Monday, 29 December 2014

Upps! I'm Forget




Tittle : Ups! I’m Forget...
Main Cast : Kim Seokjin [BTS] | Yoon Hara [OC]
Genre : Romance | Hurt
Leight : One Shot
Author : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS.

Just be happy!!!

***

-Caffe`-

Hentakan jari di meja bundar itu kini mulai keras. Lelaki itu tak henti-hentinya membuatnya kesal. Selalu datang terlambat. Tak pernah tepat waktu.

Gadis itu kini melihat jam tangannya. Pukul 09.55.....

Hampir satu jam ia menunggu......

Hanya lima menit lagi....

Gadis itu memutuskan untuk menunggu lima menit lagi. Kesempatan terakhir laki-laki itu.

Jangan harap kau akan dapat menyapaku setelah ini!’ desisnya dalam hati. ‘Walaupun hanya satu detik terlewatkan!’ ancam gadis itu.

Satu menit berlalu.....

Dua menit berlalu.....

Tiga menit berlalu......

Empat menit berlalu....

Menit kelimapun berlalu......

Gadis itu beranjak kesal dari tempat duduknya. Air matanya kini benar-benar keluar deras. Ia merangkul tasnya dan menuju pintu keluar. Namun..

Seorang laki-laki yang datang tergesa-gesa mengenai lengannya.

“Ups... maaf nona... saya–“ ujar laki-laki itu terputus sambil menatap gadis tadi. “Hara?” tanya laki-laki yang bernama Seokjin itu. Gadis yang bernama Hara itu hanya menatap kesal kepada Seokjin. Lalu, pergi meninggalkan laki-laki itu. Namun, Seokjin memengang tangannya hingga langkah Hara pun terhenti.

Mwoya?” desah Hara yang sudah mulai geram. “Ini kencan kita yang kesembilan. Dan kau tak pernah datang sekali pun!” marah Hara. Namun, untuk waktu selanjutnya, tubuh Hara tak seimbang. Hara terjatuh. Seokjin pun menopang tubuhnya.

Gwaenchana?” tanya Seokjin.

“Aisshh! Jangan pernah coba mengalihkan pembicaraan!” bentak Hara lagi. Tanpa disengaja, seseorang pun menyenggol Hara. Alhasil, Hara terjatuh untuk kedua kalinya. Dengan sigap Seokjin membantunya.

“Jangan banyak bicara,” ujar Seokjin santai. “Aku tahu kau takkan tega.” Tambahnya. Muka Hara pun memerah.

“Baiklah lihat saja, siapa yang benar!” bentak Hara lagi sambil berjalan menyeberangi jalan. Seokjin pun berusaha menyejar.

“Hara-yah! Yoon Hara! Bukan itu maksudku!” tiba-tiba seorang mobil pun datang.

‘Brukk!!!’

Seokjin tertabrak.

***

-Hospital-

“Seokjin-ah! Kau sudah sadar!” seru Hara bahagia. “Mianhaeyo!” sesalnya.

“Tenanglah! Jangan merasa bersalah!” seru Seokjin melembut. Sesaat kemudian, telepon genggam Seokjin pun berdering. Suatu pesan masuk.

“Biarkan aku yang membacanya.” Tawar Hara.

“Tidak, aku tidak mau kau repot,” ujar Seokjin sembari meraih telepon genggamnya yang berada di meja kecil di dekatnya. Namun, Hara mengambilnya terdahulu. Raut wajah Seokjin mulai cemas.

“Dari Yoongi. Hyung, kapan kau memberiku uang itu! Uang untuk menabrakmu malam tadi. Ku harap semua yang kulakukan tidak sia-sia. Semoga hubungan kalian baik lagi.” Ujar Hara tanpa memikirkan perkataannya.

Tapi tunggu! Uang untuk menabrak gadis malam tadi..... Membuat hubungan Seokjin menjadi baik......

“Apa maksud ini?” tanya Hara. Seokjin tak dapat melihat wajah gadis-chingu-nya itu.

Dan tiba-tiba......

Pukulan dari tangan Hara pun melayang di pipi Seokjin.

‘Plaaaakkk’

Hara pun keluar dari ruangan itu dengan kesal.

Gimana? Agak dramatis ya? Kkkk....

Sunday, 28 December 2014

Hanya Sebuah Imaji





Title : Hanya Sebuah Imaji
Main Cast : Park Minji | Park Jimin
Genre : Mystery | Daily-life
Rate : General
Leight : One Shot
Scriptwritter : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT READERS.

