Title : Canal
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Kim Seokjin [BTS] | Jung Yumi [OC]
Support Cast : All member BTS... and FIND IT....
Genre : Romance | Daily-Life | Sad/Happy??
Rate : General
Leight : Chaptered
Scriptwritter : Fellicia Kim
Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT READERS.
HAPPY READING!^^
*****
Prologue :
Cinta.
Kita sering menyebutnya.
Tapi....
Apakah Cinta itu?
Perasaan yang membuat kita selalu nyaman,
Atau....
Perasaan yang membuat kita terkadang salah tingkah?
-Fkim-
*****
Satu
[Saat kami bertemu]
♪ Baby baby 그대는, 카라멜 마끼아또
여전히 내 입가엔 그대 향이 달콤해
Baby baby~Tonight ♪
-- Bangtan Boys~Cofee --
*****
Jung Yumi,
gadis itu kini duduk mematung mendengar keputusan ayahnya. Helaian rambutnya
yang hitam legam terlihat sayu dan rapuh. Matanya hanya menatap ujung kakinya
yang terbujur kaku di atas lantai itu. Salah satu tangannya memegang salah satu
lutut yang ditutupi oleh jeans abu-abunya,
sedangkan tangan yang lain berusaha menyapu semua air mata yang berasal dari
kedua matanya.
Keadaan
semakin dingin. Yumi tahu ayahnya akan sangat keberatan mendengar berita ini.
Tapi...
Tidakkah
sekalipun ayahnya mengizinkannya pergi hanya untuk seminggu?
“Hanya untuk
seminggu,” tambah Yumi memohon seraya menitikkan air matanya sekali lagi.
“Baiklah, aku
menyerah. Lakukan apa yang kau inginkan.” Ujar ayah Yumi sambil menghela nafas
letih. Ia menyeruput habis americano yang
berada di depannya. Raut Yumi mendadak berubah. Ayahnya pun pergi.
Memang meminta
study-tour ke Perancis adalah dalam
rangka mengajarkan budaya asing. Tapi, mengingat nilai Yumi yang mulai turun
dari semester sebelumnya, membuat semua aktivitas belajarnya di rumah menjadi
padat. Namun, nilai Yumi tak kunjung baik dibuatnya.
Sesaat Yumi
hanya terdiam setelah mendengar perkataan itu muncul di bibir ayahnya. Yumi
tersenyum.
*****
“Yumi-yah!” pekik seorang yeoja di seberang jalan. Yeoja
itu berlari kecil kearah Yumi. Yumi tersenyum melihatnya. “Apa kau ikut juga?”
tanyanya sambil melihat beberapa barang yang dibawa Yumi.
“Tentu,” ujar Yumi
gembira seraya menunjuk koper yang dibawanya. “Hwayeon-ah! Aku sangat senang.” Tambah Yumi.
“Nado.” Balas yeoja yang bernama Hwayeon
itu. Ia memeluk kecil temannya itu. “Ayo kita berangkat.” Tambahnya.
*****
- Paris -
Paris. Suatu
kota yang terbilang indah dengan pemandangannya, membuat setiap pengunjung
selalu jatuh cinta dengan kedinamisan tentang hal fashion. Kota fashion.
Itulah nama lainnya. Dan berkat keagungan kota ini dalam fashion yang mereka ukirkan, membuat calon designer seperti Yumi sangat mengagumkannya.
“Yumi-yah!” sapa teman Yumi, Taehyung yang
berada beberapa meter di belakangnya bersama Jimin dan Yoongi. “Kau juga ikut?
Sepertinya ini pertama kalinya.” Tambah Taehyung.
“Kau tahu
itu.” Balas Hwayeon sedikit kesal dengan prilaku Taehyung terhadap temannya
itu.
“Sudahlah,
jangan bahas itu lagi...” ujar Jimin mejinakkan situasi yang ada. “Kita ‘kan
kelompok. Jangan bertengkar.” Tambahnya. Yoongi membenarkan.
“Kajja! Baiklah,” Yoongi memulai. “Kemana?”
tanyanya.
“Kalau Sungai Seine`?” usul Taehyung.
“Itu terlalu jauh
dari pusat kota Paris.” Sela Yumi.
“Tapi,
pemandangannya tak kalah hebat.” Jimin menyela.
“Baiklah kita
mulai dari yang terdekat dulu. Bagaimana
dengan Eiffle tower? Itukan monumen
terbaik di negara ini. Akan aneh rasanya jika kita tak mencobanya dahulu.” Ujar
Yoongi seperti penengah.
“Baiklah. Itu
benar.” Ujar Yumi pasrah. “Lagi pula ini free-study-tour.
