Sunday, 28 December 2014

Canal - Chapter 1




Title : Canal
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Kim Seokjin [BTS] | Jung Yumi [OC]
Support Cast : All member BTS... and FIND IT....
Genre : Romance | Daily-Life | Sad/Happy??
Rate : General
Leight : Chaptered
Scriptwritter : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT READERS.

HAPPY READING!^^

*****

Prologue :

Cinta.

Kita sering menyebutnya.

Tapi....

Apakah Cinta itu?

Perasaan yang membuat kita selalu nyaman,

Atau....

Perasaan yang membuat kita terkadang salah tingkah?

-Fkim-


*****



Satu
[Saat kami bertemu]
Baby baby 그대는, 카라멜 마끼아또
여전히 내 입가엔 그대 향이 달콤해
Baby baby~Tonight
-- Bangtan Boys~Cofee --
*****
Jung Yumi, gadis itu kini duduk mematung mendengar keputusan ayahnya. Helaian rambutnya yang hitam legam terlihat sayu dan rapuh. Matanya hanya menatap ujung kakinya yang terbujur kaku di atas lantai itu. Salah satu tangannya memegang salah satu lutut yang ditutupi oleh jeans abu-abunya, sedangkan tangan yang lain berusaha menyapu semua air mata yang berasal dari kedua matanya.
Keadaan semakin dingin. Yumi tahu ayahnya akan sangat keberatan mendengar berita ini.
Tapi...
Tidakkah sekalipun ayahnya mengizinkannya pergi hanya untuk seminggu?
“Hanya untuk seminggu,” tambah Yumi memohon seraya menitikkan air matanya sekali lagi.
“Baiklah, aku menyerah. Lakukan apa yang kau inginkan.” Ujar ayah Yumi sambil menghela nafas letih. Ia menyeruput habis americano yang berada di depannya. Raut Yumi mendadak berubah. Ayahnya pun pergi.
Memang meminta study-tour ke Perancis adalah dalam rangka mengajarkan budaya asing. Tapi, mengingat nilai Yumi yang mulai turun dari semester sebelumnya, membuat semua aktivitas belajarnya di rumah menjadi padat. Namun, nilai Yumi tak kunjung baik dibuatnya.
Sesaat Yumi hanya terdiam setelah mendengar perkataan itu muncul di bibir ayahnya. Yumi tersenyum.
*****
“Yumi-yah!” pekik seorang yeoja di seberang jalan. Yeoja itu berlari kecil kearah Yumi. Yumi tersenyum melihatnya. “Apa kau ikut juga?” tanyanya sambil melihat beberapa barang yang dibawa Yumi.
“Tentu,” ujar Yumi gembira seraya menunjuk koper yang dibawanya. “Hwayeon-ah! Aku sangat senang.” Tambah Yumi.
Nado.” Balas yeoja yang bernama Hwayeon itu. Ia memeluk kecil temannya itu. “Ayo kita berangkat.” Tambahnya.
*****
- Paris -
Paris. Suatu kota yang terbilang indah dengan pemandangannya, membuat setiap pengunjung selalu jatuh cinta dengan kedinamisan tentang hal fashion. Kota fashion. Itulah nama lainnya. Dan berkat keagungan kota ini dalam fashion yang mereka ukirkan, membuat calon designer seperti Yumi sangat mengagumkannya.
“Yumi-yah!” sapa teman Yumi, Taehyung yang berada beberapa meter di belakangnya bersama Jimin dan Yoongi. “Kau juga ikut? Sepertinya ini pertama kalinya.” Tambah Taehyung.
“Kau tahu itu.” Balas Hwayeon sedikit kesal dengan prilaku Taehyung terhadap temannya itu.
“Sudahlah, jangan bahas itu lagi...” ujar Jimin mejinakkan situasi yang ada. “Kita ‘kan kelompok. Jangan bertengkar.” Tambahnya. Yoongi membenarkan.
Kajja! Baiklah,” Yoongi memulai. “Kemana?” tanyanya.
“Kalau Sungai Seine`?” usul Taehyung.
“Itu terlalu jauh dari pusat kota Paris.” Sela Yumi.
“Tapi, pemandangannya tak kalah hebat.” Jimin menyela.
“Baiklah kita mulai dari yang  terdekat dulu. Bagaimana dengan Eiffle tower? Itukan monumen terbaik di negara ini. Akan aneh rasanya jika kita tak mencobanya dahulu.” Ujar Yoongi seperti penengah.