HAPPY READING!^^

***

Minji, gadis itu kini mematung duduk di meja kerjanya. Semua raut menyatakan bahwa keadaannya kali ini sangat sulit. Matanya hanya menatap kosong langit-langit ruangannya. Entah makhluk apa yang merasukinya, gadis penyiar radio yang selalu ceria ini terlihat lelah dengan semua permainan duniawi ini.

Jimin masalah utamanya. Anak kecil itu selalu menghampirinya, selalu menggang-gunya, namun seketika hilang begitu saja bagai lenyap dilahap angin. Baginya Jimin bukan-lah siapa-siapa. Tapi, melihat sikap yang tak pernah segan untuk mencurahkan semua keluh-kesahnya, membuat anak laki-laki yang bernama Jimin itu tidak asing lagi di kedua telinganya. Tapi, mengapa perasaan itu muncul? Mengapa perasaan yang tak tahu asalnya itu muncul? Mengapa perasaan terhadap anak asing yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya itu muncul? Lagi-lagi, semua pertanyaan konyol itu melintas di pikirannya.

“Ada yang aneh!” desisnya sambil bercermin di hadapan kaca. Minji menatap pantulan matanya dengan lekat. Ya, jika dipikir kembali, Jimin memang mirip dengan Minji. Bisa dikatakan Jimin adalah Minji dalam rupa laki-laki, atau Minji adalah Jimin dalam rupa perempuan. Namun, ini semua tak mungkin. Minji adalah anak tunggal, dia tak mungkin punya saudara, terutama adik. Dengan keberanian yang kuat, Minji pun memutuskan suatu hal. Minji akan menghampiri Jimin.

***

 “Kak Minji!” seru seseorang dari belakang. Minji pun melirik kearah sumbernya su-ara tersebut. Tampaklah sosok Jimin seraya berlari dengan luka prihatin di wajahnya. Minji terperangah, sosok laki-laki pun datang tepat di belakang Jimin dengan kayu di tangannya.

‘Bruukk!’

Kayu itu melayang di pundak Jimin. Jimin terduduk. Tak perduli rasa sakit di pundaknya, Jimin pasrah.

Semua terjadi begitu saja. Jimin, anak yang selalu muncul di kehidupan Minji pun kini jatuh terkapar di tanah. Darahnya mengalir deras. Minji tak kuasa menahan air matanya.

Sesaat, Minji melihat sekelilingnya. Kejadian yang sama dan tempat yang sama, per-sis. Tak ada yang berubah. Sebuah ilustrasi pun terungkap.

Minji melihat dirinya sewaktu kecil dipukul oleh ayahnya di tempat yang sama dimana Jimin dipukul. Ia tahu bahwa ayahnya berada di bawah pengaruh alkohol, namun kematian ibunya karena disiksa oleh ayahnya adalah alasan mengapa Minji begitu membenci ayahnya.

Kepala Minji sakit seketika. Himpunan kejadian yang tak ingin diingatnya kini hadir kembali. Tanpa ia minta sekalipun. Minji pun tak sadarkan diri.

***

Lembaran-lebaran koran beterbangan. Ada yang saling menghantam, dan beberapa yang terbang menyendiri, semua berhamburan. Seperti halnya Minji, bertindak santai, namun dalam hatinya sangat cemas akibat hilangnya Jimin semenjak insiden yang diderita Jimin saat itu. Lagi-lagi perasaan khawatir Minji terhadap sosok Jimin muncul lagi. Minji pun pergi ke kantor polisi untuk melihat kejadian sebenarnya.

***
Sebuah kamera keamanan yang berada di dekat daerah tempat tinggal Jimin pun diputar. Minji memerhatikannya dengan seksama. Semua kejadian telah dilihatnya.

Minji melihat dirinya di sana. Namun, terdapat suatu yang mengganjal. Sekitar lima menit, Minji mencari Jimin di layar tersebut. Namun, nihil. Begitu pula dengan laki-laki yang memukul pundak Jimin, tak ada. Beberapa waktu kemudian, terlihat di layar, Minji pingsan.

Minji tercenggang atas semua yang dilihatnya. Dia memiliki keyakinan yang pasti akan kehadiran Jimin waktu itu. Namun, lain halnya dengan rekaman yang baru saja di lihat-nya, Jimin tak ada.

Minji melihat dirinya menangis, persis seperti yang dilakukannya sewaktu itu. Minji terdiam tak percaya.

“Apakah Anda yakin bahwa Anda melihat anak kecil yang bernama Jimin itu?” tanya seorang polisi yang berdiri di sampingnya. Polisi itu mengernyitkan dahinya karena heran dengan perkaataan Minji. Wajar, semua perihal yang dikatakan Minji tak benar adanya, dan tidak dapat di buktikan dengan nyata.