Semua hal yang kita butuhkan, kita yang menyiapkan.” Tambahnya.
“Dan hari
mulai gelap.” Tambah Hwayeon. “Dan kita harus memesan beberapa
kamar—hotel—untuk istirahat nanti.” Ujarnya seraya mengingatkan.
“Tak usah
pikirkan tempat istirahat kita malam ini. Aku punya sepupuku yang bisa
mengizinkan kita tinggal di rumahnya.” Bantah Yumi dengan tenang. “Jung
Hoseok.”
*****
“Apa kau yakin
dia menyuruhmu menunggu di bar ini?”
tanya Jimin sedikit cemas sambil beberapa kali menghentakkan jari-jarinya di
meja bar.
“Tentu.” Jawab
Yumi singkat sambil menuangkan sedikit beer
ke gelas mungil di depannya.
“Berhentilah
minum.” Ujar Taehyung sambil menutup hidungnya menghindari bau beer yang melekat di mulut Yumi.
“Ini sudah
pukul sebelas malam. Sudah larut. Dan suhu mulai turun. Apa kau masih yakin dia
akan menjemput kita?” tambah Hwayeon. Yumi mengangguk yakin. “Aku akan mencari taxi disini. Tunggulah sebentar.” Gumam
Hwayeon seraya menarik tangan Taehyung dan Jimin untuk menemaninya mencari taxi. Hwayeon pun keluar dari bar itu.
“Aku akan ke toilet
dahulu,” ujar Yoongi sambil meniggalkan Yumi dan dengan segera menuju toilet.
Yumi pun
sendiri. Di malam yang dingin ini. Tanpa ada yang menemaninya. Walaupun sudah
meminum dua botol beer, Yumi merasa
dirinya masih kedinginan. Dan kesepian. Alone
and lonely
Bunyi bel-masuk
berdentang-sekali-lagi. Kali ini Yumi dengan yakin Hoseok yang datang.
Perlahan-lahan dengan wajah yang penuh harap akan kedatangan sepupunya itu, Yumi
mendelik ke arah belakang, pintu masuk bar
itu.
Tapi, tetap
saja.
Hello, unlucky day! Damn!
Yumi pun
kembali hanyut dalam rangkulan tangannya yang terbentang di atas meja kelabu
itu. Menutup matanya. Membiarkan dirinya sengaja terjatuh pada kesialannya
sendiri. Lantaran tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang membicarakannya.
Tidak ada yang menemaninya. Yumi sendiri. Kesepian.
Yeahh~ Alone and Lonely again.
Tapi ternyata
salah.
Buaian tangan
seseorang pun menghampiri kegusarannya. Yumi pun menyapu segala kantuk di matanya
dengan beberapa ujung jari mungilnya meskipun kesadaran yang diciptakannya masih
belum sempurna.
“Excuse me!” sapa namja itu ramah, penuh dengan taburan senyum semanis gula
dipipinya. Namja itu menunjuk tas
kecil milik Yumi yang berada di bangku sebelah Yumi.
“Oh,,, yeah!” ujar Yumi sambil mengangkat tas
yang tadinya menetap di bangku sebelahnya. Namja
tadi pun menarik bangku bar itu dan
duduk tepat disebelah Yumi. “Seperti biasa.” Ujarnya pada pelayan minuman itu
sambil mengangkat tangan kanannya. Lalu, dia menatap Yumi dengan lekat-lekat. Yumi
yang masih belum sadar atas pengaruh alkohol yang diminumnya pun memicingkan
matanya kepada namja aneh itu. “Did you have a problem?” Pinta namja
itu.
“No.” Ujar Yumi sedikit jengkel pada namja yang kini duduk disampingnya itu. Namja itu kini mendapatkan minumannya
dalam gelas berukuran besar itu. Seraya meminum beer-nya sedikit demi sedikit, namja itu melirik Yumi sekilas.
“Can I know your name?” Tanya namja itu tak bosan-bosannya. Sesaat namja itu menatapnya. Menunggu jawaban Yumi.
Sampai akhirnya Yoongi, Hwayeon, Jimin, dan Taehyung pun kembali.
“Yumi! Dia
datang!” pekik Jimin dari luar. Yumi tak berkutik. Dan semuanya kemudian
mengerti apa yang terjadi. Ya, Yumi mabuk berat. Ia tahu jika Yumi
setidaknya-duduk-selama-sepuluh-menit di suatu bar, ia akan meminum-minuman berakohol itu setidaknya dua botol.
Yoongi dan
Tehyung pun mengangkat Yumi dan membawanya keluar, menuju mobil Hoseok yang
tepat terparkir di depan bar itu.
