Tittle
: Graduation Song
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Kwon Hyesun [OC] | Kim Seokjin [BTS]
Support Cast : Kim Taehyung [BTS] | Min Yoongi [BTS] | Han Jaekyung [OC] |
Han Heekyung [OC] | Baek Eunjoo [OC]
Genre : Urban Legend | Horror | Mystery | Romance | Friendship
Leight : One Shot
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : NO
PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS.
HAPPY READING! ^^
*****
Segumpal cahaya api unggun
merekah di tengah-tengah kedamaian malam. Bagunan tenda telah siap
didirikannya. Secangkir teh telah menghangatkan suasana mereka. Semua itu
dilaksanakan di halaman sekoloh mereka, Jae-gil High School.
‘Jol-eob hu-e noe, jol-eob hu-e
na
Ulin moduda nunmulheulliji anha
Ji-guem i sungan ulin
hag-gyolobuteo
Ijen hae-bang i-nika,’
Lagu Graduaton Song. Itulah
yang mereka nyanyikan saat ini. Lagu yang mengingatkan mereka akan kenyataan
kelulusan mereka melampaui sekolah ini. Lagu yang kembali membangunkan
seseorang tentang sesuatu hal....
Kebencian....
*****
Jae-gil High School’
yard, night at 11.00 a.m.
February, 11th 2013
Setumpuk koran mereka jajarkan di halaman sekolah. Sebagaian orang memang
menganggap itu aneh. Ya, mereka mencoba untuk tetap sederhana, dan tetap
horror. Acara perpisahan mereka kali ini tak rumit. Hanya ingin membuat
serangkaian peristiwa yang tak akan pernah terlupakan. Ya, itulah mereka,
pecinta horror.
“Seokjin-ah! Bisakah kau cepat
memasak sedikit? Aku sudah lapar!” geram Yoongi. Sementara Seokjin? Hanya melanjutkan acara masak-memasaknya.
Sesekali Seokjin melihat Yoongi dengan ulasan senyum nakalnya. Yoongi semakin
geram.
“Arraseo, arraseo...” Seokjin
menyerah melihat temannya yang kian geram.
“Mwoya? Kenapa kau tidak
memberinya dari tadi?” Heekyung memulai. Seokjin pun mengulas senyum nakalnya
lagi.
“Kajja! Ayo makan!” sambut
Taehyung bersemangat. Teman-temannya hanya diam. Tidak berkutik sekali pun.
“Kalian tidak akan membiarkan malam terakhir kita akan hanyut di bawa kediaman,
kan?” Taehyung mengoceh melihat keheningan yang terjadi diantaranya.
Yoongi pun
makan.
“Hmm... Apa tema kita hari ini?” tanya Eunjoo yang sedang melahap
makanannya.
“Hmm... aku tak yakin. Bagaimana hantu tidur. Kudengar banyak yang
membicarakannya akhir-akhir ini.” ujar Jungkook memulai.
“Aahh,, jangan itu. Bagaimana kalau legenda?” saran Yoongi.
“Legenda?” ulang Jaekyung.
“Ne. Legenda sekolah kita.” Jelas
Yoongi dengan senyum sinisnya. “Kalian belum pernah mendengarnya, kan?” tanya
Yoongi dengan yakin. Semua temannya mendekat. Yoongi memulai. “Hansan High School. Itulah nama sekolah
ini dahulunya.” Ujar Yoongi setengah berbisik. Sesekali Yoongi melihat
sekelilingnya, dan kembali berujar. “Kalian tahu kenapa?” tanyanya kembali.
“Waeyo?” tanya Jungkook
penasaran.
“Seorang yeoja, tepat empat tahun
lalu, dinyatakan tewas bunuh diri.” Ujar Yoongi. Eunjoo dan Hyesun mulai
bergidik ngeri. “Masalahnya tak rumit. Hanya gagal pada ujian kelulusannya.”