‘Tentu.... tak ada keraguan!” sambarnya. “Atau kalian yang mengubah kejadian sebenarnya agar orang-orang mengira bahwa aku gila?” bentak Minji dengan nada bergetar. Polisi itu menatap Minji aneh. Minji berdecak kesal. Minji mengerti bahwa ini semua adalah nyata. Bukan rekayasa. Look at this, Minji! It’s real fact!

Minji menenangkan dirinya. Mencoba merangkai kembali semua yang dicurahkan Jimin kepadanya. Hasilnya, semua hal yang diceritakan Jimin, juga pernah dialaminya, persis.

Namun, dimana Jimin? Dimana sosok misterius yang selalu hadir dalam kehidupan Minji? Dimana anak laki-laki yang selalu mencurahkan keluh-kesahnya pada Minji? Dimana laki-laki yang selalu meminta bantuan kepada Minji? Minji tak tahu. Tapi, Minji sadar satu hal, bahwa Jimin adalah gambaran dirinya sewaktu kecil yang hanya bisa dilihat oleh sosok Minji, bukan orang lain. Dugaan kali ini benar-benar tepat, Jimin hanyalah imaji. Yeah, hanya sebuah imaji.

-Hanya Sebuah Imaji-

A/N : Weheheh... readers.. jangan salah paham. Ini FF absurd plus gak jelas banget yang pernah ane buat. Kkkk..
Satu lagi, bukannya plagiat... tapi ni FF terinspirasi dari K-Drama It's Okay That's Love yang pemerannya Jo In Sung itu lohh.... *iklan*

Yaudah Trimss...

Graduation Song

 



Tittle : Graduation Song
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Kwon Hyesun [OC] | Kim Seokjin [BTS]
Support Cast : Kim Taehyung [BTS] | Min Yoongi [BTS] | Han Jaekyung [OC] | Han Heekyung [OC] | Baek Eunjoo [OC]
Genre : Urban Legend | Horror | Mystery | Romance | Friendship
Leight : One Shot
Author : Fellicia Kim

Disclaimer : NO PLAGIARISM, NO BASH, NO SILENT READERS.

HAPPY READING! ^^

*****

Segumpal cahaya api unggun merekah di tengah-tengah kedamaian malam. Bagunan tenda telah siap didirikannya. Secangkir teh telah menghangatkan suasana mereka. Semua itu dilaksanakan di halaman sekoloh mereka, Jae-gil High School.

‘Jol-eob hu-e noe, jol-eob hu-e na
Ulin moduda nunmulheulliji anha
Ji-guem i sungan ulin hag-gyolobuteo
Ijen hae-bang i-nika,’

Lagu Graduaton Song. Itulah yang mereka nyanyikan saat ini. Lagu yang mengingatkan mereka akan kenyataan kelulusan mereka melampaui sekolah ini. Lagu yang kembali membangunkan seseorang tentang sesuatu hal....

Kebencian....

*****

Jae-gil High School’ yard, night at 11.00 a.m.
February, 11th 2013

Setumpuk koran mereka jajarkan di halaman sekolah. Sebagaian orang memang menganggap itu aneh. Ya, mereka mencoba untuk tetap sederhana, dan tetap horror. Acara perpisahan mereka kali ini tak rumit. Hanya ingin membuat serangkaian peristiwa yang tak akan pernah terlupakan. Ya, itulah mereka, pecinta horror.

“Seokjin-ah! Bisakah kau cepat memasak sedikit? Aku sudah lapar!” geram Yoongi. Sementara Seokjin? Hanya melanjutkan acara masak-memasaknya. Sesekali Seokjin melihat Yoongi dengan ulasan senyum nakalnya. Yoongi semakin geram.

Arraseo, arraseo...” Seokjin menyerah melihat temannya yang kian geram.

Mwoya? Kenapa kau tidak memberinya dari tadi?” Heekyung memulai. Seokjin pun mengulas senyum nakalnya lagi.

Kajja! Ayo makan!” sambut Taehyung bersemangat. Teman-temannya hanya diam. Tidak berkutik sekali pun. “Kalian tidak akan membiarkan malam terakhir kita akan hanyut di bawa kediaman, kan?” Taehyung mengoceh melihat keheningan yang terjadi diantaranya.
Yoongi pun makan.

“Hmm... Apa tema kita hari ini?” tanya Eunjoo yang sedang melahap makanannya.

“Hmm... aku tak yakin. Bagaimana hantu tidur. Kudengar banyak yang membicarakannya akhir-akhir ini.” ujar Jungkook memulai.

“Aahh,, jangan itu. Bagaimana kalau legenda?” saran Yoongi.

“Legenda?” ulang Jaekyung.