“Baiklah. Itu benar.” Ujar Yumi pasrah. “Lagi pula ini free-study-tour. Semua hal yang kita butuhkan, kita yang menyiapkan.” Tambahnya.
“Dan hari mulai gelap.” Tambah Hwayeon. “Dan kita harus memesan beberapa kamar—hotel—untuk istirahat nanti.” Ujarnya seraya mengingatkan.
“Tak usah pikirkan tempat istirahat kita malam ini. Aku punya sepupuku yang bisa mengizinkan kita tinggal di rumahnya.” Bantah Yumi dengan tenang. “Jung Hoseok.”
*****
“Apa kau yakin dia menyuruhmu menunggu di bar ini?” tanya Jimin sedikit cemas sambil beberapa kali menghentakkan jari-jarinya di meja bar.
“Tentu.” Jawab Yumi singkat sambil menuangkan sedikit beer ke gelas mungil di depannya.
“Berhentilah minum.” Ujar Taehyung sambil menutup hidungnya menghindari bau beer yang melekat di mulut Yumi.
“Ini sudah pukul sebelas malam. Sudah larut. Dan suhu mulai turun. Apa kau masih yakin dia akan menjemput kita?” tambah Hwayeon. Yumi mengangguk yakin. “Aku akan mencari taxi disini. Tunggulah sebentar.” Gumam Hwayeon seraya menarik tangan Taehyung dan Jimin untuk menemaninya mencari taxi. Hwayeon pun keluar dari bar itu.
“Aku akan ke toilet dahulu,” ujar Yoongi sambil meniggalkan Yumi dan dengan segera menuju toilet.
Yumi pun sendiri. Di malam yang dingin ini. Tanpa ada yang menemaninya. Walaupun sudah meminum dua botol beer, Yumi merasa dirinya masih kedinginan. Dan kesepian. Alone and lonely
Bunyi bel-masuk berdentang-sekali-lagi. Kali ini Yumi dengan yakin Hoseok yang datang. Perlahan-lahan dengan wajah yang penuh harap akan kedatangan sepupunya itu, Yumi mendelik ke arah belakang, pintu masuk bar itu.
Tapi, tetap saja.
Hello, unlucky day! Damn!
Yumi pun kembali hanyut dalam rangkulan tangannya yang terbentang di atas meja kelabu itu. Menutup matanya. Membiarkan dirinya sengaja terjatuh pada kesialannya sendiri. Lantaran tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang membicarakannya. Tidak ada yang menemaninya. Yumi sendiri. Kesepian.
Yeahh~ Alone and Lonely again.
Tapi ternyata salah.
Buaian tangan seseorang pun menghampiri kegusarannya. Yumi pun menyapu segala kantuk di matanya dengan beberapa ujung jari mungilnya meskipun kesadaran yang diciptakannya masih belum sempurna.
Excuse me!” sapa namja itu ramah, penuh dengan taburan senyum semanis gula dipipinya. Namja itu menunjuk tas kecil milik Yumi yang berada di bangku sebelah Yumi.
“Oh,,, yeah!” ujar Yumi sambil mengangkat tas yang tadinya menetap di bangku sebelahnya. Namja tadi pun menarik bangku bar itu dan duduk tepat disebelah Yumi. “Seperti biasa.” Ujarnya pada pelayan minuman itu sambil mengangkat tangan kanannya. Lalu, dia menatap Yumi dengan lekat-lekat. Yumi yang masih belum sadar atas pengaruh alkohol yang diminumnya pun memicingkan matanya kepada namja aneh itu. “Did you have a problem?” Pinta namja itu.
No.” Ujar Yumi sedikit jengkel pada namja yang kini duduk disampingnya itu. Namja itu kini mendapatkan minumannya dalam gelas berukuran besar itu. Seraya meminum beer-nya sedikit demi sedikit, namja itu melirik Yumi sekilas.
Can I know your name?” Tanya namja itu tak bosan-bosannya. Sesaat namja itu menatapnya. Menunggu jawaban Yumi. Sampai akhirnya Yoongi, Hwayeon, Jimin, dan Taehyung pun kembali.
“Yumi! Dia datang!” pekik Jimin dari luar. Yumi tak berkutik. Dan semuanya kemudian mengerti apa yang terjadi. Ya, Yumi mabuk berat. Ia tahu jika Yumi setidaknya-duduk-selama-sepuluh-menit di suatu bar, ia akan meminum-minuman berakohol itu setidaknya dua botol.
Yoongi dan Tehyung pun mengangkat Yumi dan membawanya keluar, menuju mobil Hoseok yang tepat terparkir di depan bar itu.