Ujar Yoongi memelankan ucapannya. “Dan yang paling mengerikannya, dia mati
tepat di lantai tiga, kelas kita.” Yoongi serius. “Untuk itu, nama sekolah ini
diubah menjadi Jae-gil High School. Menurut berita, penduduk setempat di kubur
masal di sekolah ini agar berita kejadian ini tak tersebar.” Tambah Yoongi.
“Lalu, jika tak ada yang menyinggung berita ini, bagaimana kau
mengetahuinya?” tanya Seokjin heran.
“Ya, aku hanya mendengar dari guru-guru beberapa waktu lalu. Kalian tahu
kan, sekolah kita ter-akreditasi A. Bagaimana nasib sekolah kita jika berita
ini tersebar di hadapan siswa beserta orang tua sisiwa.” jelas Yoongi
meyakinkan.
“Maksudmu, alasan guru di sekolah kita selalu
cepat pulang, karena ini?” tanya
Jaekyung memastikan. Yoongi hanya menggangguk membenarkan.
“Ah,, sangat mengerikan!” seru Heekyung.
“Bagaimana dengan nyawanya? Apakah gentayangan? Apakah ada kasus yang
melibatkan ini sebelumnya?” Tanya Hyesun.
“Kudengar gentanyangan. Tapi, untuk akhir-akhir ini, aku rasa tidak ada
kasus.” Balas Yoongi.
“Ah, syukurlah....” Eunjoo lega. “Aisshh... Aku sedikit takut. Bagaimana
kita langsung saja pada acara utama kita. Truth
or dare...” saran Hyesun. Semua temannya menatap satu-sama lain. Kemudian
mendekati Eunjoo. “Are you ready?”
tanya Eunjoo. Tangan mereka pun bertupuk menjadi satu. “Rock, Paper, Scissors!” seru Eunjoo memulai permainannya.
Yoongi gunting.
Eunjoo gunting.
Seokjin gunting.
Heekyung gunting.
Taehyung gunting.
Jaekyung gunting.
Jungkook kertas.
Hyesun kertas.
Hyesun dan Jungkook kalah.
“Okay, kita bertemu dengan couple baru kita!” seru Heekyung riang.
“Truth or dare?” Tanyanya.
“Dare!” seru Hyesun dan Jungkook bersamaan. Hyesun dan Jungkook saling
bertatapan. Kemudian, memalingkan muka satu sama lain.
“Aku sudah kira itu.” Jaekyung tersenyum nakal. “Okay. Kami ingin kalian
menyanyikan lagu untuk kami.” Ujar Jaekyung. “Graduation song.” Tambahnya. Hyesun dan Jungkook yang memasang
wajah malas satu sama lain terpaksa berdiri di hadapan teman-temannya dan
menyanyikan lagu itu.
“Jol-eob hu-e noe, jol-eob hu-e na.
Ulin moduda nunmulheulliji anha. Ji-guem i sungan ulin haggyolobuteo. Ijen hae-bang
i-nika.” Nyanyi mereka. Semua temannya tersenyum girang melihat tingkah awkward dari kedua temannya itu. Ya,
dulu Jungkook pernah menyatakan perasaannya kepada Hyesun. Namun Hyesun
menolaknya mentah-mentah. Itulah alasan kedua temannya ini sering bersikap
canggung jika hanya berdua.
“Serasi sekali....” puji Seokjin. Melihat mereka, membuat Seokjin
tersenyum. Mengenang masa indahnya bersama kakaknya, yang kini telah tiada.....
“Sayangnya sekarang sudah pukul 11.15. Kita harus istirahat untuk
petualangan besok.” Ujar Jaekyung bersemangat. Semua teman-temannya mengangguk
setuju.
Jaekyung dan dan Hyesun tidur berdua.
Eunjoo dan Heekyung tidur berdua.
Yoongi dan Taehyung tidur berdua.