Ne. Legenda sekolah kita.” Jelas Yoongi dengan senyum sinisnya. “Kalian belum pernah mendengarnya, kan?” tanya Yoongi dengan yakin. Semua temannya mendekat. Yoongi memulai. “Hansan High School. Itulah nama sekolah ini dahulunya.” Ujar Yoongi setengah berbisik. Sesekali Yoongi melihat sekelilingnya, dan kembali berujar. “Kalian tahu kenapa?” tanyanya kembali.

Waeyo?” tanya Jungkook penasaran.
“Seorang yeoja, tepat empat tahun lalu, dinyatakan tewas bunuh diri.” Ujar Yoongi. Eunjoo dan Hyesun mulai bergidik ngeri. “Masalahnya tak rumit. Hanya gagal pada ujian kelulusannya.” Ujar Yoongi memelankan ucapannya. “Dan yang paling mengerikannya, dia mati tepat di lantai tiga, kelas kita.” Yoongi serius. “Untuk itu, nama sekolah ini diubah menjadi Jae-gil High School. Menurut berita, penduduk setempat di kubur masal di sekolah ini agar berita kejadian ini tak tersebar.” Tambah Yoongi.

“Lalu, jika tak ada yang menyinggung berita ini, bagaimana kau mengetahuinya?” tanya Seokjin heran.

“Ya, aku hanya mendengar dari guru-guru beberapa waktu lalu. Kalian tahu kan, sekolah kita ter-akreditasi A. Bagaimana nasib sekolah kita jika berita ini tersebar di hadapan siswa beserta orang tua sisiwa.” jelas Yoongi meyakinkan.

“Maksudmu, alasan guru di sekolah kita selalu cepat pulang, karena ini?” tanya Jaekyung memastikan. Yoongi hanya menggangguk membenarkan.

“Ah,, sangat mengerikan!” seru Heekyung.

“Bagaimana dengan nyawanya? Apakah gentayangan? Apakah ada kasus yang melibatkan ini sebelumnya?” Tanya Hyesun.

“Kudengar gentanyangan. Tapi, untuk akhir-akhir ini, aku rasa tidak ada kasus.” Balas Yoongi.

“Ah, syukurlah....” Eunjoo lega. “Aisshh... Aku sedikit takut. Bagaimana kita langsung saja pada acara utama kita. Truth or dare...” saran Hyesun. Semua temannya menatap satu-sama lain. Kemudian mendekati Eunjoo. “Are you ready?” tanya Eunjoo. Tangan mereka pun bertupuk menjadi satu. “Rock, Paper, Scissors!” seru Eunjoo memulai permainannya.

Yoongi gunting.

Eunjoo gunting.

Seokjin gunting.

Heekyung gunting.

Taehyung gunting.

Jaekyung gunting.

Jungkook kertas.

Hyesun kertas.

Hyesun dan Jungkook kalah.

Okay, kita bertemu dengan couple baru kita!” seru Heekyung riang. “Truth or dare? Tanyanya.
“Dare!” seru Hyesun dan Jungkook bersamaan. Hyesun dan Jungkook saling bertatapan. Kemudian, memalingkan muka satu sama lain.

“Aku sudah kira itu.” Jaekyung tersenyum nakal. “Okay. Kami ingin kalian menyanyikan lagu untuk kami.” Ujar Jaekyung. “Graduation song.” Tambahnya. Hyesun dan Jungkook yang memasang wajah malas satu sama lain terpaksa berdiri di hadapan teman-temannya dan menyanyikan lagu itu.

Jol-eob hu-e noe, jol-eob hu-e na. Ulin moduda nunmulheulliji anha. Ji-guem i sungan ulin haggyolobuteo. Ijen hae-bang i-nika.” Nyanyi mereka. Semua temannya tersenyum girang melihat tingkah awkward dari kedua temannya itu. Ya, dulu Jungkook pernah menyatakan perasaannya kepada Hyesun. Namun Hyesun menolaknya mentah-mentah. Itulah alasan kedua temannya ini sering bersikap canggung jika hanya berdua.

“Serasi sekali....” puji Seokjin. Melihat mereka, membuat Seokjin tersenyum. Mengenang masa indahnya bersama kakaknya, yang kini telah tiada.....

“Sayangnya sekarang sudah pukul 11.15. Kita harus istirahat untuk petualangan besok.” Ujar Jaekyung bersemangat. Semua teman-temannya mengangguk setuju.

Jaekyung dan dan Hyesun tidur berdua.

Eunjoo dan Heekyung tidur berdua.

Yoongi dan Taehyung tidur berdua.

Jungkook dan Seokjin tidur berdua.

Beberapa menit kemudian pun mereka tertidur lelap.

