Title
: Second Chance – At First
Main Cast : Jeon Jungkook [BTS] | Lee Hyejung [OC] | Min Hanna [OC]
Genre : School-life | Mystery | Romance (Hmm... I think that’s all...)
Rated : General
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : NO PLAGIARISM. NO BASH. NO SILENT READERS.
HAPPY READING!^^
***
Fiksi, merupakan khayalan seseorang untuk membuat cerita
tampak lebih menarik. Sedangkan fakta, adalah peristiwa dimana keadaan
sebenarnya, yang tidak dapat diubah maupun dihapus. Layaknya kehidupan manusia.
Yang lebih dikenal dengan ‘takdir’.
Tapi bagaimana jika kedua pernyataan itu salah? Dengan kata
lain, sesuatu yang bukan merupakan fakta itu hadir di kehidupan manusia. ‘Apa
yang harus kalian lakukan?’
***
Chapter 1
[Dunia yang Sama di Tubuh Berbeda]
Hembusan angin menghampiri kamar Hanna.
Tetapi, tetap saja, yeoja itu tak berkutik sama
sekali.
Ia hanya duduk mematung di depan piano putih miliknya selama 3 jam. Sering kali
ia memainkan tuts-tuts pianonya dengan salah. Berharap bisa memainkan pianonya
dengan sempurna, kini berakhir dengan jari-jarinya yang sakit.
“Aisshhh!”
desahnya sambil memijat lembut tangan mungilnya. Beberapa menit kemudian,
eommanya pun datang.
“Oh, Jaljinaesseo?”
tanya eommanya cemas.
“Ah, ne, nan
gwaenchana,” balasnya.
“Ah, mianhaeyo.
Aku dan terlalu memaksakanku untuk mengikuti kompetisi itu.” Sesal eommanya
dengan memandang sedih anak satu-satunya itu.
“Aniya, dari
awal itu masih salahku.” Sanggah Hanna. Hanna pun mengingat masa lalunya yang
buruk itu.
“Aisshh, itu
sama sekali bukan salahmu,” sanggah eommanya.
“Istirahatlah dulu. Kau sudah berlatih keras memainkan pianomu. Dan jangan
sampai kamu tidak sekolah karena lelah memainkan piano ini, arasseo?” ingat eommanya.
“Ne, arasseo.”
Balasnya. Buaian tangan eommanya pun
datang mengelus kepala Hanna. Hanna pun mengulas senyum simpul kepada eommanya.
Sosok yeoja yang melahirkannya pun kini mulai hilang. Secara perlahan, Hanna
menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Menikmati kenyamanan ranjangnya membuatnya
tertidur pulas, sampai pagi esoknya.
***
Setitik cahaya kecil muncul di balik jendela kamar Hanna. Hanna yang
awalnya tertidur pulas pun kini bangun. Seakan merampas energinya yang telah
hilang di bawa malam, Hanna secara peralahan membuka jendela kemarnya. Seberkas
cahaya pun datang. Dengan penuh bergairah, Hanna menarik nafasnya dalam-dalam,
dan menghembuskannya dengan lembut. Deruan angin pagi yang mengibaskan
rambutnya membuatnya lebih bergairah. ‘Apakah arti dari ini semua?’ tanyanya
dalam hati. Tiada jawaban pasti. Pastinya berkaitan dengan yang baik, atau ini
semua merupakan awal dari yang buruk, bahkan lebih buruk, atau the worst fact.
***
“Hana-yah! Apakah kamu yakin akan berjalan kaki ke sekolahmu?” tanya eomma Hanna sembari melepas
kepergiannya.
“Ne, eomma. Jangan khawatir, aku memiliki feeling baik hari ini. Annyeong!”
pamit Hanna sambil melambaikan sebelah tangannya di udara kepada eommanya. Eommanya hanya pasrah melihat tingkah laku anak satu-satunya ini.
Bayangan Hanna pun kian hilang dari pandangan eommanya. Eommanya hanya
berharap tiada hal buruk yang terjadi padanya.
Hana berjalan menuju sekolahnya. Melihat sekelompok siswa dan siswi Seoul Art High School berjalan
bersama-sama membuatnya mengenang masa lalunya. Pergi dan pulang sekolah
bersama teman sekelasnya, tanpa harus naik mobil hitam kelam dan dikelilingi
oleh pengawal ganas appanya.