Jungkook dan Seokjin tidur berdua.
Beberapa menit kemudian pun mereka tertidur lelap.
*****
“Hyesuh-ah!” ujar Jaekyung
membangunkan Hyesun yang tertidur lelap di sampingnya. Hyesun pun terbangun. “Aku
ingin pergi ke kamar mandi dulu, ne?”
pamit Jaekyung memelas. Hyesun mengerutkan keningnya. “Aku hanya ingin ke
toilet. Badanku tidak nyaman.” Tambah Heekyung sembari menunjuk ke toilet yang
berada di sekolah mereka.
“Ne.” Balas Hyesun sambil
mengangguk paham. “Perlu ke temani?” tanyanya menawarkan.
“Aniya. Aku bisa sendiri.” Yakin
Jaekyung. Jaekyung pun pergi keluar tendanya dan menuju kamar mandi yang berada
di sekolahnya.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit berlalu.
Dua puluh menit berlalu.
Tiga puluh menit berlalu.
Jaekyung tidak kembali. Hyesun yang cemas pun memutuskan untuk menemui
sahabatnya itu. Hyesun ke luar dari tendanya.
Sesaat Hyesun melihat bayangan orang dari belakang tendanya. Hyesun pun dengan
berani menemui orang itu dari belakang.
‘Hana,’ ucapnya dalam hati.
‘Deul,’ ucapnya kembali.
“Set!” teriaknya. Sesaat orang
itu terkejut merasakan pegangan dari bahunya. Orang itu berbalik.
“Jungkook? Seokjin?” tanya Hyesun mulai lega mendapati sahabatnya itu.
Setidaknya bukan orang asing dan jahat. “Mwohasseo?”
tanya Hyesun lagi.
“Kami.... kami hanya mendengar suara aneh dari sekolah. Seokjin yang
membangunkanku untuk bersama melihat apa yang terjadi.” Balas Jungkook.
“Bagaimana denganmu?” tanya Jungkook balik.
“Setengah jam yang lalu Jaekyung pamit ke kamar mandi. Tapi, sampai
sekarang, ia belum kembali.” Balas Jaekyung cemas.
“Jjinjayo?” tanya Jungkook.
“Aku rasa ada sesuatu yang terjadi. Ayo kita pergi!” ajak Seokjin. “Kau
tinggallah disini. Jika kami tak kembali, kabarkan kepada yang lainnya.” Ujar
Seokjin memperingati.
“Tapi, itu kan toilet yeoja.”
Ujar Hyesun memperingati kembali. “Bagaimana kalian akan masuk jika itu toilet yeoja?” tanya Hyesun. Seokjin tampak
berpikir.
“Jam berapa sekarang?” tanya Seokjin.
“Jam 01.14.” jawab Jungkook. Seokjin tampak menimbang-nimbang.
“Okay. Kau boleh ikut. Tapi tetap
ikuti kami.” Ingat Seokjin. Hyesun mengangguk paham. Hyesun pun mengikuti
langkah Seokjin dan Jungkook yang lebih dahulu darinya. Namun, setetes air yang
jatuh ke sweater merah tepatnya di
bahu Jungkook membuat langkah Jungkook terhenti.
“Mwo?” tanya Jungkook.
“Sudahlah biarkan saja. Barangkali air hujan yang baru turun dari atap
sekolah.” Ujar Seokjin.
Tapi, hari ini tidak hujan sama sekali....
Jungkook yang membenarkan perkataan Seokjin tadi pun kembali melanjutkan
langkahnya. Tanpa merasa curiga sedikitpun. Mereka pun tiba di toilet yeoja
itu. Hyesun masuk.
“Argghh!” Teriak Hyesun. Seokjin dan Jungkook pun masuk. Seokjin melihat
Jaekyung terbujur kaku di lantai penuh darah itu. Bukan hanya itu. Leher
Jaekyung pun terdapat goresan panjang. Seokjin curiga ada yang telah mencekik
Jaekyung. Sesaat, telepon genggam milik Jungkook berbunyi. Jungkook pun
mengangkatnya.