*****

“Hyesuh-ah!” ujar Jaekyung membangunkan Hyesun yang tertidur lelap di sampingnya. Hyesun pun terbangun. “Aku ingin pergi ke kamar mandi dulu, ne?” pamit Jaekyung memelas. Hyesun mengerutkan keningnya. “Aku hanya ingin ke toilet. Badanku tidak nyaman.” Tambah Heekyung sembari menunjuk ke toilet yang berada di sekolah mereka.

Ne.” Balas Hyesun sambil mengangguk paham. “Perlu ke temani?” tanyanya menawarkan.

Aniya. Aku bisa sendiri.” Yakin Jaekyung. Jaekyung pun pergi keluar tendanya dan menuju kamar mandi yang berada di sekolahnya.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit berlalu.

Dua puluh menit berlalu.

Tiga puluh menit berlalu.
Jaekyung tidak kembali. Hyesun yang cemas pun memutuskan untuk menemui sahabatnya itu. Hyesun ke luar dari tendanya.

Sesaat Hyesun melihat bayangan orang dari belakang tendanya. Hyesun pun dengan berani menemui orang itu dari belakang.

Hana,’ ucapnya dalam hati.

Deul,’ ucapnya kembali.

Set!” teriaknya. Sesaat orang itu terkejut merasakan pegangan dari bahunya. Orang itu berbalik.

“Jungkook? Seokjin?” tanya Hyesun mulai lega mendapati sahabatnya itu. Setidaknya bukan orang asing dan jahat. “Mwohasseo?” tanya Hyesun lagi.

“Kami.... kami hanya mendengar suara aneh dari sekolah. Seokjin yang membangunkanku untuk bersama melihat apa yang terjadi.” Balas Jungkook. “Bagaimana denganmu?” tanya Jungkook balik.

“Setengah jam yang lalu Jaekyung pamit ke kamar mandi. Tapi, sampai sekarang, ia belum kembali.” Balas Jaekyung cemas.

Jjinjayo?” tanya Jungkook.

“Aku rasa ada sesuatu yang terjadi. Ayo kita pergi!” ajak Seokjin. “Kau tinggallah disini. Jika kami tak kembali, kabarkan kepada yang lainnya.” Ujar Seokjin memperingati.

“Tapi, itu kan toilet yeoja.” Ujar Hyesun memperingati kembali. “Bagaimana kalian akan masuk jika itu toilet yeoja?” tanya Hyesun. Seokjin tampak berpikir.

“Jam berapa sekarang?” tanya Seokjin.

“Jam 01.14.” jawab Jungkook. Seokjin tampak menimbang-nimbang.

Okay. Kau boleh ikut. Tapi tetap ikuti kami.” Ingat Seokjin. Hyesun mengangguk paham. Hyesun pun mengikuti langkah Seokjin dan Jungkook yang lebih dahulu darinya. Namun, setetes air yang jatuh ke sweater merah tepatnya di bahu Jungkook membuat langkah Jungkook terhenti.

Mwo?” tanya Jungkook.

“Sudahlah biarkan saja. Barangkali air hujan yang baru turun dari atap sekolah.” Ujar Seokjin.

Tapi, hari ini tidak hujan sama sekali....

Jungkook yang membenarkan perkataan Seokjin tadi pun kembali melanjutkan langkahnya. Tanpa merasa curiga sedikitpun. Mereka pun tiba di toilet yeoja itu. Hyesun masuk.
“Argghh!” Teriak Hyesun. Seokjin dan Jungkook pun masuk. Seokjin melihat Jaekyung terbujur kaku di lantai penuh darah itu. Bukan hanya itu. Leher Jaekyung pun terdapat goresan panjang. Seokjin curiga ada yang telah mencekik Jaekyung. Sesaat, telepon genggam milik Jungkook berbunyi. Jungkook pun mengangkatnya.

Yeoboseyo?” ujar Jungkook.

“Jungkook-ah! Ini aku, Yoongi. Kau dan Seokjin kemana saja?” tanyanya sedikit panik. Yoongi yang mendengar isakan tangis yang tak jelas bersumber dari Hyesun . Yoongi pun kembali berujar. “Siapa itu? Apakah itu Taehyung?” tanya Yoongi.

Ani. Itu Hyesun yang menangis melihat Jaekyung.” Balas Jungkook. “Kenapa kau bilang Taehyung? Apa dia juga hilang.” Tanya Jungkook. Mendengar itu, Seokjin mulai mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

Ne, Taehyung juga hilang. Tapi, kenapa Jaekyung bisa hilang?” tanya Yoongi dengan mata terbelalak. Yoongi panik.