Mengingat hal tersebut, Hanna merasa rindu dengan appanya. Hanna pun melihat
arlojinya.
Pukul 07.31. Masih ada waktu setengah jam lagi. Tanpa berpikir panjang, Hanna pergi ke
pemakaman appanya. Letaknya tidak
jauh dari posisi Hanna saat ini. Hanna hanya tinggal menyeberang dan berjalan
untuk beberapa langkah. Hanna pun menyeberang. Tanpa ia sadari sebuah mobil
kencang menabraknya dan....
‘BRUK!’ Hanna jatuh terkapar
dijalan. Badannya kian dibaluti dengan lumuran darah. Untuk detik berikutnya,
akhir hidup yang dramatis bagi Hanna, tepat pada pukul 07.32, Hanna menghembuskan nafas terakhirnya....
***
Hembusan angin laut menderu di telinga seorang yeoja. Mata yang awalnya tertutup, perlahan mulai terbuka. Tapi,
bukan dengan tenaga biasa yang digunakan untuk membukanya. Seolah-olah yeoja itu menggunakan semua tenaganya.
Yeoja itu melihat sekelilingnya. Tiada orang lain. Hanya dia saja. Tiada
bagunan. Hanya pasir dan laut saja. Sejenak yeoja itu berpikir bahwa itu
pantai. Pandangannya sangatlah lepas. Seakan-akan hanya ada tiga hal; air,
pasir, dan udara. Tanpa hal yang lain. Tatapannya kosong seketika. Satu kalimat
pun terucap dalam batin.
‘Dimana aku?’. Seberkas cahaya pun tampak di air. Lama-kelamaan cahaya itu
membesar. Sosok namja berbaju putih pun tampak.
“Neon, Nuguseyo?” tanya yeoja itu.
“Kau tidak perlu tahu aku,” balasnya singkat.
“Lalu apa yang kau lakukan disini?” tanya yeoja itu lagi.
“Hanya menjalankan tugasku.” Balasnya lagi.
“Apa itu?” tanya yeoja itu penuh
rasa penasaran.
“Memberitahumu sesuatu dan memberimu tugas penting.”
***
Perlahan,
pagi membebaskan jeratannya dari malam. Bagaikan semangat baru telah datang
menghampiri seorang yeoja. Seluruh kedinginan malam berganti menjadi pagi yang hangat. Langit pagi pun mulai menyelimuti
keheningan malam. Pagi pun berkobar.
“Ring ding dong ring ding—“ bunyi alarm seorang yeoja yang menggemari boyband SHINee ini.
“Ya!” pekik yeoja yang bernama Hyejung itu. Maklum,
mendengar alarm dengan lagu yang energik ini membuatnya hampir mati terkejut.
Menurutnya lagu ini memanglah cara yang paling tepat untuk membangunkannya.
Setelah menenangkan dirinya, Hyejung pun mematikan alarmnya dan melihat kearah
jam dinding kamarnya. Pukul 07.30. Kali ini ia terlambat lagi. Tanpa berpikir
panjang, Hyejung pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi.
***
Sekarang pukul 07.45.
Masih ada lima belas menit lagi. Hyejung mengikat sepatunya dengan kuat, lalu
berpamitan kepada eommanya.
“Eomma, aku harus cepat pergi ke sekolah, annyeong!” pamitnya singkat.
“Ah, Hyejung-ah! Sarapanlah dulu!” perintah eommanya. Langkah Hyejung pun terhenti.
“Ah, aniya. Lima belas menit lagi bel masuk
akan bunyi. Jadi aku harus cepat.” Ujarnya.
“Kalau begitu pergilah
dengan mobilku, ahjusshi itu akan
mengantarkanmu.” Perintah eommanya
lagi sembari menunjuk seorang namja paruh baya yang kini menjadi pengemudi
mobilnya.
“Ah, jinjayo? Gomawo, eomma!” ujar Hyejung. Hyejung pun segera naik
mobil. Eommanya hanya tertawa geli
melihat anak satu-satunya ini bertingkah seperti akan mati. Ya, sejauh ini Hyejung
telah berusaha untuk tidak bangun telat. Maka sudah sepantasnya eommanya memberinya izin menaiki mobil
miliknya itu.