Sementara namja tadi? Dia hanya duduk mematung
mendengar peristiwa yang terjadi. Yumi. Itulah nama yang disebutkan namja—Jimin—tadi kepada yeoja yang duduk disebelahnya itu. Dan
tentunya, Yumi, adalah nama dari yeoja
itu.
‘Yumi. Apakah
dia orang Korea? Ya, orang Korea.’
*****
10 minutes later......
- Hoseok’s House -
Akhirnya,
mobil itu tiba di rumah Hoseok. Tentu saja, Taehyung dengan sepenuh hati
merangkul tubuh Yumi dan membawanya ke sebuah kamar. Taehyung menatap sedih Yumi.
Taehyung dan Yumi
dahulunya memiliki hubungan khusus. Tapi, bukan dari lubuk hati dalam kedua
pihak. Awalnya, Yumi menerima dan menaggapi hubungan itu lebih dekat dengan
yang namanya teman. Hanya saja, Taehyung mengakui bahwa perasaan yang
diungkapkan pada saat itu hanya bohong. Taehyung menyukai Hwayeon, teman Yumi. Yumi
yang merasa dihianati pun mulai benci dengan semua yang dia lakukan.
*****
- Next Morning –
Lilitan angin
menyerbu seluruh tubuh Yumi. Ia merasakan hawa kota Paris itu sampai
ketulang-rusuknya. Sejenak, Yumi hanya membiarkannya. Namun, Yumi yang tak
tahan dengan gelikan halus itu pun akhirnya menyerah. Yumi bangun.
Seberkas
cahaya masuk melalui celah-celah kecil jendela kamar itu. Seakan-akan meminta Yumi
untuk membuka jendela itu, dan membuarkan sinarnya yang tajam menjerumus masuk
menerangi kamarnya itu.
‘Arraseo.... Aku akan membuka jendela ini untukmu.’
Yumi pun
membuka jendela itu. Tampaklah cahaya menyongsong menerangi kamar itu dengan
kecepatan ekstranya. Yumi yang merasa silaupun memicingkan matanya untuk
menghindari cahaya tajam itu menerobos masuk matanya secara dalam. Yumi pun
tersenyum.
Bagaikan meraih
energi yang baru, Yumi menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya
secara lembut di tengah-tengah kedamaian kota itu. Tak sadar, suara lembut
seorang namja menyapanya.
“Yumi-yah! Kau sudah bangun?” Yumi melirik ke
sumber suara itu. Bibirnya tertarik membentuk senyum yang mengembang.
“Hoseok-ah!” balas Yumi pada sepupunya itu.
Hoseok pun tersenyum.
“Ne...” balasnya singkat. Hoseok pun
mendekat. “Bagaimana free-study-tour-nya
kemarin? Apa kau bahagia?” ujar Hoseok sembari memberikan segelas caramel macchiato yang digenggam tangan
manly-nya itu.
“Biasa saja.
Melihat keadaan sewaktu malam, kupikir Paris bukanlah kota yang begitu
spesial.” Ujar Yumi bohong.
Setelah
kepergian ibunya Yumi merasa hidupnya
hampa. Tak ada kasih sayang lagi dikehidupannya. Of course, dengan menjadi CEO
di perusahaan ternama di berbagai negara, ayahnya tidak memberikan cukup
perhatian kepada anak tunggalnya itu. Dan mengingat kota Paris, tempat dimana ibunya
meninggal saat tengah melakukan pekerjaanya sebagai designer, tentu membuat Yumi sedikit-anti mendengarnya. Dengan
mengingat sepupunya yang ingin menjadi designer,
Hoseok yang memiliki bisnis bar
besar, mengajak Yumi bersamanya tinggal. Namun, Yumi tak menginginkan
kehidupannya dilahap habis dengan mati—seperti ibunya—di kota itu. Sampai
akhirnya Yumi pun memutuskan untuk menjadi designer
seperti ibunya.
“Jeongmal?” tanya Hoseok meminta
keyakinan. Hoseok menarik dagu Yumi agar mata mereka saling bertatapan. Hoseok
tahu Yumi bohong. Yumi cinta Paris. Sangat. “Aku tahu kau bohong.” Ujar Hoseok
lekas, tanpa mengizinkan sedikitpun Yumi bicara. Yumi bungkam. Dia tahu persis
sepupunya itu dapat membaca pikiran orang. “Sudahlah. Menyerah saja.” Hoseok kembali
bergumam.
“Ya!” pekik Yumi
geram.
“Baiklah.