“Nanti akan kuceritakan kisahnya. Lindungi dulu Heekyung dan Eunjoo dahulu. Lekaslah kemari sekarang.” Ujar Jungkook. Yoongi yang paham pun segera menutup teleponnya dan melakukan sesuai dengan apa yang di perintahkan Jungkook

Waeyo?” tanya Hyesun.

“Taehyung juga hilang.” Jawab Jungkook singkat. Hyesun kaget.

“Ada yang tidak beres.” Ujar Seokjin. Hyesun hanya menatap takut peristiwa ini.

“Tunggu,” ujar Jungkook sembari mencium sweater bagian bahunya yang terkena air tadi. “Bau darah. Ya, darah. Sweater merah ku ini membuat warna darah tak terlihat.” Ujar Jungkook. Seokjin dan Hyesun terbelalak. Seokjin kembali mencium sweater Jungkook. Jungkook benar.

“Kurasa Taehyung di tikam di lantai paling atas. Lantai tiga di balkon sekolah.” Jelas Seokjin. Tiba-tiba Yoongi, Eunjoo, dan Heekyung pun datang. Mereka bertiga terbelalak melihat salah satu dari temannya yang malang itu. Yoongi pun menghampiri Jaekyung.

“Keadaan darurat. Aku dan Jungkook akan menemukan Taehyung. Jaga yeoja-yeoja ini.” perintah Seokjin kepada Yoongi. Yoongi pun paham.

“Jungkook, tolong selamatkan Taehyung! Kau harus bisa! Kau harus berjanji! Kau tak ingin semua teman kita mati kan?” ujar Hyesun tiba-tiba sembari menarik tangan Jungkook. Semua diam. Sesaat, Jungkook dan Hyesun saling bertatapan penuh makna. Perlahan Hyesun melepaskan tangan Jungkook. Membiarkan Jungkook pergi.

*****

3rd Floor, at 01.22 a.m.

“Itu Taehyung! Dia dengan....” ujar Seokjin sambail berlari menuju Taehyung dan dia yang berada di samping temannya itu. Seokjin melihat jelas Taehyung di terkam.

“Seokjin-ah.” Cegah Jungkook sembari menggenggam kuat lengan Seokjin. “Biar aku saja. Selamatkan Taehyung. Selamatkan teman-teman kita. Selamatkan Hyesun....” Ujar Jungkook. Mata Seokjin pun mulai berkaca.

Ya, Jungkook mengorbankan dirinya.

Perlahan, Jungkook melepaskan tangan Seokjin. Jungkook pun menghampiri Taehyung dan makhluk itu.

Ya!” teriak Jungkook keras. Dia melirik ke arah Jungkook. Jungkook hanya menelan ludah. Dia pun mendekati Jungkook. Dengan cepat, Jungkook memukul dia dengan sebatang kayu yang di ambilnya tadi. Tapi, tentu saja tak mengenai-nya. Dengan tak sabar Makhluk itu memukul balik Jungkook dan mencekik leher Jungkook.

Seokjin? Dia hanya menyaksikan hal tragis yang terjadi pada temannya dari jauh dengan penuh deraian air mata.

Tapi, hanya untuk sesaat.

Seokjin yang mulai geram segera membantu Jungkook.

Ya! Kemarilah!” teriak Seokjin. Jungkook melengah ke arah Seokjin. Dia pun menghampiri Seokjin. Mencekik Seokjin. “Neomu... Neomu...”  ujar Seokjin kaget. Seseorang pun datang menolong Seokjin. Hyesun. Tiba-tiba dia pergi. Hyesun segera menghampiri Seokjin.

Namun, niatnya juga tak tersampaikan. Dia pun muncul kembali. Tepat tersenyum di belakang Hyesun. Mencekik Hyesun.

Namun.....

Jungkook menyelamatkan Hyesun. Jungkook pun di cekik-Nya.

Nuna!” teriak Seokjin kepada-nya. Hantu itu melirih Seokjin dengan kaget. Panggilan itu. Membuat dia sadar apa yang telah di perbuatnya. Hyesun berhenti menangis.

Ya, dialah kakak perempuan Seokjin yang telah tiada itu....

*****

-- Flash Back --

Tanggal 10 Februari 2009. Adalah hari yang amat sial bagi Kim Soojin. Ia tidak lulus di ujian akhirnya. Bukan hanya dikarenakan malas belajar.

Tapi.....

Makhluk itu datang menemaninya.
Semenjak ia duduk di bangku SMA. Semenjak semua temannya membencinya karena iri dengan segala yang ia punya—kecantikan, harta, kepintaran—membuatnya hidup sendiri.

Semua makhluk dapat di lihatnya. Tanpa terkecuali.