“Yeoboseyo?” ujar Jungkook.
“Jungkook-ah! Ini aku, Yoongi.
Kau dan Seokjin kemana saja?” tanyanya sedikit panik. Yoongi yang mendengar
isakan tangis yang tak jelas bersumber dari Hyesun . Yoongi pun kembali
berujar. “Siapa itu? Apakah itu Taehyung?” tanya Yoongi.
“Ani. Itu Hyesun yang menangis
melihat Jaekyung.” Balas Jungkook. “Kenapa kau bilang Taehyung? Apa dia juga
hilang.” Tanya Jungkook. Mendengar itu, Seokjin mulai mengerti apa yang terjadi
sebenarnya.
“Ne, Taehyung juga hilang. Tapi,
kenapa Jaekyung bisa hilang?” tanya Yoongi dengan mata terbelalak. Yoongi
panik.
“Nanti akan kuceritakan kisahnya. Lindungi dulu Heekyung dan Eunjoo dahulu.
Lekaslah kemari sekarang.” Ujar Jungkook. Yoongi yang paham pun segera menutup
teleponnya dan melakukan sesuai dengan apa yang di perintahkan Jungkook
“Waeyo?” tanya Hyesun.
“Taehyung juga hilang.” Jawab Jungkook singkat. Hyesun kaget.
“Ada yang tidak beres.” Ujar Seokjin. Hyesun hanya menatap takut peristiwa
ini.
“Tunggu,” ujar Jungkook sembari mencium sweater bagian bahunya yang terkena
air tadi. “Bau darah. Ya, darah. Sweater
merah ku ini membuat warna darah tak terlihat.” Ujar Jungkook. Seokjin dan
Hyesun terbelalak. Seokjin kembali mencium sweater
Jungkook. Jungkook benar.
“Kurasa Taehyung di tikam di lantai paling atas. Lantai tiga di balkon
sekolah.” Jelas Seokjin. Tiba-tiba Yoongi, Eunjoo, dan Heekyung pun datang.
Mereka bertiga terbelalak melihat salah satu dari temannya yang malang itu.
Yoongi pun menghampiri Jaekyung.
“Keadaan darurat. Aku dan Jungkook akan menemukan Taehyung. Jaga yeoja-yeoja ini.” perintah Seokjin
kepada Yoongi. Yoongi pun paham.
“Jungkook, tolong selamatkan Taehyung! Kau harus bisa! Kau harus berjanji!
Kau tak ingin semua teman kita mati kan?” ujar Hyesun tiba-tiba sembari menarik
tangan Jungkook. Semua diam. Sesaat, Jungkook dan Hyesun saling bertatapan
penuh makna. Perlahan Hyesun melepaskan tangan Jungkook. Membiarkan Jungkook
pergi.
*****
3rd Floor, at 01.22 a.m.
“Itu Taehyung! Dia dengan....” ujar Seokjin sambail berlari menuju Taehyung
dan dia yang berada di samping
temannya itu. Seokjin melihat jelas Taehyung di terkam.
“Seokjin-ah.” Cegah Jungkook sembari menggenggam kuat lengan Seokjin. “Biar
aku saja. Selamatkan Taehyung. Selamatkan teman-teman kita. Selamatkan
Hyesun....” Ujar Jungkook. Mata Seokjin pun mulai berkaca.
Ya, Jungkook mengorbankan dirinya.
Perlahan, Jungkook melepaskan tangan Seokjin. Jungkook pun menghampiri
Taehyung dan makhluk itu.