Anggap saja itu sebuah pemanasan untukmu.” Ujar Hoseok kembali setengah
tertawa. Yumi yang kian geram pun memukul keras pundak sepupu-nya itu. Hoseok
mengaduh kesakitan. “Okay, temanmu
menyuruhmu untuk datang ke Port de` Arts
jam satu siang lagi. Hanya sekedar memberitahu. Aku akan pergi ke kantor dulu.”
Ujar Hoseok sedikit jengkel.
“Jeongmal? Mereka tadi pergi tanpaku?”
tanya Yumi kesal. Hoseok hanya mengangguk pergi. “Ah, ada satu hal lagi.
Temanku nanti akan datang. Tolong beri dia berkas yang terletak di atas meja
itu,” tambah Hoseok seraya menunjuk setumpuk kertas di atas meja kecil itu. Yumi
mengangguk mengerti.
*****
‘Tett.... tett....’ bunyi bel pintu. Yumi pun membukakan pintu. Yumi termenung sebentar ketika
mendapati namja itu di depannya. Ia
tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Apakah kau
Jung Yumi?” tanya namja itu. Lamunan Yumi
buyar seketika sewaktu mendengar aksen Korea kental yang menari di teliganya. Yumi
terkejut. Namja itu hanya tertawa melihat ekspresi Yumi. “Tenang. Aku temannya
Hoseok, dari Korea juga.” Jelasnya.
“Eoh?”
“Aku Kim
Seokjin. Temannya Hoseok. Jung Hosek, sepupumu.” Ulang namja itu lembut
sehingga terdengar seperti bisikan. Yumi salah tingkah dibuatnya. Jantungnya
berdebar tak keruan. Begitu pula dengan matanya—Yumi hanya menatap kagum namja
tampan itu. Hal ini membuat Seokjin tertawa geli. “Gwaenchanayo?”
“Ah.. Geurae....” respon Yumi dengan cepat. Yumi
melirik Seokjin sekali-kali. Tentu saja, kecanggungan seakan membahana di
alunan gairah mereka.
“Bolehkah aku
masuk?” tanya Seokjin sambil terkekeh kecil melihat pemandangan yang ada di
depannya itu, wajah Yumi bersemu merah. Hasilnya, pertanyaan Seokjin tadi
membuat Yumi sadar dari lamunannya. Yumi pun membukakan pintu dengan lebar dan
mempersilakan Seokjin masuk.
Seokjin
menatap sekeliling rumah itu dengan kagum. Ya, dia memang sudah dua tahun
menetap di Paris, tapi baru kali ini dia menghampiri rumah temannya itu. Wajar
saja, rumah itu megah
berkat design interior yang mewah.
Motif arsitekturnya yang
gold, dipenuhi dengan lukisan abstrak melayu kuno, alunan daun-daun
hijau keemasan, semua itu khusus dirancang
oleh arsitektur ternama kota Paris.
“Jadi, sejak
kapan kau tinggal di rumah ini?” tanya Seokjin duduk di atas sofa merah hati
itu. Yumi meliriknya sesaat, “Aku tidak tinggal disini.” Balas Yumi mantap.
Setelah menutup pintu dengan rapat, dengan segera Yumi mengambil setumpuk
kertas pada meja kecil itu.
“Maksudmu?”
tanya Seokjin sambil menatap manik Yumi dengan raut tak yakin.
“Yeahh... aku baru datang. Aku hanya
menginap beberapa hari di sini.” Timpal Yumi sambil menyerahkan setumpuk kertas
bertuliskan Diamond Cottage yang
dipampang jelas di sana.
“Gomawo.”
Ujarnya kepada Yumi sambil meraih pemberian itu. “Tapi, apakah itu sungguh?” tanya
Seokjin sekali lagi.
“Ya, aku hanya
mengikuti program free-studytour
beberapa hari di sini.” Balas Yumi mantap.
Seokjin
memerhatikan setumpuk kertas itu sekilas. “Kalau begitu, kau tidak boleh
melewatkan kesempatan ini semua.” Papar Seokjin berbinar-binar.
“Seharusnya.
Namun temanku meninggalkanku tadi.” Tambah Yumi kesal mengingat keempat
temannya pergi tanpa mengajaknya.
“Kalau begitu,
ayo kita pergi.” Ajak Seokjin tenang seraya melirik arlojinya. Yumi terperangah
dibuatnya. Pipinya merona merah seketika.
Dan, yup!
Tebakan yang
sudah dapat diduga.
Seokjin tersenyum geli melihat gadis itu.
“Jinjja?” tanya Yumi setengah tak
percaya. Seokjin mengangguk asal.
“Jadi, kau mau?”
Yumi mengangguk setuju.
-To Be
Continued-

No comments:
Post a Comment