Soojin pun mengalami keadaan psikis yang buruk. Belum lagi gagal dalam ujian akhirnya. Tentu mendorongnya melakukan hal yang mengatur takdirnya sendiri. Soojin memutuskan bunuh diri.

Semua warga sekolah tak percaya melihat Soojin terbujur kaku di lantai tiga, kelas Soojin. Berita ini membuat para warga sekolah panik. Sampai akhirnya Hansan High School berubah nama menjadi Jae-gil High School.

Menata ulang sekolah ini. Agar semua berita murni itu tak pernah terungkap lagi dengan mengingat nama Hansan.

Sampai kedua orang tua Soojin tak mengetahui kejadian sebenarnya yang menimpa anaknya itu. Pihak sekolah mengatakan Soojin mengalami kecelakaan di depan sekolahnya. Dan kedua orang tua Soojin percaya akan hal itu.

Melihat kelulusan setiap siswa di Jae-gil High School, membuat Soojin geram.

Graduation Song. Lagu itu adalah puncak kemarahan Soojin. Membuatnya iri setiap kali mendengarnya.

Namun, ada suatu cara membalas semua ini. Membalas perbuatan sekolah yang di bencinya ini. Membalas kepada semua orang yang mengetahui kebenaran, tapi tak menuntut keadilan.

Dari dihantui, menjadi menghantui..........

-- End of Flash Back

*****

“Soojin nuna!” pekik Seokjin lagi.

Dia tertegun. Perlahan dia melirik ke arah Seokjin. Hyesun membatu. Hyesun berusaha memberi ruang kepada-nya untuk mendekati Seokjin.

“Kenapa kau menjadi seperti ini!” Seokjin melembut. Dia pun memegang pipi Seokjin yang di basahi dengan air mata. “Aku adik-mu. Kim Seokjin.” Ujar Seokjin meyakinkan dengan terbata-bata.

Tiupan angin semakin kencang. Bersamaan dengan itu....

Dia pergi......

Seokjin hanya terdiam.

Merangkai semua ingatannya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Tiba-tiba, Yoongi, Eunjoo, Jaekyung, dan Heekyung pun datang. Mereka terdiam melihat keadaan disana.

“Oh, Jaekyung! Kau baik-baik saja?” tanya Hyesun setengah gembira melihat teman yang telah sadar itu. Jaekyung hanya membenarkan.

“Dimana dia?” tanya Yoongi sedikit mengeras.

Dia pergi....” ujar Taehyung sembari bangkit. Semua mata tertuju padanya.

“Kau... masih hidup?” tanya Seokjin setengah gembira.

“Aku hanya berpura-pura mati agar dia puas.” Tutur Taehyung. Semua temannya mulai lega. Lalu, kenapa kau memanggil-nya noona?” tanya Taehyung. Semua mata kini melirik Seokjin. Seokjin tak bisa berkata-kata.

“Hyesun-ah!” teriak seseorang kepada Hyesun. Dia Jungkook. Semua mata pun kini mengarah kepada Jungkook. Mulut Jungkook berdarah. Begitu pula dengan kepalanya. Hyesun dengan lekas menghampiri Jungkook.

“Ah! Mwoya! Jangan mati! Jangan bercanda!” bentak Hyesun cemas. Jungkook hanya tertawa kecil melihat Hyesun yang masih selamat. “Nan saranghaeyo...” Tambah Hyesun melembut.

“Asalkan kau selamat,” papar Jungkook. Sesaat muka Hyesun berwarna merah mendengar itu.

*****

Seokjin House, at 08.00 a.m.
February, 12th 2013

“Seokjin-ah! Aku sudah bilang! Jangan melakukan kemah di sekolah. Lihatlah yang terjadi!” marah eomma-nya. Seokjin hanya melirik heran. “Aku sudah tahu semuanya. Gurumu yang mengatakannya.” Ujar eomma Seokjin melunak.

“Aku istirahat dulu.” Ujar Seokjin sembari masuk ke kamarnya. Eommanya hanya pasrah.

Seokjin tiba di pintu kamarnya. Sesaat, ia melihat pintu kamar nuna-nya yang berada di seberang kamarnya. Seokjin pun memutuskan untuk masuk.

Disana—meskipun sudah empat tahun tak di gunakan—sangat rapi. Hanya ada meja, tempat tidur, rak buku, lemari, dan meja kecil. Semua itu membuat kamar nuna-nya sangat luas. Namun, ada satu hal yang menyita perhatiannya.

Secarik kertas bewarna kuning yang terbang dari luar jendela kamar nuna-nya, dan berhenti tepat di depan kaki Seokjin. Seokjin pun mengambilnya dan memulai membacanya. Seokjin menebak ini semua petunjuk dari nuna-nya. Dan Seokjin benar....