“Ya!” teriak Jungkook keras. Dia melirik ke arah Jungkook. Jungkook
hanya menelan ludah. Dia pun
mendekati Jungkook. Dengan cepat, Jungkook memukul dia dengan sebatang kayu yang di ambilnya tadi. Tapi, tentu saja
tak mengenai-nya. Dengan tak sabar
Makhluk itu memukul balik Jungkook dan mencekik leher Jungkook.
Seokjin? Dia hanya menyaksikan hal tragis yang terjadi pada temannya dari
jauh dengan penuh deraian air mata.
Tapi, hanya untuk sesaat.
Seokjin yang mulai geram segera membantu Jungkook.
“Ya! Kemarilah!” teriak Seokjin.
Jungkook melengah ke arah Seokjin. Dia
pun menghampiri Seokjin. Mencekik Seokjin. “Neomu... Neomu...” ujar Seokjin kaget. Seseorang pun datang
menolong Seokjin. Hyesun. Tiba-tiba dia
pergi. Hyesun segera menghampiri Seokjin.
Namun, niatnya juga tak tersampaikan. Dia
pun muncul kembali. Tepat tersenyum di belakang Hyesun. Mencekik Hyesun.
Namun.....
Jungkook menyelamatkan Hyesun. Jungkook pun di cekik-Nya.
“Nuna!” teriak Seokjin kepada-nya. Hantu itu melirih Seokjin dengan
kaget. Panggilan itu. Membuat dia sadar
apa yang telah di perbuatnya. Hyesun berhenti menangis.
Ya, dialah kakak perempuan Seokjin yang telah tiada itu....
*****
-- Flash Back --
Tanggal 10 Februari 2009. Adalah hari yang amat sial bagi Kim Soojin. Ia
tidak lulus di ujian akhirnya. Bukan hanya dikarenakan malas belajar.
Tapi.....
Makhluk itu datang menemaninya.
Semenjak ia duduk di bangku SMA. Semenjak semua temannya membencinya karena
iri dengan segala yang ia punya—kecantikan, harta, kepintaran—membuatnya hidup
sendiri.
Semua makhluk dapat di
lihatnya. Tanpa terkecuali.
Soojin pun mengalami keadaan psikis yang buruk. Belum lagi gagal dalam
ujian akhirnya. Tentu mendorongnya melakukan hal yang mengatur takdirnya
sendiri. Soojin memutuskan bunuh diri.
Semua warga sekolah tak percaya melihat Soojin terbujur kaku di lantai
tiga, kelas Soojin. Berita ini membuat para warga sekolah panik. Sampai
akhirnya Hansan High School berubah nama menjadi Jae-gil High School.
Menata ulang sekolah ini. Agar semua berita murni itu tak pernah terungkap
lagi dengan mengingat nama Hansan.
Sampai kedua orang tua Soojin tak mengetahui kejadian sebenarnya yang
menimpa anaknya itu. Pihak sekolah mengatakan Soojin mengalami kecelakaan di
depan sekolahnya. Dan kedua orang tua Soojin percaya akan hal itu.
Melihat kelulusan setiap siswa di Jae-gil High School, membuat Soojin
geram.
Graduation Song. Lagu itu adalah puncak kemarahan Soojin. Membuatnya iri setiap kali
mendengarnya.
Namun, ada suatu cara membalas semua ini. Membalas perbuatan sekolah yang
di bencinya ini. Membalas kepada semua orang yang mengetahui kebenaran, tapi
tak menuntut keadilan.
Dari dihantui, menjadi menghantui..........
-- End of Flash
Back –
*****
“Soojin nuna!” pekik Seokjin
lagi.
Dia tertegun. Perlahan dia melirik
ke arah Seokjin. Hyesun membatu. Hyesun berusaha memberi ruang kepada-nya untuk mendekati Seokjin.
“Kenapa kau menjadi seperti ini!” Seokjin melembut. Dia pun memegang pipi Seokjin yang di basahi dengan air mata. “Aku
adik-mu. Kim Seokjin.” Ujar Seokjin
meyakinkan dengan terbata-bata.