Sementara namja tadi? Dia hanya duduk mematung mendengar peristiwa yang terjadi. Yumi. Itulah nama yang disebutkan namja—Jimin—tadi kepada yeoja yang duduk disebelahnya itu. Dan tentunya, Yumi, adalah nama dari yeoja itu.
‘Yumi. Apakah dia orang Korea? Ya, orang Korea.’
*****
10 minutes later......
- Hoseok’s House -
Akhirnya, mobil itu tiba di rumah Hoseok. Tentu saja, Taehyung dengan sepenuh hati merangkul tubuh Yumi dan membawanya ke sebuah kamar. Taehyung menatap sedih Yumi.
Taehyung dan Yumi dahulunya memiliki hubungan khusus. Tapi, bukan dari lubuk hati dalam kedua pihak. Awalnya, Yumi menerima dan menaggapi hubungan itu lebih dekat dengan yang namanya teman. Hanya saja, Taehyung mengakui bahwa perasaan yang diungkapkan pada saat itu hanya bohong. Taehyung menyukai Hwayeon, teman Yumi. Yumi yang merasa dihianati pun mulai benci dengan semua yang dia lakukan.
*****
- Next Morning –
Lilitan angin menyerbu seluruh tubuh Yumi. Ia merasakan hawa kota Paris itu sampai ketulang-rusuknya. Sejenak, Yumi hanya membiarkannya. Namun, Yumi yang tak tahan dengan gelikan halus itu pun akhirnya menyerah. Yumi bangun.
Seberkas cahaya masuk melalui celah-celah kecil jendela kamar itu. Seakan-akan meminta Yumi untuk membuka jendela itu, dan membuarkan sinarnya yang tajam menjerumus masuk menerangi kamarnya itu.
‘Arraseo.... Aku akan membuka jendela ini untukmu.’
Yumi pun membuka jendela itu. Tampaklah cahaya menyongsong menerangi kamar itu dengan kecepatan ekstranya. Yumi yang merasa silaupun memicingkan matanya untuk menghindari cahaya tajam itu menerobos masuk matanya secara dalam. Yumi pun tersenyum.
Bagaikan meraih energi yang baru, Yumi menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya secara lembut di tengah-tengah kedamaian kota itu. Tak sadar, suara lembut seorang namja menyapanya.
“Yumi-yah! Kau sudah bangun?” Yumi melirik ke sumber suara itu. Bibirnya tertarik membentuk senyum yang mengembang.
“Hoseok-ah!” balas Yumi pada sepupunya itu. Hoseok pun tersenyum.
Ne...” balasnya singkat. Hoseok pun mendekat. “Bagaimana free-study-tour-nya kemarin? Apa kau bahagia?” ujar Hoseok sembari memberikan segelas caramel macchiato yang digenggam tangan manly-nya itu.
“Biasa saja. Melihat keadaan sewaktu malam, kupikir Paris bukanlah kota yang begitu spesial.” Ujar Yumi bohong.
Setelah kepergian ibunya Yumi merasa hidupnya hampa. Tak ada kasih sayang lagi dikehidupannya. Of course, dengan menjadi CEO di perusahaan ternama di berbagai negara, ayahnya tidak memberikan cukup perhatian kepada anak tunggalnya itu. Dan mengingat kota Paris, tempat dimana ibunya meninggal saat tengah melakukan pekerjaanya sebagai designer, tentu membuat Yumi sedikit-anti mendengarnya. Dengan mengingat sepupunya yang ingin menjadi designer, Hoseok yang memiliki bisnis bar besar, mengajak Yumi bersamanya tinggal. Namun, Yumi tak menginginkan kehidupannya dilahap habis dengan mati—seperti ibunya—di kota itu. Sampai akhirnya Yumi pun memutuskan untuk menjadi designer seperti ibunya.
Jeongmal?” tanya Hoseok meminta keyakinan. Hoseok menarik dagu Yumi agar mata mereka saling bertatapan. Hoseok tahu Yumi bohong. Yumi cinta Paris. Sangat. “Aku tahu kau bohong.” Ujar Hoseok lekas, tanpa mengizinkan sedikitpun Yumi bicara. Yumi bungkam. Dia tahu persis sepupunya itu dapat membaca pikiran orang. “Sudahlah. Menyerah saja.” Hoseok kembali bergumam.
“Ya!” pekik Yumi geram.
