindir Seolhyun dengan
nada benci.
“Apa yang kau maksud?” tanya Soeun berani.
“Bukankah kau menyukai Jimin?” tanya Seolhyun. “Sudahlah simpan dustamu
itu.” Gumam Seolhyun. Mata Soeun pun berkaca-kaca mendengar kata keji itu.
“Aku tidak menyukainya....” ujar Soeun.
“Sudahlah jangan bohong sekarang, yeoja
kecil.” Ujar Seolhyun sambil menggelitik dagu Soeun. Namun Soeun menahannya.
“Aku baru tahu siapa kamu sekarang.... kau pengganggu!” tambah Seolhyun.
“Tolong, jangan ganggu Jimin lagi. Atau... kau akan mendapat balasannya!” tegas
Seolhyun. Pipi Soeun pun kini dibanjiri oleh air matanya. Seolhyun pun pergi.
Sementara Hyeri dan Jinhee yang telah menunggu dari tadi pun masuk dengan wajah
kaget.
“Waeyo? Apa yang terjadi padamu?”
tanya Jinhee kawatir sembari memengang pipi temannya itu yang penuh dengan air
mata.
“Apa aku sekeji itu?” tanya Soeun tiba-tiba. Hyeri dan Jinhee hanya terdiam
melihat perkataan temannya itu. “ JAWAB AKU!” teriak Soeun. Hyeri dan Jinhee
pun terkejut setengah mati. Namun Jinhee dan Hyeri tidak berkata juga.
“Kurasa kalian sama saja. Kalian bukan sahabatku....” ujar Soeun dengn muak
sembari keluar dengan membanting pintu. Jinhee dan Hyeri yang tak mengerti apa yang telah
terjadi semakin kawatir.
***
-Soeun’s House-
“Soeun-ah! Makanlah!” seru
Seokjin dari luar kamarnya Soeun.
“Ani. Aku tidak ingin makan.”
Balas Soeun.
“Kau sudah seharian tidak keluar kamar. Bahkan kau bolos hari ini. Aku
mohon.” Mohon Seokjin kepada adik satu-satunya itu. Tak lama kemudian, bel
rumah keluarga Kim pun berbunyi, Seokjin segera membukanya. Hyeri, Jinhee,
Hoseok, Jungkook, Taehyung, dan Jimin pun datang. Seokjin membiarkan mareka
masuk.
“Soeun-ah! Teman-temanmu datang!”
seru Seokjin lagi. Soeun diam sebentar.
“Aku hanya ingin Hyeri dan Jinhee.” Soeun kembali berujar. “Jangan membawa
makanan dan menyuruhku makan. Aku tidak bernafsu sekarang.” Tambah Soeun dengan
cepat. Semua teman namjanya pun
terkejut mendengar ucapan Soeun yang dingin tadi.
“Soeun tidak makan seharian. Apakah dia ada masalah? Wajahnya murung
semenjak pulang dari pesta Yoongi kemarin.” Ujar Seokjin setengah panik. Semua
temannya hanya menatap tak tega. Terutama Jimin.
Jimin merasa ada sangkut paut dengan dirinya....
-To be Continued-

No comments:
Post a Comment