Tiupan angin semakin kencang. Bersamaan dengan itu....
Dia pergi......
Seokjin hanya terdiam.
Merangkai semua ingatannya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Tiba-tiba, Yoongi, Eunjoo, Jaekyung, dan Heekyung pun datang. Mereka
terdiam melihat keadaan disana.
“Oh, Jaekyung! Kau baik-baik saja?” tanya Hyesun setengah gembira melihat
teman yang telah sadar itu. Jaekyung hanya membenarkan.
“Dimana dia?” tanya Yoongi
sedikit mengeras.
“Dia pergi....” ujar Taehyung
sembari bangkit. Semua mata tertuju padanya.
“Kau... masih hidup?” tanya Seokjin setengah gembira.
“Aku hanya berpura-pura mati agar dia puas.” Tutur Taehyung. Semua temannya
mulai lega. Lalu, kenapa kau memanggil-nya
noona?” tanya Taehyung. Semua mata kini melirik Seokjin. Seokjin tak bisa
berkata-kata.
“Hyesun-ah!” teriak seseorang kepada Hyesun. Dia Jungkook. Semua mata pun
kini mengarah kepada Jungkook. Mulut Jungkook berdarah. Begitu pula dengan
kepalanya. Hyesun dengan lekas menghampiri Jungkook.
“Ah! Mwoya! Jangan mati! Jangan
bercanda!” bentak Hyesun cemas. Jungkook hanya tertawa kecil melihat Hyesun
yang masih selamat. “Nan saranghaeyo...”
Tambah Hyesun melembut.
“Asalkan kau selamat,” papar Jungkook. Sesaat muka Hyesun berwarna merah
mendengar itu.
*****
Seokjin House, at 08.00 a.m.
February, 12th 2013
“Seokjin-ah! Aku sudah bilang!
Jangan melakukan kemah di sekolah. Lihatlah yang terjadi!” marah eomma-nya. Seokjin hanya melirik heran.
“Aku sudah tahu semuanya. Gurumu yang mengatakannya.” Ujar eomma Seokjin melunak.
“Aku istirahat dulu.” Ujar Seokjin sembari masuk ke kamarnya. Eommanya
hanya pasrah.
Seokjin tiba di pintu kamarnya. Sesaat, ia melihat pintu kamar nuna-nya yang berada di seberang
kamarnya. Seokjin pun memutuskan untuk masuk.
Disana—meskipun sudah empat tahun tak di gunakan—sangat rapi. Hanya ada
meja, tempat tidur, rak buku, lemari, dan meja kecil. Semua itu membuat kamar nuna-nya sangat luas. Namun, ada satu
hal yang menyita perhatiannya.
Secarik kertas bewarna kuning yang terbang dari luar jendela kamar
nuna-nya, dan berhenti tepat di depan kaki Seokjin. Seokjin pun mengambilnya
dan memulai membacanya. Seokjin menebak ini semua petunjuk dari nuna-nya. Dan Seokjin benar....
*****
2 : My Lovely Brother, Kim
Seokjin.
Fr : U’r sister, Kim Soojin.
February, 11th 2009
Apakabar? Ku harap kau baik
saja. Maafkan aku telah meninggalkan kau dan kedua orang tua kita....
10 Februari 2009, adalah hari
dimana aku dinyatakan tak lulus. Bukankah aku seorang nuna yang bodoh untukmu?
Tapi, sejujurnya bukan karena
kebodohanku. Justru, makhluk itu, sangat menghantuiku. Aku takut....
Dan akhirnya, aku memutuskan
untuk bunuh diri, aku tak tahan semua gangguan itu dan semua. Aku takut akan
menjadi masalah besar bagi keluarga kita.
Semua itu berawal dari semu
temanku yang menggangguku. Aku tak mengerti. Mulai saat itu, aku sendiri. Tanpa
teman.