“Baiklah. Anggap saja itu sebuah pemanasan untukmu.” Ujar Hoseok kembali setengah tertawa. Yumi yang kian geram pun memukul keras pundak sepupu-nya itu. Hoseok mengaduh kesakitan. “Okay, temanmu menyuruhmu untuk datang ke Port de` Arts jam satu siang lagi. Hanya sekedar memberitahu. Aku akan pergi ke kantor dulu.” Ujar Hoseok sedikit jengkel.
Jeongmal? Mereka tadi pergi tanpaku?” tanya Yumi kesal. Hoseok hanya mengangguk pergi. “Ah, ada satu hal lagi. Temanku nanti akan datang. Tolong beri dia berkas yang terletak di atas meja itu,” tambah Hoseok seraya menunjuk setumpuk kertas di atas meja kecil itu. Yumi mengangguk mengerti.
*****
‘Tett.... tett....’ bunyi bel pintu. Yumi pun membukakan pintu. Yumi termenung sebentar ketika mendapati namja itu di depannya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Apakah kau Jung Yumi?” tanya namja itu. Lamunan Yumi buyar seketika sewaktu mendengar aksen Korea kental yang menari di teliganya. Yumi terkejut. Namja itu hanya tertawa melihat ekspresi Yumi. “Tenang. Aku temannya Hoseok, dari Korea juga.” Jelasnya.
Eoh?”
“Aku Kim Seokjin. Temannya Hoseok. Jung Hosek, sepupumu.” Ulang namja itu lembut sehingga terdengar seperti bisikan. Yumi salah tingkah dibuatnya. Jantungnya berdebar tak keruan. Begitu pula dengan matanya—Yumi hanya menatap kagum namja tampan itu. Hal ini membuat Seokjin tertawa geli. “Gwaenchanayo?”
“Ah.. Geurae....” respon Yumi dengan cepat. Yumi melirik Seokjin sekali-kali. Tentu saja, kecanggungan seakan membahana di alunan gairah mereka.
“Bolehkah aku masuk?” tanya Seokjin sambil terkekeh kecil melihat pemandangan yang ada di depannya itu, wajah Yumi bersemu merah. Hasilnya, pertanyaan Seokjin tadi membuat Yumi sadar dari lamunannya. Yumi pun membukakan pintu dengan lebar dan mempersilakan Seokjin masuk.
Seokjin menatap sekeliling rumah itu dengan kagum. Ya, dia memang sudah dua tahun menetap di Paris, tapi baru kali ini dia menghampiri rumah temannya itu. Wajar saja, rumah itu megah berkat design interior yang mewah. Motif arsitekturnya yang gold, dipenuhi dengan lukisan abstrak melayu kuno, alunan daun-daun hijau keemasan, semua itu khusus dirancang oleh arsitektur ternama kota Paris.
“Jadi, sejak kapan kau tinggal di rumah ini?” tanya Seokjin duduk di atas sofa merah hati itu. Yumi meliriknya sesaat, “Aku tidak tinggal disini.” Balas Yumi mantap. Setelah menutup pintu dengan rapat, dengan segera Yumi mengambil setumpuk kertas pada meja kecil itu.
“Maksudmu?” tanya Seokjin sambil menatap manik Yumi dengan raut tak yakin.
Yeahh... aku baru datang. Aku hanya menginap beberapa hari di sini.” Timpal Yumi sambil menyerahkan setumpuk kertas bertuliskan Diamond Cottage yang dipampang jelas di sana.
“Gomawo.” Ujarnya kepada Yumi sambil meraih pemberian itu. “Tapi, apakah itu sungguh?” tanya Seokjin sekali lagi.
“Ya, aku hanya mengikuti program free-studytour beberapa hari di sini.” Balas Yumi mantap.
Seokjin memerhatikan setumpuk kertas itu sekilas. “Kalau begitu, kau tidak boleh melewatkan kesempatan ini semua.” Papar Seokjin berbinar-binar.
“Seharusnya. Namun temanku meninggalkanku tadi.” Tambah Yumi kesal mengingat keempat temannya pergi tanpa mengajaknya.
“Kalau begitu, ayo kita pergi.” Ajak Seokjin tenang seraya melirik arlojinya. Yumi terperangah dibuatnya. Pipinya merona merah seketika.
Dan, yup!
Tebakan yang sudah dapat diduga.
Seokjin tersenyum geli melihat gadis itu.
Jinjja?” tanya Yumi setengah tak percaya. Seokjin mengangguk asal.
“Jadi, kau mau?” Yumi mengangguk setuju.
-To Be Continued-

No comments:

Post a Comment