*****

2 : My Lovely Brother, Kim Seokjin.
Fr : U’r sister, Kim Soojin.
February, 11th 2009

Apakabar? Ku harap kau baik saja. Maafkan aku telah meninggalkan kau dan kedua orang tua kita....

10 Februari 2009, adalah hari dimana aku dinyatakan tak lulus. Bukankah aku seorang nuna yang bodoh untukmu?

Tapi, sejujurnya bukan karena kebodohanku. Justru, makhluk itu, sangat menghantuiku. Aku takut....

Dan akhirnya, aku memutuskan untuk bunuh diri, aku tak tahan semua gangguan itu dan semua. Aku takut akan menjadi masalah besar bagi keluarga kita.

Semua itu berawal dari semu temanku yang menggangguku. Aku tak mengerti. Mulai saat itu, aku sendiri. Tanpa teman.

Dan makhluk itu menemaniku. Aku tak tahan. Aku selalu mencoba menjelaskan semua ini. Tapi, makhluk itu menghambatku. Awalnya, aku anggap dialah sahabatku sebenarnya. Tapi, setelah semua terjadi, ku akui dialah pembunuh-ku sebenarnya.

Dengan surat ini, semua alasan aku bunuh diri, aku sampaikan. Aku tak tahu kapan kau akan membaca surat ini. Entah berpuluh-puluh tahun lagi. Atau takkan pernah. Tapi, harapanku hanyalah agar kau mengerti semua ini. Kuharap, kau tak membenciku karena aku meninggalkan kau. Sekian.....

U’r Bad Sister

Kim Soojin

*****

Nuna! Kenapa kau baru menjelaskannya sekarang?” tanya Seokjin. “Kami bahkan tak mengetahui penderitaanmu sebenarnya!” seru Seokjin menyesal. “Dan bunuh diri? Semua orang menganggap kau kecelakaan!” kesal Seokjin. Cerita yang diberikan Yoongi kemarin, ternyata adalah kasus nuna-nya sendiri.

Seokjin menghampiri appa dan eommanya. Mengungkap kebenaran bunuh diri nuna-nya.

Eomma, appa!” ujar Seokjin dengan mata berlinang. Kedua orang tuanya heran melihat anaknya ini. Namun, dengan melihat secarik kertas kuning itu, eomma dan appa-nya pun mulai membaca.

“Kenapa baru sekarang?” tangis eomma-nya.

“Bunuh diri? Selama ini.... Jadi bukan kecelakaan yang di katakan gurunya itu?” tanya appa-nya Seokjin yang mulai geram.

*****

Hospital, at 09.00 a.m.
February, 13th 2013

“Jungkook-ah!” sapa Seokjin kepada temannya yang di rawat itu. Jungkook tersenyum. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Seokjin.

“Tentu saja. Berkat kekuatan cinta Hyesun.” Balas Yoongi yang baru masuk bersama teman-teman yang lainnya. Mereka semua tertawa geli. Wajah Hyesun dan Jungkook berubah menjadi merah. “Bagaimana hasilnya?” tanya Yoongi spontan. Seokjin mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan. “Kasus kematian kakakmu. Kami sudah tahu semuanya.”

“Tentunya mereka dipenjara.” Balas Seokjin santai.

“Bagi yang menutupi kasus bunuh diri kakakmu? Woah, berarti guru-guru disana di masuk penjara juga?” tanya Taehyung bersemangat.

“Tidak semua. Tentu hanya guru-guru yang mengetahui, tapi menyimpannya.” Balas Seokjin santai. “Ah, Hyesun-ah? Ku dengar kau waktu itu menyatakan cintamu pada Jungkook.” Ujar Seokjin mengubah topik pembicaraan.

Jinjayo?” tanya Heekyung tak percaya.

Eodiyo?” tanya Eunjoo. Muka Hyesun dan Jungkook kembali merah.

“Waktu itu.... Ketika Jungkook sekarat.” Balas Yoongi sambil mengulas senyum nakalnya.

“Ah... sudah ku duga! Jungkook, nyatakan perasaanmu pada Hyesun lagi. Aku yakin Hyesun akan menerimamu.” Ujar Heekyung. Jungkook pun malu.

“Hyesun-ah... Would you be my girlfriend?” tanya Jungkook.

Ne,” ujar Hyesun pelan.

“Apa yang kau katakan? Kami tidak mendengarnya,” ujar Taehyung nakal. Hyesun hanya melirik sinis temannya itu.

NE!!!” teriak Hyesun kesal. Semua teman-temannya tertawa geli melihat temannya satu ini.....

- FIN -