***
“Ah, akhirnya kau datang tepat
waktu. Bravo!” ujar Jihye, teman Hyejung.
“Itu karena aku diizinkan naik mobil,” sanggah Hyejung.
“Aisshhh! Yang penting kau
sekarang datang lebih awal.” Ujar Jihye. Tiba-tiba seorang namja pun datang,
menghampiri Jihye dan Hyejung.
“Omo omo, Lee Hyejung datang lebih awal? Apakah ini mimpi?” tanya namja
yang bernama Jungkook itu.
“Arrgghh! Ya! Kau seharusnya
memberinya semangat! Aku tak percaya seorang namja sepertimu bisa jadi artis
dan disukai hampir seluruh siswi disini!” celoteh Jihye.
“Mwo? Namja seperti apa yang kau maksud?” tanya Jungkook.
“Kasar, playboy, sok pintar,
dan.... pikirkan saja olehmu!” balas Jihye dengan kasar.
“Aisshhh! Kalian!” geram Jungkook.
Hyejung yang tidak ingin bertengkar pun membawa Jihye pergi dari kerumunan
orang mulai melihat pertengkaran yang biasa terjadi ini. “Ya! Kenapa kalian pergi!” teriak Jungkook yang mulai mengejar. Hyejung
pun mulai menggenggam erat tangan temannya dan membawanya ke toilet yeoja. Langkah Jungkook pun terhenti.
“Ah, untung kau membawaku kesini, kalau tidak akan ku bunuh si playboy itu!” ujarnya. Tiba-tiba Hyejung
dengan sangat erat menggenggam tangan Jihye. Jihye pun heran. Hyejung kini
memeletakkan tangan yang satunya ke dadanya. Bukan hanya sekedar meletakkan,
bahkan meremasnya. Jihye mulai ketakutan. Jihye pun melepaskan genggaman
temannya tersebut dan berlari keluar untuk meminta pertolongan. Tak disangka
semua orang berkumpul, begitu juga dengan Jungkook.
“Hei, lihatlah akhirnya kau keluar juga.” Ujar Jungkook dengan senyum
liciknya. Jihye yang cemas tampak tidak memedulikannya. Jungkook pun geram. “Ya!” pekik Jungkook.
“Ya! Apakah kau tidak bisa
berbicara pelan kepada yeoja? Dan
tidakkah kau berpikir bahwa kelakuan kasarmu itu membuat seorang yeoja menjadi sekarat?”
“Seorang yeoja sekarat?” tanya Jungkook.
“Keurae. Hyejung.” Jihye
membenarkan.
“Mwo? Apakah kau bercanda?” tanya
Jungkook santai. Sebenarnya Jungkook mulai cemas.
“Ani, aku...” tungkas Jihye
terpotong ketika melihat sahabatnya keluar dari toilet. Ya, Hyejung keluar
dengan mulut berdarah. Semua orang yang
menyaksikan terpaku olehnya. Hyejung yang berusaha berjalan kini jatuh tak
sadarkan diri.
***
“Ah, Hyejung-ah! Untunglah kau telah sadar.” Ujar Jihye yang berada di
dekat eomma Hyejung. Eomma Hyejung
pun tampak gembira.
“Hyejung?” tanya Hyejung pelan.
“Ne. Lee Hyejung. Apakah kau lupa ingatan?” tanya eommanya cemas.
“Oh, aniya.” Tanya Hyejung gugup.
“Aku hanya menguji kalian saja.” Ujar Hyejung dengan senyumnya.
“Ah, kau ini, disaat seperti ini, masih saja bercanda. Istirahatlah dulu.”
Pinta eommanya.
“Oh, ne.” Balasnya singkat. Jihye
dan eommanya pun pergi, membiarkan Hyejung beristirahat sendiri. Sesaat, wajah Hyejung
beraut sedih. “Nan mianhaeyo, Lee Hyejung-sshi....”
-TO BE CONTINUED-

New Slots Casino and 100 Free Spins at MGM National Harbor
ReplyDeleteNew Slots 서울특별 출장안마 Casino and 100 Free 순천 출장안마 Spins at MGM National 과천 출장마사지 Harbor Casino · 1st Deposit Match Bonus up to $500 · 2nd 충청북도 출장안마 Deposit Match Bonus 경상남도 출장샵 up to $2,000 · 3rd Deposit Match