Dan makhluk itu menemaniku. Aku
tak tahan. Aku selalu mencoba menjelaskan semua ini. Tapi, makhluk itu
menghambatku. Awalnya, aku anggap dialah sahabatku sebenarnya. Tapi, setelah
semua terjadi, ku akui dialah pembunuh-ku sebenarnya.
Dengan surat ini, semua alasan
aku bunuh diri, aku sampaikan. Aku tak tahu kapan kau akan membaca surat ini.
Entah berpuluh-puluh tahun lagi. Atau takkan pernah. Tapi, harapanku hanyalah agar
kau mengerti semua ini. Kuharap, kau tak membenciku karena aku meninggalkan
kau. Sekian.....
U’r Bad Sister
Kim Soojin
*****
“Nuna! Kenapa kau baru
menjelaskannya sekarang?” tanya Seokjin. “Kami bahkan tak mengetahui
penderitaanmu sebenarnya!” seru Seokjin menyesal. “Dan bunuh diri? Semua orang
menganggap kau kecelakaan!” kesal Seokjin. Cerita yang diberikan Yoongi
kemarin, ternyata adalah kasus nuna-nya
sendiri.
Seokjin menghampiri appa dan eommanya. Mengungkap kebenaran bunuh diri nuna-nya.
“Eomma, appa!” ujar Seokjin
dengan mata berlinang. Kedua orang tuanya heran melihat anaknya ini. Namun,
dengan melihat secarik kertas kuning itu, eomma
dan appa-nya pun mulai membaca.
“Kenapa baru sekarang?” tangis eomma-nya.
“Bunuh diri? Selama ini.... Jadi bukan kecelakaan yang di katakan gurunya
itu?” tanya appa-nya Seokjin yang
mulai geram.
*****
Hospital, at 09.00 a.m.
February, 13th 2013
“Jungkook-ah!” sapa Seokjin
kepada temannya yang di rawat itu. Jungkook tersenyum. “Apa kau baik-baik
saja?” tanya Seokjin.
“Tentu saja. Berkat kekuatan cinta Hyesun.” Balas Yoongi yang baru masuk
bersama teman-teman yang lainnya. Mereka semua tertawa geli. Wajah Hyesun dan Jungkook
berubah menjadi merah. “Bagaimana hasilnya?” tanya Yoongi spontan. Seokjin
mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan. “Kasus kematian kakakmu. Kami sudah
tahu semuanya.”
“Tentunya mereka dipenjara.” Balas Seokjin santai.
“Bagi yang menutupi kasus bunuh diri kakakmu? Woah, berarti guru-guru
disana di masuk penjara juga?” tanya Taehyung bersemangat.
“Tidak semua. Tentu hanya guru-guru yang mengetahui, tapi menyimpannya.”
Balas Seokjin santai. “Ah, Hyesun-ah?
Ku dengar kau waktu itu menyatakan cintamu pada Jungkook.” Ujar Seokjin mengubah
topik pembicaraan.
“Jinjayo?” tanya Heekyung tak
percaya.
“Eodiyo?” tanya Eunjoo. Muka
Hyesun dan Jungkook kembali merah.
“Waktu itu.... Ketika Jungkook sekarat.” Balas Yoongi sambil mengulas
senyum nakalnya.
“Ah... sudah ku duga! Jungkook, nyatakan perasaanmu pada Hyesun lagi. Aku
yakin Hyesun akan menerimamu.” Ujar Heekyung. Jungkook pun malu.
“Hyesun-ah... Would you be my girlfriend?”
tanya Jungkook.
“Ne,” ujar Hyesun pelan.
“Apa yang kau katakan? Kami tidak mendengarnya,” ujar Taehyung nakal.
Hyesun hanya melirik sinis temannya itu.
“NE!!!” teriak Hyesun kesal.
Semua teman-temannya tertawa geli melihat temannya satu ini.....
- FIN -